sumber illustrasi : freepik
Di era digital saat ini, penggunaan gadget seperti handphone (HP) tidak hanya menjadi alat bantu belajar, tapi juga berpotensi besar menjadi pengganggu konsentrasi anak. Bahkan, meski tidak sedang digunakan secara aktif, kehadiran gadget di sekitar anak bisa memicu gangguan perhatian yang cukup signifikan.
Menurut Mutia Aprilia Permata Kusumah, M.Psi., psikolog anak dan remaja dari Klinik Nest dan TigaGenerasi, HP kini menjadi sumber utama distraksi dalam proses belajar anak. Hal itu disampaikan dalam wawancara bersama Kompas.com, di mana Mutia menjelaskan bahwa getaran kecil atau sekadar notifikasi visual saja sudah cukup untuk membuat fokus anak buyar.
“Bahkan kalau HP-nya tidak berbunyi, hanya bergetar atau menampilkan notifikasi di layar, itu sudah cukup untuk mengalihkan perhatian anak dari pelajaran,” ujar Mutia.
Fokus Anak Mudah Terganggu, Energi Kognitif Terkuras
Mutia memaparkan, transisi fokus dari pelajaran ke gadget, meski hanya berlangsung beberapa detik, tetap memakan energi kognitif. Artinya, anak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa kembali ke ritme belajar semula. Bila gangguan ini terjadi berulang kali, efektivitas belajar pun bisa turun drastis.
Gangguan tak hanya datang dari luar (notifikasi), tetapi juga dari dorongan internal anak sendiri. Saat anak merasa jenuh atau tidak mengerti pelajaran, HP sering jadi pelarian: mereka membuka galeri, bermain aplikasi, atau sekadar mencari hiburan sesaat. Akibatnya, proses belajar terganggu tanpa disadari.
Tak Hanya Anak, Orang Dewasa pun Terkena Dampak
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya dialami anak-anak. Mutia menegaskan bahwa orang dewasa pun mengalami distraksi serupa ketika sedang bekerja atau berkonsentrasi. Karena itu, ia menyarankan agar lingkungan belajar—baik di rumah maupun di sekolah—harus dibuat lebih kondusif dengan meminimalkan gangguan digital.
Bekasi Larang HP untuk Pelajar SD dan SMP, Psikolog Setuju
Kebijakan larangan membawa HP ke sekolah baru-baru ini diterapkan oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dan akan berlaku mulai tahun ajaran baru pertengahan Juli 2025. Kebijakan ini menyasar siswa SD dan SMP untuk mendorong kembali pembelajaran konvensional dan mengurangi distraksi gadget saat proses belajar-mengajar.
“Mulai pertengahan Juli sudah tidak ada lagi anak SD dan SMP membawa HP ke sekolahnya,” ujar Tri.
Menanggapi kebijakan tersebut, Mutia mendukung penuh. Ia menyebut, meniadakan HP dari lingkungan sekolah berpotensi besar untuk mengembalikan fokus anak dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyerap materi pelajaran.
Peran Sekolah dan Orangtua Sangat Penting
Namun demikian, larangan penggunaan HP harus dibarengi dengan dukungan sistem yang memadai, baik dari sekolah maupun orangtua. Sekolah perlu menyediakan alternatif pembelajaran digital yang tidak mengandalkan HP pribadi siswa. Sementara orangtua harus memastikan komunikasi tetap berjalan, misalnya melalui sistem penjemputan anak yang teratur dan aman.
Di rumah, Mutia menyarankan agar orangtua membuat aturan waktu dan tempat penggunaan gadget. Contohnya: melarang anak menggunakan HP saat makan, menjelang tidur, atau saat waktu belajar.
