Mythomania adalah fenomena psikiatris yang ditandai dengan kebiasaan berbohong yang persisten, meluas, dan seringkali kompulsif.(Dok. Freepik/diana.grytsku)
Buletinmedia.com – Istilah mythomania sedang ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok. Banyak pengguna membagikan cerita tentang pengalaman mereka bertemu orang yang dianggap sering berbohong secara kompulsif. Bahkan, tak sedikit yang mulai bertanya-tanya apakah mereka sendiri mengalami kondisi tersebut.
Menurut psikolog klinis Angellia Lestari Christiani, mythomania atau pseudologia fantastica adalah kondisi psikologis ketika seseorang terus-menerus berbohong tanpa alasan yang jelas dan mulai mempercayai kebohongannya sendiri. “Batas antara kebohongan dan kenyataan jadi kabur, hingga mereka sendiri yakin dengan cerita palsu yang dibuat,” ujarnya.
Angellia menjelaskan bahwa mythomania tidak hanya berdampak pada penderitanya, tetapi juga pada orang-orang di sekitarnya. Kebohongan yang terus-menerus dapat mengikis kepercayaan dan menimbulkan rasa kecewa. Dalam lingkungan kerja, misalnya, orang seperti ini bisa kehilangan kredibilitas karena dianggap manipulatif atau tidak jujur terhadap pencapaian.
Dampaknya juga berat bagi penderita mythomania. Mereka sering mengalami konflik batin, rasa cemas berlebihan, hingga stres karena harus menjaga konsistensi kebohongan agar tidak terbongkar. Kondisi ini bisa membuat hidup terasa berat karena terus berada dalam tekanan untuk mempertahankan cerita palsu.
Meski belum banyak dibicarakan secara terbuka, Angellia menekankan pentingnya kesadaran tentang mythomania agar orang bisa memahami bahwa kebohongan patologis adalah kondisi yang bisa ditangani dengan pendekatan psikologis yang tepat. Ia mendorong siapa pun yang merasa terdampak baik sebagai pelaku atau orang terdekat untuk mencari bantuan profesional.
