Ilustrasi IMF. Foto: AFP/Oliver Doullery
Buletinmedia.com – Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan keprihatinannya terhadap kebijakan tarif baru yang diumumkan Amerika Serikat. Dalam pernyataan resmi yang dikutip Reuters pada Jumat (11/7), IMF menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih tinggi dan menyerukan kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas perdagangan dunia. “Perkembangan terkait perdagangan terus berubah, dan ketidakpastian masih tinggi,” ujar juru bicara IMF.
Peringatan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gelombang baru tarif impor pada Rabu (9/7). Pemerintah AS menetapkan tarif sebesar 50% untuk impor tembaga dari dalam negeri serta produk dari Brasil dan 21 negara lainnya. Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Agustus mendatang. Langkah ini memicu kekhawatiran global karena berpotensi mengganggu rantai pasok dan melemahkan aktivitas manufaktur di banyak negara, termasuk di kawasan Asia dan Eropa.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan tekanan mulai dirasakan sektor manufaktur, meskipun beberapa industri masih menunjukkan ketahanan. Analis mencatat bahwa kebijakan ini dapat menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan yang harus menyesuaikan strategi mereka di tengah ketidakpastian perdagangan global. Sementara itu, pemerintah AS berargumen bahwa kebijakan tarif tidak berdampak langsung pada inflasi dan akan diimbangi dengan pemotongan pajak.
IMF sebelumnya telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk untuk Amerika Serikat dan China. Laporan tersebut menyoroti bahwa ketegangan dagang yang dipicu kebijakan tarif AS telah mencapai level tertinggi dalam satu abad terakhir. Meski aktivitas ekonomi sempat meningkat karena penimbunan barang sebelum tarif diberlakukan, IMF tetap menilai bahwa dampak jangka panjang dari kebijakan ini bisa menghambat laju pertumbuhan global.
IMF dijadwalkan akan merilis pembaruan laporan World Economic Outlook pada akhir Juli, menjelang tenggat negosiasi dagang AS dengan mitra-mitra strategisnya. Meski ada sedikit optimisme setelah AS dan China menahan diri dari saling menaikkan tarif, para ekonom menilai ketidakpastian tetap tinggi. Besarnya dampak dari kebijakan tarif Trump kemungkinan baru akan terasa secara signifikan di paruh kedua tahun ini.
