(Pixabay/qazyamyam0)
“Asinya keluar nggak?”
Pertanyaan ringan itu meluncur begitu saja dari bibir ibu mertua ketika mendengar tangisan cucunya yang belum genap seminggu lahir. Tapi bagi saya, pertanyaan itu seperti paku yang menghujam dada—penuh rasa bersalah, marah, dan lelah yang tertumpuk dalam senyap.
Saya masih beradaptasi sebagai ibu baru. Tubuh saya belum sepenuhnya pulih dari persalinan, tetapi mental saya sudah lebih dulu diuji. Menyusui bukanlah momen lembut dan penuh cinta seperti di poster rumah sakit. Ini medan perjuangan. Dan saya berdarah-darah di dalamnya—secara harfiah dan emosional.
Saya datang dengan pengetahuan. Membaca buku, ikut kelas menyusui, menonton video laktasi. Tapi saat si kecil lahir, semua teori itu serasa lenyap. Nyatanya, bayi saya mengalami lip-tie, dan proses pelekatan menyusui berubah menjadi siksaan.
Puting saya radang, nyeri hebat menjalar tiap kali si kecil menempel. Air mata bukan lagi karena haru, tapi karena sakit yang menggigit dan tak kunjung mereda. Payudara kiri saya menyerah duluan. Luka terbuka membuat saya hanya bisa mengandalkan sisi kanan.
Ketika saya tengah berjuang dengan teknik menyusui, menyembunyikan rintih dalam diam, komentar orang-orang terdekat justru menambah luka. Ibu mertua menawarkan susu formula, menyiratkan bahwa ASI saya tak cukup. Bahkan ipar-ipar saya pun seolah meragukan kemampuan saya menjadi seorang ibu.
“Kalau deras, itu ASI sampai muncrat,” ucap ibu mertua lagi sambil membuka pintu kamar tanpa permisi. Suami saya berdiri di ambang pintu, berusaha menjadi perisai. Tapi suara itu tetap masuk ke telinga saya—dan lebih dalam lagi, ke hati.
Saya tidak marah. Saya juga tidak membalas. Tapi saya merasa remuk.
Setiap kali si kecil menangis, saya mulai dihantui rasa takut. Takut dianggap gagal. Takut dihakimi. Dan lama-kelamaan, saya pun jadi tidak sabar pada bayi saya sendiri—makhluk mungil yang belum bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis sebagai bentuk komunikasinya.
Saya mengalami baby blues.
Hari-hari saya diwarnai sedih, kehilangan selera makan, dan rasa hampa. Akibatnya, berat badan bayi saya tak naik sesuai standar. Lalu datang vonis dari dokter: tambahkan susu formula.
Saya tahu susu formula bukan musuh. Tapi saat itu, saya merasa ditampar realitas. Saya menangis sambil memandangi wajah mungil anak saya. Komentar-komentar tempo hari kembali menggema di kepala. Saya merasa gagal, tak cukup, dan tak layak.
Suami saya pun pernah bertanya soal ASI, dan meski ia bermaksud baik, pertanyaannya terasa seperti keraguan. Saya sempat berpikir: “Mengapa bahkan kamu tidak bisa melihat perjuangan saya?”
Namun di tengah keterpurukan itu, saya belajar menggali lebih dalam: kenapa saya sangat terusik? Karena saya merasa, keputusan saya sebagai ibu tak dipercayai. Saya merasa kewenangan saya sebagai orang tua direnggut oleh ekspektasi, tradisi, dan komentar.
Kini saya masih belajar menjadi ibu yang lebih kuat. Satu doa yang terus saya panjatkan adalah agar suatu saat saya mampu punya ruang sendiri. Tempat aman untuk saya, suami, dan si kecil—tanpa interupsi yang mematahkan.
Karena saya yakin, setiap orang tua punya jalannya masing-masing.
Anak saya, ya cara saya.
Saya tak ingin mengulang pola yang membuat saya merasa kecil. Saya berpegang pada sabda Nabi Muhammad:
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.”
Dan zaman ini, bukan lagi tentang siapa yang paling keras bicara. Tapi tentang siapa yang paling bisa mendengar dan mendukung.
