2 Pesawat Garuda Dialihkan ke Bandara Kertajati Imbas Abu Vulkanik di Soetta (Foto : Darfan)
MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang. Sejumlah penerbangan yang seharusnya mendarat di bandara tersebut terpaksa dialihkan untuk sementara.
Dua pesawat Garuda Indonesia yang membawa jemaah umrah dari Arab Saudi menjadi penerbangan yang dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin siang.
Pengalihan dilakukan karena adanya gangguan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Kedua pesawat tersebut sebelumnya dijadwalkan mendarat di Soetta setelah menempuh penerbangan dari Arab Saudi. Namun, kondisi di sekitar bandara tujuan membuat pesawat harus mencari bandara alternatif untuk melakukan pendaratan.
Executive General Manager (EGM) BIJB Kertajati, Nuril Huda, mengatakan dua penerbangan Garuda Indonesia yang dialihkan tersebut membawa total ratusan jemaah umrah.
“Gangguan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Dua penerbangan Garuda Indonesia dari Arab Saudi yang membawa jemaah umrah dialihkan ke BIJB Kertajati, Majalengka,” ujar Nuril Huda.
Dua Pesawat Garuda Indonesia Mendarat di Kertajati
Pesawat pertama yang dialihkan adalah Garuda Indonesia GA 961 dengan rute Madinah–Jakarta. Pesawat jenis Boeing 777-300 tersebut membawa 356 penumpang yang seluruhnya merupakan jemaah umrah.
Pesawat GA 961 kemudian mendarat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sekitar pukul 14.25 WIB.
Setelah itu, penerbangan Garuda Indonesia GA 983 dengan rute Jeddah–Jakarta juga dialihkan ke Kertajati.
Pesawat Boeing 777-300 tersebut membawa 307 penumpang dan mendarat di BIJB Kertajati sekitar pukul 15.00 WIB.
Dengan demikian, dua pesawat Garuda Indonesia yang dialihkan ke Kertajati membawa total 663 penumpang. Seluruh penumpang merupakan jemaah umrah yang sebelumnya melakukan perjalanan dari Arab Saudi menuju Jakarta.
Pengalihan ke Kertajati menjadi langkah yang dilakukan untuk memastikan kedua pesawat dapat mendarat dengan aman setelah kondisi di Bandara Soekarno-Hatta mengalami gangguan akibat abu vulkanik.
Pesawat Sudah Berada di Udara Saat Pengalihan Dilakukan
Pengalihan dua penerbangan Garuda Indonesia tersebut dilakukan setelah kedua pesawat sudah berada di udara.
Nuril menjelaskan, kedua pesawat dari Arab Saudi diperkirakan telah melakukan penerbangan selama sekitar sembilan jam sebelum akhirnya diarahkan menuju Bandara Kertajati.
Kondisi tersebut membuat keputusan terkait lokasi pendaratan menjadi penting. Pesawat yang telah berada di udara membutuhkan bandara alternatif ketika bandara tujuan tidak dapat digunakan secara optimal akibat kondisi tertentu.
Dalam situasi tersebut, Bandara Kertajati dapat menjadi salah satu pilihan karena memiliki fasilitas dan landasan yang dapat digunakan untuk melayani pesawat berbadan lebar.
Kedua pesawat Garuda Indonesia yang menggunakan Boeing 777-300 akhirnya mendarat dengan selamat di Kertajati.
Abu Vulkanik Ganggu Operasional Bandara Soetta
Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gangguan terhadap operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Abu vulkanik menjadi perhatian dalam dunia penerbangan karena dapat mengganggu keselamatan pesawat. Partikel abu yang berada di udara dapat menjadi risiko bagi mesin pesawat apabila pesawat melintasi kawasan yang terdampak.
Selain itu, keberadaan abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang dan memengaruhi kondisi penerbangan di sekitar bandara.
Karena alasan keselamatan, maskapai dan operator penerbangan perlu menyesuaikan rencana penerbangan ketika terdapat informasi mengenai sebaran abu vulkanik di jalur penerbangan maupun kawasan sekitar bandara.
Dalam kondisi seperti itu, pengalihan penerbangan ke bandara lain menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko.
Kertajati Siap Menjadi Bandara Alternatif
Pengalihan dua penerbangan Garuda Indonesia tersebut juga menunjukkan peran Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati sebagai salah satu bandara alternatif untuk penerbangan ketika terjadi gangguan di bandara utama.
Pihak BIJB Kertajati menyatakan siap melayani penerbangan yang membutuhkan pengalihan apabila kondisi serupa kembali terjadi.
Kesiapan tersebut tidak hanya untuk penerbangan internasional, tetapi juga mencakup penerbangan domestik.
Nuril Huda mengatakan pihaknya siap apabila Bandara Kertajati kembali dibutuhkan untuk menerima penerbangan yang dialihkan.
Kesiapan bandara alternatif menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran konektivitas udara, terutama ketika terjadi gangguan yang berada di luar kendali operator penerbangan.
Dengan adanya bandara alternatif, pesawat yang tidak dapat mendarat di bandara tujuan tetap memiliki pilihan untuk melakukan pendaratan di lokasi lain yang dinilai aman.
Total 663 Jemaah Umrah Tiba di Kertajati
Dua pesawat Garuda Indonesia yang dialihkan dari Soetta membawa total 663 penumpang.
Rinciannya, penerbangan GA 961 rute Madinah–Jakarta membawa 356 penumpang. Pesawat tersebut mendarat di BIJB Kertajati sekitar pukul 14.25 WIB.
Sementara itu, penerbangan GA 983 rute Jeddah–Jakarta membawa 307 penumpang dan mendarat sekitar pukul 15.00 WIB.
Kedua penerbangan tersebut sama-sama menggunakan pesawat Boeing 777-300.
Para penumpang sebelumnya dijadwalkan tiba di Jakarta setelah menyelesaikan perjalanan ibadah umrah di Arab Saudi. Namun, akibat adanya gangguan operasional di Bandara Soekarno-Hatta, pesawat akhirnya diarahkan untuk mendarat di Kertajati.
Pengalihan ini membuat Kertajati menjadi titik pendaratan sementara bagi ratusan jemaah umrah yang seharusnya tiba di Jakarta.
Pengalihan Dilakukan Demi Keselamatan Penerbangan
Dalam kondisi gangguan abu vulkanik, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama. Maskapai dan pihak terkait harus memperhatikan perkembangan kondisi udara sebelum menentukan apakah penerbangan dapat diteruskan menuju bandara tujuan atau perlu dialihkan.
Bagi pesawat yang sudah berada di udara, keputusan pengalihan harus dilakukan dengan mempertimbangkan jarak, kondisi cuaca, bahan bakar, kapasitas bandara alternatif, hingga kesiapan fasilitas untuk menerima pesawat.
Dalam kasus dua penerbangan Garuda Indonesia tersebut, Kertajati dipilih sebagai bandara alternatif setelah kondisi di Soetta mengalami gangguan.
Kedua pesawat kemudian dapat mendarat dengan aman di BIJB Kertajati.
Pengalihan seperti ini juga menunjukkan pentingnya keberadaan jaringan bandara yang dapat saling mendukung ketika terjadi gangguan operasional.
Kertajati Berpotensi Jadi Alternatif Saat Terjadi Gangguan
Bandara Kertajati berada di Kabupaten Majalengka dan memiliki posisi strategis untuk mendukung konektivitas udara di Jawa Barat.
Ketika terjadi gangguan pada operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, keberadaan Kertajati dapat memberikan alternatif bagi pesawat yang membutuhkan lokasi pendaratan.
Kesiapan tersebut menjadi semakin penting ketika gangguan penerbangan disebabkan oleh faktor alam seperti erupsi gunung api.
Gangguan akibat abu vulkanik dapat berubah mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer. Karena itu, kondisi penerbangan dapat berubah dalam waktu yang relatif cepat.
Bandara alternatif dibutuhkan untuk memberikan pilihan kepada maskapai apabila bandara tujuan tidak dapat digunakan sesuai rencana.
BIJB Kertajati menyatakan kesiapannya untuk menerima penerbangan yang dialihkan apabila sewaktu-waktu kembali dibutuhkan.
Kesiapan tersebut mencakup penerbangan domestik maupun penerbangan lainnya sesuai kebutuhan dan kondisi operasional.
Penumpang Diimbau Mengikuti Informasi Maskapai
Bagi penumpang yang terdampak pengalihan penerbangan, informasi dari maskapai menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Pengalihan bandara dapat membuat jadwal perjalanan berubah, termasuk terkait proses penjemputan, transportasi lanjutan, dan waktu kedatangan di kota tujuan.
Dalam situasi gangguan penerbangan akibat faktor alam, penumpang sebaiknya mengikuti informasi resmi yang disampaikan maskapai dan pengelola bandara.
Kondisi seperti ini juga dapat menyebabkan perubahan jadwal penerbangan lainnya. Karena itu, penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Soekarno-Hatta perlu memantau perkembangan terbaru sebelum berangkat menuju bandara.
Sementara bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan ke Kertajati, informasi mengenai transportasi lanjutan juga perlu diperhatikan agar perjalanan dapat dilanjutkan dengan lancar.
Kertajati Siap Mendukung Penerbangan yang Terdampak
Pengalihan dua pesawat Garuda Indonesia dari Soetta ke Kertajati menjadi salah satu dampak gangguan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terhadap aktivitas penerbangan.
Dua pesawat Boeing 777-300 yang membawa 663 jemaah umrah dari Arab Saudi berhasil mendarat di BIJB Kertajati pada Senin siang.
GA 961 rute Madinah–Jakarta tiba sekitar pukul 14.25 WIB dengan membawa 356 penumpang. Selanjutnya, GA 983 rute Jeddah–Jakarta mendarat sekitar pukul 15.00 WIB dengan membawa 307 penumpang.
Kedua penerbangan tersebut dialihkan karena kondisi di Bandara Soekarno-Hatta terdampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pengalihan dilakukan ketika kedua pesawat sudah berada di udara dan telah menempuh perjalanan sekitar sembilan jam dari Arab Saudi.
Dengan adanya kejadian tersebut, BIJB Kertajati kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu bandara yang dapat digunakan sebagai alternatif ketika terjadi gangguan penerbangan.
Pihak Kertajati juga memastikan kesiapan untuk menerima penerbangan yang membutuhkan pengalihan apabila kondisi serupa kembali terjadi, termasuk untuk penerbangan domestik.
Sementara itu, perkembangan kondisi abu vulkanik dan aktivitas penerbangan tetap menjadi perhatian untuk memastikan perjalanan udara dapat berlangsung dengan aman. Bagi masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan, pemantauan informasi resmi dari maskapai dan pengelola bandara menjadi langkah penting sebelum melakukan perjalanan.
