Ilustrasi hacker.(Shutterstock)
Buletinmedia.com – Sejumlah aplikasi populer yang digunakan di ponsel Android dan iPhone ternyata berasal dari perusahaan yang didirikan oleh mantan personel militer dan intelijen Israel, termasuk dari unit cyber elit IDF, yakni Unit 8200. Aplikasi-aplikasi tersebut tampak seperti aplikasi biasa seperti editor foto, game kasual, hingga alat transportasi—namun telah diunduh miliaran kali secara global, termasuk oleh pengguna di Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan sangat dikenal, seperti Waze dan Moovit.
Menurut laporan TechTrends yang dirilis pada 3 Juli 2025, banyak perusahaan di balik aplikasi-aplikasi ini memiliki keterkaitan langsung dengan ekonomi militer Israel. Perusahaan-perusahaan tersebut disebut kerap menyisipkan adware, pelacak, bahkan mengambil data pribadi pengguna. ZipoApps, misalnya, dikenal membuat aplikasi seperti Collage Maker dan Simple Gallery dan telah dikritik karena mengubah aplikasi gratis menjadi platform beriklan dan pelacak setelah diakuisisi. Pendirinya merupakan mantan anggota Unit 8200.
Daftar aplikasi lainnya termasuk Facetune dari Lightricks, Bazaart, Supersonic, Playtika, dan Crazy Labs, yang semuanya melibatkan mantan anggota militer atau intelijen Israel sebagai pendiri atau tim utama. Tak hanya aplikasi editing dan game, aplikasi transportasi seperti Moovit dan Gett juga masuk dalam daftar. Bahkan CallApp, yang dikenal sebagai penyaring panggilan, dilaporkan dikembangkan oleh mantan Unit 8200 dan kini telah memiliki lebih dari 100 juta pengguna.
Sejumlah aplikasi tersebut dituding mengubah kebijakan privasi secara diam-diam setelah diakuisisi, serta tidak transparan dalam memberikan pilihan opt-in untuk pelacakan data. Karena itu, pengguna disarankan lebih berhati-hati dalam menginstal aplikasi baru, terutama yang berasal dari pengembang yang kurang dikenal. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain memeriksa nama pengembang di toko aplikasi, melihat latar belakang perusahaan di LinkedIn atau Crunchbase, dan memilih aplikasi open-source yang lebih transparan.
Meskipun menuai banyak kritik, sebagian besar aplikasi ini tetap populer dan terus berkembang. Promosi besar-besaran serta kolaborasi dengan platform global seperti Google dan Facebook membuat mereka tetap eksis di pasaran. Di tengah kekhawatiran privasi digital, penting bagi pengguna untuk lebih peduli pada asal-usul aplikasi yang mereka gunakan serta dampaknya terhadap keamanan data pribadi.
