tangkapan layar/apl;ikasiX
Iran meluncurkan gelombang serangan rudal yang belum pernah terjadi sebelumnya ke wilayah Israel pada Rabu malam (18 Juni 2025), sebagai bagian dari fase ke-12 Operasi True Promise III, menyusul serangan intensif Israel ke wilayah Republik Islam tersebut pada 13 Juni lalu. Serangan balasan ini menandai penggunaan pertama rudal balistik dua tahap Sejjil—rudal ultra-berat yang melambangkan peningkatan tajam dalam kemampuan ofensif Iran.
Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), target utama serangan adalah pusat-pusat vital Israel, termasuk Tel Aviv, instalasi logistik utama, markas besar intelijen Mossad, dan infrastruktur strategis seperti pembangkit listrik. Meski sebagian besar wilayah sipil telah dikosongkan, sirene peringatan terdengar menggema di kota-kota besar seperti Tel Aviv, Haifa, Netanya, dan Hashfula, mendorong warga untuk berlindung di bunker bawah tanah.
IRGC merilis pernyataan resmi yang memperingatkan para pemukim Israel agar segera meninggalkan wilayah pendudukan. Mereka menyebut serangan ini bukan sekadar aksi balasan, melainkan “pembuka gerbang neraka” bagi rezim Zionis. Serangan ini juga dilakukan hanya beberapa jam setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, menyampaikan pesan yang menggelorakan tekad bangsa Iran untuk tidak tunduk terhadap tekanan atau paksaan eksternal dalam bentuk apa pun.
Media sosial dipenuhi rekaman yang menunjukkan lintasan rudal di langit malam dengan pola yang tidak biasa, diduga sebagai upaya untuk menghindari sistem pertahanan udara berlapis milik Israel. Beberapa rudal, termasuk varian generasi baru, berhasil menembus pertahanan dan menghantam target secara presisi.
Laporan dari surat kabar Israel Yedioth Ahronoth menyebutkan bahwa pola serangan Iran kali ini sangat di luar kebiasaan dan berhasil mengecoh sistem pertahanan udara yang didukung oleh Amerika Serikat. IRGC menegaskan bahwa pertahanan udara Israel kini berada dalam kondisi lelah dan terbuka, memungkinkan kontrol penuh rudal dan drone Iran di langit wilayah pendudukan.
Sebelumnya pada hari Selasa, IRGC juga menyatakan bahwa mereka telah menghancurkan pusat intelijen militer Israel yang berafiliasi dengan Mossad dan Aman, serta menyerang pangkalan jet tempur milik militer Israel. Dalam narasi kerasnya, IRGC memperingatkan bahwa para pemukim kini menghadapi pilihan hidup yang ekstrem—tetap bersembunyi di bunker dan menanti kehancuran, atau kembali ke tanah leluhur mereka.
Gelombang serangan ini merupakan respons terhadap serangan mendadak Israel yang menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk komandan militer senior, ilmuwan nuklir, serta warga sipil tak berdosa, di antaranya perempuan dan anak-anak.
Pernyataan penutup dari Mayor Jenderal Sayyid Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, mempertegas niat Iran untuk meningkatkan skala balasan jika eskalasi terus terjadi. Ia menyebut bahwa sejak Jumat lalu, Iran baru menjalankan operasi bersifat pencegahan, dan “hukuman yang sesungguhnya” akan datang jika Israel tidak menghentikan agresinya.
