Logo aplikasi TikTok dalam layar smartphone. / Bloomberg-Gabby Jones
Buletinmedia.com – Nasib TikTok di Amerika Serikat kembali berada di ujung tanduk. Aplikasi media sosial asal China ini terancam diblokir sepenuhnya dari pasar AS jika pemerintah China tidak menyetujui kesepakatan penjualannya kepada perusahaan Amerika. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, dalam wawancara televisi pada Kamis (24/7/2025), menegaskan bahwa Amerika harus memiliki kendali penuh atas teknologi dan algoritma TikTok untuk menjaga keamanan data warganya yang jumlahnya mencapai 170 juta pengguna.
Menurut Lutnick, ByteDance sebagai induk TikTok, masih bisa memiliki sebagian kepemilikan, begitu pula China, namun kendali utama tetap harus berada di tangan Amerika. Ia menegaskan bahwa teknologi yang digunakan oleh TikTok terlalu penting untuk dibiarkan di bawah pengaruh asing, terutama di tengah ketegangan geopolitik antara AS dan China. “Jika China tidak menyetujui kesepakatan ini, TikTok akan diblokir. Aplikasi itu akan ‘gelap’ di AS,” kata Lutnick. Pemerintah AS menilai bahwa akses data pengguna oleh pihak asing merupakan ancaman serius terhadap keamanan nasional.
Pemerintahan Donald Trump sendiri telah memperpanjang tenggat waktu penjualan TikTok hingga 17 September 2025, meskipun undang-undang yang disahkan tahun lalu sebenarnya menetapkan batas penjualan atau penutupan aplikasi pada 19 Januari 2025. Perpanjangan ini dilakukan untuk memberikan waktu bagi tercapainya kesepakatan bisnis antara ByteDance dan investor Amerika. Salah satu rencana yang sempat muncul adalah membentuk entitas baru untuk mengelola TikTok di AS, namun upaya itu terhambat karena pemerintah China menolak menyetujui transfer teknologi.
Sementara itu, pemerintah AS terus mengambil langkah-langkah persiapan. Jaksa Agung AS, Pam Bondi, sudah mengirimkan surat ke perusahaan seperti Apple dan Google, menyatakan bahwa mereka tidak akan dituntut jika TikTok dihapus dari platform mereka. Ini menegaskan keseriusan pemerintah AS dalam melaksanakan blokir jika penjualan tak disetujui. Meski demikian, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mempertanyakan legalitas perpanjangan tenggat waktu yang diberikan, serta transparansi proses penjualan TikTok kepada investor AS.
Dengan meningkatnya tensi perdagangan antara Amerika Serikat dan China, serta belum adanya sinyal persetujuan dari Beijing, TikTok kini berada di ambang pemblokiran total dari pasar AS. Jika pemerintah China tetap menolak kesepakatan penjualan, maka bukan tidak mungkin TikTok akan segera ditarik dari App Store dan Play Store di wilayah Amerika, mengakhiri perjalanan panjangnya di salah satu pasar terbesarnya. Hal ini menunjukkan betapa erat kaitannya isu teknologi dan keamanan dengan politik global saat ini.
