Nasi Goreng (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Onigiri selama ini dikenal sebagai salah satu makanan yang paling lekat dengan kehidupan masyarakat Jepang. Bentuknya sederhana, mudah dibawa, dan tersedia hampir di berbagai tempat, mulai dari minimarket, stasiun kereta, hingga toko makanan.
Namun, anggapan bahwa onigiri menjadi makanan nasi yang paling disukai masyarakat Jepang ternyata tidak sepenuhnya tepat.
Sebuah survei terbaru menunjukkan fakta menarik mengenai selera masyarakat Jepang terhadap berbagai hidangan berbahan dasar nasi. Hasil survei tersebut justru menempatkan nasi goreng atau chahan sebagai makanan nasi yang paling disukai, mengungguli onigiri dan katsudon.
Menurut laporan Nippon.com, Senin (7/9/2026), temuan tersebut berasal dari survei nasional yang dilakukan oleh Nichirei Foods pada Juni 2026.
Survei tersebut melibatkan 14.097 responden berusia 20 hingga 79 tahun yang berasal dari berbagai wilayah di Jepang. Para responden diminta memilih beberapa hidangan nasi yang paling mereka sukai dari daftar makanan yang telah disediakan.
Hasilnya cukup menarik. Chahan mendapatkan tingkat kesukaan sebesar 69,9 persen dan menempati posisi pertama. Onigiri berada di posisi kedua dengan 63 persen, sedangkan katsudon menempati peringkat ketiga dengan 60,1 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa nasi goreng memiliki tempat yang cukup kuat dalam kebiasaan makan masyarakat Jepang.
Nasi Goreng Jadi Makanan Nasi Favorit di Jepang
Chahan atau nasi goreng Jepang berhasil menjadi makanan nasi dengan tingkat kesukaan tertinggi dalam survei Nichirei Foods.
Angka 69,9 persen menunjukkan bahwa hampir tujuh dari 10 responden memilih chahan sebagai salah satu makanan nasi yang mereka sukai.
Posisi tersebut cukup menarik karena nasi goreng bukanlah makanan yang secara umum dianggap sebagai makanan tradisional Jepang.
Berbeda dengan onigiri yang memiliki sejarah panjang dalam budaya makanan Jepang, chahan memiliki hubungan erat dengan pengaruh kuliner China.
Meski demikian, nasi goreng telah mengalami proses adaptasi sehingga memiliki karakter tersendiri ketika dibuat dan disantap di Jepang.
Bahan-bahan yang digunakan juga relatif sederhana. Nasi menjadi bahan utama, kemudian dicampur dengan telur, daun bawang, daging, sayuran, serta bumbu tertentu.
Kesederhanaan inilah yang membuat chahan mudah dibuat di rumah.
Nasi yang tersisa dari makanan sebelumnya juga dapat digunakan untuk membuat nasi goreng. Hal tersebut membuat chahan menjadi hidangan yang praktis sekaligus ekonomis.
Dalam kehidupan sehari-hari, makanan seperti ini tentu memiliki daya tarik tersendiri.
Masyarakat tidak membutuhkan banyak bahan atau waktu panjang untuk membuatnya. Nasi, telur, daun bawang, dan beberapa bahan tambahan sudah cukup untuk menghasilkan satu porsi chahan.
Chahan Kalahkan Onigiri dan Katsudon
Dalam survei Nichirei Foods, persaingan tiga makanan nasi teratas cukup menarik.
Chahan berada di peringkat pertama dengan angka 69,9 persen.
Kemudian onigiri menyusul dengan 63 persen.
Sementara itu, katsudon berada di posisi ketiga dengan 60,1 persen.
Selisih antara chahan dan onigiri mencapai hampir tujuh poin persentase. Sementara dibandingkan katsudon, selisihnya hampir 10 poin.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa popularitas makanan nasi di Jepang tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat makanan tersebut menjadi simbol budaya Jepang.
Onigiri memang sangat identik dengan Jepang. Bentuknya juga mudah dikenali oleh masyarakat dari berbagai negara.
Namun, ketika masyarakat Jepang ditanya mengenai makanan nasi yang paling mereka sukai, chahan justru memperoleh suara lebih tinggi.
Hal tersebut dapat menjadi gambaran bahwa makanan yang sederhana dan mudah disesuaikan dengan selera memiliki peluang besar untuk menjadi favorit.
Chahan dapat dibuat dengan berbagai bahan.
Seseorang bisa menambahkan daging, sayuran, telur, atau bahan lain sesuai selera.
Variasi tersebut membuat nasi goreng tidak terasa monoton meskipun dikonsumsi secara rutin.
Bukan Pertama Kali Chahan Menjadi Juara
Posisi pertama yang diraih chahan dalam survei 2026 ternyata bukan sebuah kejutan baru.
Hidangan tersebut juga pernah menjadi juara dalam survei Nichirei Foods pada 2020 dan 2024.
Artinya, popularitas nasi goreng di Jepang bukan sekadar fenomena sesaat.
Chahan secara konsisten berada di posisi teratas dalam beberapa survei yang dilakukan dalam rentang waktu berbeda.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa nasi goreng telah memiliki tempat yang kuat dalam selera masyarakat Jepang.
Ada kemungkinan bahwa salah satu faktor yang membuatnya tetap populer adalah fleksibilitas.
Chahan dapat disesuaikan dengan bahan yang tersedia di rumah.
Jika memiliki sisa daging, bahan tersebut dapat digunakan.
Jika tersedia sayuran, sayuran juga dapat dimasukkan.
Telur menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan.
Bumbu juga dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing orang.
Karakter seperti itu membuat chahan tidak memiliki satu bentuk yang benar-benar kaku.
Setiap rumah bahkan dapat memiliki versi nasi goreng sendiri.
Apa Itu Chahan?
Chahan merupakan istilah yang digunakan di Jepang untuk menyebut nasi goreng.
Hidangan ini memiliki pengaruh kuat dari masakan China, terutama tradisi memasak nasi dengan cara digoreng bersama berbagai bahan.
Dalam perkembangannya, chahan menjadi bagian dari budaya kuliner Jepang.
Secara umum, bahan dasar chahan terdiri dari nasi, telur, daun bawang, serta berbagai bahan tambahan.
Daging yang digunakan dapat berupa daging babi, ham, sosis, bacon, maupun char siu.
Sayuran juga dapat ditambahkan sesuai selera.
Cara membuatnya pun cukup sederhana.
Nasi digoreng dalam wajan dengan bahan-bahan yang telah disiapkan.
Telur biasanya dimasukkan pada tahap tertentu agar menghasilkan tekstur yang sesuai.
Daun bawang kemudian memberikan aroma dan rasa khas.
Meskipun terlihat sederhana, membuat chahan yang enak membutuhkan teknik tertentu.
Salah satunya adalah mengatur suhu saat memasak.
Nasi yang digunakan juga berpengaruh terhadap hasil akhir.
Nasi yang terlalu basah dapat membuat chahan menjadi lembek, sedangkan nasi dengan tekstur yang tepat akan menghasilkan butiran yang lebih terpisah.
Karena itulah, nasi goreng yang terlihat sederhana tetap memiliki teknik memasak tersendiri.
Telur dan Daun Bawang Jadi Bahan Penting
Survei Nichirei Foods juga mengungkap kebiasaan masyarakat Jepang ketika membuat chahan di rumah.
Dari berbagai bahan yang digunakan, telur dan daun bawang atau negi menjadi dua bahan yang dianggap penting di berbagai wilayah Jepang.
Keduanya dapat dikatakan sebagai bagian yang sangat umum dalam pembuatan chahan.
Telur memberikan rasa gurih sekaligus tekstur lembut.
Sementara daun bawang memberikan aroma dan rasa segar yang membantu menyeimbangkan rasa nasi goreng.
Kombinasi tersebut sederhana, tetapi mampu menghasilkan hidangan yang cukup lengkap.
Selain telur dan daun bawang, bahan berbasis daging juga banyak digunakan.
Masyarakat Jepang cenderung menggunakan bahan dari daging babi untuk membuat chahan.
Beberapa bahan yang populer antara lain sosis ala Jepang, ham, char siu, dan bacon.
Penggunaan bahan tersebut juga membuat rasa nasi goreng menjadi lebih gurih.
Bagi masyarakat yang ingin membuat chahan sebagai makanan utama, tambahan protein dari telur dan daging membuat hidangan tersebut lebih mengenyangkan.
Sayuran yang Sering Digunakan
Selain daging, sayuran juga menjadi bagian penting dalam chahan.
Beberapa sayuran yang umum digunakan adalah paprika hijau, wortel, dan selada.
Wortel memberikan rasa sedikit manis sekaligus warna yang membuat tampilan nasi goreng lebih menarik.
Paprika hijau memberikan aroma dan rasa khas.
Sementara selada dapat digunakan sebagai pelengkap atau dicampurkan ke dalam nasi goreng.
Penggunaan sayuran tersebut menunjukkan bahwa chahan dapat dibuat dengan berbagai kombinasi bahan.
Tidak ada satu resep yang harus selalu digunakan.
Masyarakat dapat menyesuaikan bahan berdasarkan selera dan ketersediaan di rumah.
Karakter fleksibel inilah yang menjadi salah satu alasan chahan mudah diterima.
Selera Chahan Berbeda di Setiap Wilayah Jepang
Meskipun chahan populer secara nasional, cara masyarakat Jepang menikmatinya tidak selalu sama.
Survei tersebut menunjukkan adanya perbedaan pilihan bahan berdasarkan wilayah.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa budaya makanan Jepang sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal.
Setiap daerah memiliki bahan yang lebih mudah ditemukan dan kebiasaan makan yang berbeda.
Di Nara dan Wakayama, misalnya, jagung manis cukup populer digunakan sebagai campuran nasi goreng.
Jagung memberikan rasa manis sekaligus tekstur yang berbeda.
Bahan tersebut juga dapat memberikan warna lebih cerah pada hidangan.
Sementara itu, masyarakat di Tochigi dan Yamaguchi diketahui menggunakan rebung sebagai salah satu bahan tambahan.
Rebung memberikan tekstur renyah yang membuat nasi goreng memiliki sensasi berbeda ketika dimakan.
Penggunaan bahan lokal seperti ini menunjukkan bagaimana sebuah hidangan yang berasal dari pengaruh kuliner luar dapat beradaptasi dengan karakter daerah masing-masing.
Buncis dan Zasai Juga Digunakan
Di wilayah Yamaguchi dan Okinawa, bahan tambahan yang digunakan dalam chahan juga cukup beragam.
Buncis menjadi salah satu bahan yang dikenal digunakan dalam hidangan tersebut.
Selain itu, terdapat pula penggunaan zha cai atau zasai, yakni acar sawi khas China.
Penggunaan zasai memperlihatkan kembali hubungan antara chahan dan pengaruh kuliner China.
Acar tersebut memiliki rasa dan tekstur yang khas sehingga dapat memberikan karakter berbeda pada nasi goreng.
Menariknya, bahan yang berasal dari tradisi kuliner China tersebut justru telah menjadi bagian dari variasi chahan di Jepang.
Hal ini menunjukkan bagaimana makanan dapat mengalami perubahan ketika masuk ke budaya yang berbeda.
Sebuah hidangan tidak selalu dipertahankan dalam bentuk aslinya.
Masyarakat setempat dapat menyesuaikannya dengan bahan, selera, dan kebiasaan makan yang sudah ada.
Nattō Jadi Campuran Nasi Goreng di Jepang
Variasi lain yang cukup unik ditemukan di wilayah utara Tokyo.
Di kawasan tersebut, nattō juga kerap digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat nasi goreng.
Nattō merupakan makanan hasil fermentasi kedelai yang terkenal memiliki tekstur lengket serta aroma khas.
Bagi sebagian orang, nattō merupakan makanan yang cukup sulit diterima karena karakter aromanya.
Namun, bagi masyarakat Jepang, nattō merupakan salah satu makanan tradisional yang memiliki tempat tersendiri.
Ketika digunakan dalam nasi goreng, nattō menghasilkan kombinasi rasa dan tekstur yang berbeda.
Hidangan tersebut dikenal sebagai nattō chahan.
Penggunaan nattō menunjukkan bahwa chahan dapat beradaptasi dengan bahan makanan yang sangat khas dari Jepang.
Di satu sisi, chahan memiliki pengaruh kuat dari masakan China.
Di sisi lain, masyarakat Jepang dapat memasukkan bahan lokal seperti nattō ke dalam hidangan tersebut.
Hasilnya adalah makanan yang memiliki identitas tersendiri.
Berapa Biaya Membuat Nasi Goreng di Jepang?
Selain meneliti tingkat kesukaan dan bahan yang digunakan, survei Nichirei Foods juga menghitung biaya membuat nasi goreng telur di rumah.
Secara nasional, biaya rata-rata untuk membuat satu porsi nasi goreng telur mencapai sekitar 297,2 yen.
Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp113,14 per yen, jumlah tersebut setara dengan kurang lebih Rp33.600.
Angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan harga bahan yang diperlukan untuk membuat nasi goreng telur di rumah.
Namun, biaya tersebut tidak sama di setiap daerah.
Perbedaan harga bahan makanan membuat biaya membuat chahan juga berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Tokyo Jadi Wilayah dengan Biaya Tertinggi
Tokyo menjadi wilayah dengan perkiraan biaya membuat nasi goreng telur paling tinggi.
Biayanya mencapai sekitar 393,4 yen, atau sekitar Rp44.500 dengan kurs yang digunakan dalam perhitungan tersebut.
Angka ini cukup jauh dibandingkan rata-rata nasional.
Setelah Tokyo, terdapat Tokushima dengan biaya sekitar 362,9 yen atau sekitar Rp41.000.
Kemudian Kanagawa berada di kisaran 343,2 yen atau sekitar Rp38.800.
Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh harga bahan makanan di masing-masing wilayah.
Harga telur, nasi, sayuran, daging, dan bahan pelengkap lainnya tidak selalu sama.
Karena itu, biaya membuat satu porsi chahan di Jepang dapat berbeda tergantung tempat tinggal dan bahan yang digunakan.
Bagi masyarakat yang memasak di rumah, perbedaan harga tersebut tentu menjadi pertimbangan tersendiri.
Chahan Lebih Sering Dikonsumsi di Jepang Bagian Barat
Popularitas chahan juga terlihat dari seberapa sering masyarakat mengonsumsinya.
Dalam survei tersebut, Prefektur Kochi mencatat persentase tertinggi masyarakat yang mengonsumsi chahan setidaknya sekali dalam sebulan.
Angkanya mencapai 60,9 persen.
Posisi berikutnya ditempati Ehime dengan 59 persen.
Kemudian Shiga berada di posisi berikutnya dengan 58,7 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa chahan cukup sering dikonsumsi di sejumlah wilayah Jepang bagian barat.
Meski demikian, popularitas makanan tersebut tidak hanya terbatas pada kawasan tersebut.
Chahan tetap menjadi makanan yang dikenal luas di berbagai wilayah Jepang.
Perbedaan tingkat konsumsi bisa saja dipengaruhi oleh kebiasaan makan masyarakat setempat, ketersediaan bahan, serta budaya kuliner daerah.
Mengapa Nasi Goreng Begitu Disukai?
Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa chahan menjadi makanan nasi favorit masyarakat Jepang.
Salah satunya adalah kemudahan dalam membuat hidangan tersebut.
Nasi goreng tidak membutuhkan banyak bahan khusus.
Bahan dasar seperti nasi, telur, dan daun bawang relatif mudah ditemukan.
Selain itu, bahan pelengkap dapat disesuaikan dengan apa yang tersedia di dapur.
Kelebihan lain adalah chahan dapat menjadi solusi untuk memanfaatkan nasi yang tersisa.
Nasi yang sudah dimasak sebelumnya dapat diolah kembali menjadi hidangan baru.
Bagi rumah tangga, cara tersebut cukup praktis.
Chahan juga dapat dibuat dalam waktu relatif singkat.
Ketika seseorang membutuhkan makanan cepat, nasi goreng dapat menjadi pilihan yang mudah.
Fleksibilitas tersebut kemungkinan menjadi salah satu alasan mengapa makanan ini mampu bertahan sebagai hidangan favorit dari waktu ke waktu.
Nasi Goreng Punya Banyak Versi
Tidak seperti makanan yang memiliki resep sangat ketat, chahan memiliki banyak variasi.
Satu rumah dapat menggunakan bahan berbeda dengan rumah lainnya.
Restoran juga memiliki resep masing-masing.
Ada chahan dengan dominasi telur.
Ada yang menggunakan daging babi.
Ada yang menambahkan ham atau bacon.
Ada pula yang menggunakan sayuran dalam jumlah lebih banyak.
Di beberapa wilayah, bahan lokal ikut masuk ke dalam resep.
Hal ini membuat nasi goreng menjadi hidangan yang mudah menyesuaikan diri.
Bahkan, seseorang yang tidak memiliki bahan lengkap tetap dapat membuat chahan menggunakan bahan yang tersedia.
Karakter seperti itu membuat makanan tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Onigiri Tetap Menjadi Makanan Ikonik Jepang
Meski kalah dalam survei tingkat kesukaan, onigiri tetap memiliki posisi penting dalam budaya makanan Jepang.
Onigiri dikenal sebagai makanan nasi yang praktis.
Nasi biasanya dibentuk menjadi segitiga atau bentuk lain, kemudian diberi isian dan sering kali dibungkus dengan nori.
Isian onigiri sangat beragam.
Ada salmon, umeboshi, tuna, kombu, hingga berbagai variasi modern.
Onigiri juga mudah ditemukan di minimarket Jepang.
Karena praktis dibawa, makanan ini sering menjadi pilihan untuk sarapan, bekal, perjalanan, atau makanan ringan.
Dengan karakter tersebut, tidak mengherankan jika onigiri tetap mendapatkan angka kesukaan yang tinggi dalam survei.
Persentase 63 persen menempatkannya di posisi kedua.
Selisih dengan chahan memang cukup terlihat, tetapi angka tersebut tetap menunjukkan bahwa onigiri merupakan salah satu makanan nasi yang sangat populer.
Katsudon Juga Masuk Tiga Besar
Selain chahan dan onigiri, katsudon berada di posisi ketiga dengan angka 60,1 persen.
Katsudon merupakan hidangan nasi yang disajikan bersama tonkatsu, telur, dan saus atau kuah berbumbu.
Kombinasi nasi dan lauk dalam satu mangkuk membuat katsudon dikenal sebagai makanan yang mengenyangkan.
Katsudon juga memiliki tempat tersendiri dalam budaya makanan Jepang.
Masuknya makanan tersebut ke tiga besar menunjukkan bahwa masyarakat Jepang memiliki banyak pilihan makanan nasi yang populer.
Menariknya, tiga makanan teratas memiliki karakter berbeda.
Chahan merupakan nasi yang digoreng dengan berbagai bahan.
Onigiri berupa nasi yang dibentuk dan biasanya diberi isian.
Sedangkan katsudon menggabungkan nasi dengan potongan daging babi goreng dan telur.
Ketiganya memiliki cara penyajian berbeda, tetapi sama-sama berhasil mendapatkan tingkat kesukaan tinggi.
Pengaruh Kuliner China dalam Chahan
Salah satu hal menarik dari popularitas chahan adalah bagaimana makanan yang mendapat pengaruh dari China tersebut dapat menjadi bagian dari kuliner Jepang.
Pertukaran budaya melalui makanan telah berlangsung selama waktu yang panjang.
Ketika sebuah hidangan masuk ke negara lain, resep dan cara penyajiannya sering mengalami perubahan.
Begitu pula dengan chahan.
Masyarakat Jepang mengembangkan versi yang sesuai dengan bahan dan selera lokal.
Karena itu, chahan yang disantap di Jepang tidak selalu identik dengan nasi goreng yang ditemukan di China maupun negara Asia lainnya.
Setiap tempat memiliki ciri khas masing-masing.
Di Jepang, penggunaan bahan seperti negi, telur, ham, sosis, char siu, serta berbagai sayuran menciptakan karakter tersendiri.
Variasi daerah juga semakin memperkaya bentuk hidangan tersebut.
Nasi Goreng Sudah Menjadi Bagian dari Kebiasaan Makan
Hasil survei Nichirei Foods menunjukkan satu hal penting: sebuah makanan tidak harus berasal dari tradisi lokal untuk bisa menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat.
Chahan memiliki akar dari pengaruh kuliner China.
Namun, setelah melalui proses adaptasi, makanan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang.
Popularitasnya bahkan konsisten dalam survei yang dilakukan pada 2020, 2024, dan 2026.
Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa chahan bukan sekadar makanan yang populer karena tren.
Ada faktor kebiasaan yang membuatnya tetap digemari.
Kemudahan memasak, fleksibilitas bahan, rasa yang dapat disesuaikan, serta kemampuannya menjadi makanan sehari-hari membuat chahan memiliki posisi kuat.
Survei Menggambarkan Selera Masyarakat Jepang
Survei nasional dengan lebih dari 14 ribu responden memberikan gambaran menarik mengenai makanan nasi yang disukai masyarakat Jepang.
Hasilnya memperlihatkan bahwa makanan yang sering dianggap sebagai simbol Jepang tidak selalu menjadi pilihan nomor satu ketika masyarakat ditanya mengenai makanan favorit.
Onigiri memang tetap populer.
Katsudon juga memiliki banyak penggemar.
Namun, chahan berhasil menempati posisi teratas dengan angka 69,9 persen.
Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan bahwa selera makanan masyarakat dapat berubah dan berkembang.
Makanan yang awalnya mendapat pengaruh dari luar dapat diterima, dimodifikasi, kemudian menjadi bagian dari budaya lokal.
Chahan Jadi Favorit, Onigiri Tetap Populer
Hasil survei Nichirei Foods pada 2026 memberikan fakta menarik tentang kebiasaan makan masyarakat Jepang.
Nasi goreng atau chahan menjadi makanan nasi favorit di Jepang dengan tingkat kesukaan 69,9 persen.
Angka tersebut mengungguli onigiri yang memperoleh 63 persen dan katsudon dengan 60,1 persen.
Menariknya, chahan bukan kali pertama menjadi pilihan teratas.
Makanan tersebut juga menduduki posisi pertama dalam survei Nichirei Foods pada 2020 dan 2024.
Konsistensi itu menunjukkan bahwa nasi goreng telah memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat Jepang.
Telur dan daun bawang menjadi dua bahan penting yang digunakan dalam pembuatan chahan di berbagai wilayah.
Namun, setiap daerah memiliki variasi masing-masing. Jagung manis populer di Nara dan Wakayama, rebung digunakan di Tochigi dan Yamaguchi, sedangkan buncis dan zasai dikenal di Yamaguchi serta Okinawa.
Di kawasan utara Tokyo, nattō juga dapat digunakan untuk membuat nattō chahan.
Dari sisi biaya, membuat nasi goreng telur di rumah membutuhkan rata-rata sekitar 297,2 yen atau sekitar Rp33.600 berdasarkan kurs yang digunakan dalam survei tersebut.
Tokyo menjadi wilayah dengan biaya tertinggi, mencapai sekitar 393,4 yen.
Sementara dari sisi frekuensi konsumsi, Kochi mencatat persentase tertinggi masyarakat yang mengonsumsi chahan setidaknya sekali dalam sebulan, yakni 60,9 persen.
Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana chahan telah berkembang menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat Jepang.
Meskipun memiliki pengaruh kuat dari kuliner China, nasi goreng telah mengalami proses adaptasi dan memiliki berbagai variasi khas Jepang.
Pada akhirnya, popularitas chahan menunjukkan bahwa makanan favorit masyarakat tidak selalu harus berupa hidangan yang sejak awal berasal dari budaya setempat.
Makanan yang sederhana, praktis, mudah dibuat, dan dapat disesuaikan dengan selera justru bisa bertahan lama.
Itulah yang terjadi pada chahan.
Di tengah kuatnya citra onigiri sebagai makanan nasi khas Jepang, nasi goreng justru berhasil menjadi pilihan nomor satu masyarakat Jepang berdasarkan survei terbaru.
Bagi pencinta kuliner, temuan tersebut menjadi gambaran menarik mengenai bagaimana selera makan masyarakat Jepang terus berkembang tanpa meninggalkan makanan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sumber : www.kompas.com
