Buruh dan karyawan keluar dari Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, 28 Februari 2025. (Sumber Foto : Antara/Mohammad Ayudha)
Buletinmedia.com – Pada awal 2025, sejumlah pabrik di Indonesia terpaksa menghentikan operasionalnya, yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal bagi para karyawannya. Penutupan ini dipicu oleh berbagai tantangan ekonomi, termasuk menurunnya permintaan pasar dan meningkatnya biaya produksi.
Situasi ini membawa dampak besar bagi ribuan pekerja yang kehilangan mata pencaharian, menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ketenagakerjaan di sektor industri. Sebagian besar pabrik yang terdampak berasal dari sektor manufaktur dan tekstil, yang selama ini menjadi pilar ekonomi di beberapa daerah.
Beberapa perusahaan memilih melakukan PHK untuk menekan biaya operasional, sementara yang lain mengalihkan produksinya ke luar negeri.
Berikut daftar perusahaan yang menutup pabriknya dan melakukan PHK di awal 2025:
1.Sritex
PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menutup operasionalnya pada 1 Maret 2025, menyebabkan lebih dari 10 ribu pekerja kehilangan pekerjaan. Keputusan ini diambil setelah perusahaan dinyatakan tidak memiliki prospek keberlanjutan usaha dalam rapat kreditur kepailitan. Kurator yang menangani Sritex menyebut kurangnya modal kerja, tingginya biaya produksi, serta risiko kerugian sebagai alasan utama. Seluruh karyawan diberhentikan pada 26 Februari 2025, dengan hari kerja terakhir pada 28 Februari 2025.
2.Sanken Indonesia
Pabrik Sanken yang berlokasi di kawasan industri MM2100, Cikarang, akan berhenti beroperasi pada Juni 2025. Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa penutupan ini dilakukan atas keputusan induk perusahaan di Jepang, yang ingin memindahkan produksi ke negaranya untuk lebih berfokus pada industri semikonduktor. Produksi di pabrik ini telah mengalami penurunan drastis dengan tingkat utilitas hanya 14 persen pada 2024.
3.Yamaha
Dua pabrik piano Yamaha di Indonesia akan ditutup pada 2025, mengakibatkan 1.100 pekerja terdampak PHK. Pabrik PT Yamaha Music Product Asia di Bekasi akan ditutup pada Maret 2025, sementara PT Yamaha Indonesia di Pulo Gadung akan berhenti beroperasi pada Desember 2025. Yamaha memutuskan untuk memindahkan produksi ke China dan Jepang akibat melemahnya permintaan pasar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menanggapi fenomena ini dengan menyatakan bahwa industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif, meskipun kasus penutupan pabrik dan PHK tetap perlu dikaji lebih lanjut. Ia menyoroti pentingnya memahami penyebab utama PHK dan relokasi produksi, apakah dipengaruhi oleh faktor manajemen, persaingan, atau kondisi lainnya.
