Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak hanya diisi dengan pengajian, pembacaan selawat, atau berbagai kegiatan keagamaan. Di sejumlah daerah, perayaan Maulid Nabi juga identik dengan tradisi menyajikan makanan khas yang memiliki bentuk, cara penyajian, hingga makna tersendiri.
Keberagaman tradisi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Indonesia menjaga warisan budaya sekaligus menjalankan peringatan keagamaan. Setiap daerah mempunyai cara yang berbeda dalam memeriahkan Maulid Nabi, termasuk melalui hidangan yang disiapkan secara khusus untuk dibagikan kepada masyarakat.
Beberapa makanan bahkan hanya mudah ditemui ketika memasuki momentum Maulid Nabi. Hidangan tersebut biasanya dibuat secara gotong royong oleh masyarakat, kemudian disajikan dalam kegiatan perayaan atau dibagikan kepada warga.
Keunikan makanan khas Maulid Nabi juga tidak hanya terletak pada rasanya. Di balik setiap hidangan terdapat cerita, kebiasaan, serta filosofi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Mulai dari ampyang Maulid di Kudus, kue kolombengi dari Gorontalo, ketupat sumpil di Kaliwungu, hingga telur male di Bali, semuanya memiliki cerita masing-masing. Ada pula nasi ulam sari dari Pacitan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi.
Maulid Nabi dan Tradisi Kuliner di Indonesia
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati oleh umat Islam sebagai momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam kalender Hijriah, Maulid Nabi dikaitkan dengan tanggal 12 Rabiul Awal. Di Indonesia, peringatan ini juga dikenal dengan sebutan Maulud.
Pelaksanaan Maulid Nabi di berbagai daerah memiliki bentuk yang beragam. Ada masyarakat yang menggelar pengajian, pembacaan selawat, kirab, pembagian makanan, hingga festival yang melibatkan banyak warga.
Tradisi tersebut berkembang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat luas, perayaan Maulid Nabi pun memiliki banyak bentuk yang berbeda.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah keberadaan makanan khas Maulid Nabi.
Bagi masyarakat di sejumlah daerah, makanan tidak hanya menjadi hidangan untuk disantap bersama. Makanan juga menjadi bagian dari simbol kebersamaan, sedekah, rasa syukur, serta penghormatan terhadap tradisi yang sudah dilakukan sejak lama.
Tidak sedikit makanan yang dibuat dalam jumlah besar karena akan dibagikan kepada warga. Proses pembuatannya pun dilakukan secara bersama-sama sehingga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga.
Karena itulah, tradisi kuliner dalam perayaan Maulid Nabi memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar urusan makanan.
Hidangan yang disajikan bisa menjadi bagian dari identitas sebuah daerah. Ketika tradisi tersebut terus dilakukan dari tahun ke tahun, makanan yang awalnya hanya menjadi sajian perayaan kemudian berkembang menjadi warisan budaya yang dikenal oleh masyarakat luas.
Berikut lima makanan khas Maulid Nabi yang memiliki tradisi unik di berbagai daerah Indonesia.
- Ampyang Maulid, Tradisi Unik dari Kudus
Salah satu tradisi Maulid Nabi yang cukup dikenal berasal dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ampyang Maulid.
Ampyang Maulid biasanya digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk perayaan Maulid Nabi yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Nama Ampyang Maulid sendiri berkaitan dengan sajian ampyang atau kerupuk yang digunakan untuk menghias gunungan dalam acara tersebut.
Pada puncak perayaan, masyarakat dapat melihat sejumlah gunungan yang dihias menggunakan ampyang atau kerupuk. Gunungan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam festival.
Selain kerupuk, terdapat pula nasi kepal yang dibungkus menggunakan daun jati. Sajian tersebut menjadi bagian dari makanan yang dibawa dan dibagikan dalam tradisi Ampyang Maulid.
Kerupuk yang digunakan dalam tradisi ini memiliki bentuk dan warna yang beragam. Ampyang tersebut dibuat dari bahan ketela dan diberi warna-warni sehingga menghasilkan tampilan yang menarik ketika digunakan sebagai hiasan gunungan.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan ampyang bukan sekadar ornamen. Sajian tersebut telah digunakan secara turun-temurun sebagai bagian dari kegiatan bersedekah dalam peringatan Maulid Nabi.
Tradisi tersebut membuat suasana Maulid Nabi di Loram Kulon menjadi lebih semarak. Masyarakat berkumpul, membawa hasil makanan, mengikuti rangkaian kegiatan, kemudian berbagi makanan dengan warga lainnya.
Nilai kebersamaan menjadi salah satu hal yang terasa kuat dalam pelaksanaan Ampyang Maulid.
Kegiatan seperti ini juga menunjukkan bagaimana tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan kebudayaan lokal. Masyarakat tetap memperingati Maulid Nabi, tetapi pada saat yang sama mempertahankan tradisi yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Ampyang Maulid akhirnya bukan hanya dikenal sebagai tradisi masyarakat Kudus, tetapi juga menjadi salah satu kekayaan budaya yang menarik perhatian karena keunikan penyajian makanannya.
- Kue Kolombengi, Sajian Maulid Nabi dari Gorontalo
Tradisi makanan khas Maulid Nabi tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa. Masyarakat Gorontalo juga mempunyai sajian khusus yang kerap hadir dalam peringatan Maulid Nabi.
Salah satunya adalah kue kolombengi.
Kue kolombengi merupakan salah satu hidangan yang cukup identik dengan perayaan Maulid Nabi di Gorontalo. Bentuk dan teksturnya membuat kue ini cukup mudah dikenali.
Sekilas, kue kolombengi memiliki tampilan yang menyerupai bolu. Namun, teksturnya cenderung lebih keras dibandingkan bolu pada umumnya.
Rasanya manis dengan aroma dan cita rasa telur yang cukup terasa. Kue tersebut biasanya tidak berdiri sendiri karena dapat disajikan bersama sejumlah makanan tradisional lainnya.
Dalam perayaan Maulid Nabi, kue kolombengi dapat disandingkan dengan lalampa, nasi kuning, dan bajo.
Beragam sajian tersebut kemudian menjadi bagian dari hidangan yang disiapkan masyarakat dalam rangka memperingati Maulid Nabi.
Menariknya, tradisi ini memperlihatkan kekayaan kuliner Gorontalo dalam kegiatan keagamaan. Makanan yang disajikan bukan hanya memiliki rasa khas, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam merayakan momentum penting.
Kue kolombengi juga menjadi contoh bagaimana sebuah makanan dapat melekat dengan tradisi tertentu. Ketika Maulid Nabi tiba, masyarakat yang sudah mengenal tradisi tersebut akan kembali menyiapkan hidangan yang sama.
Hal ini membuat keberadaan kue kolombengi tetap terjaga dari waktu ke waktu.
Tradisi tersebut juga menjadi salah satu cara bagi generasi muda untuk mengenal makanan tradisional daerahnya. Di tengah semakin banyaknya makanan modern, sajian seperti kue kolombengi tetap mempunyai tempat karena memiliki hubungan erat dengan tradisi masyarakat.
Tidak hanya disantap, makanan tersebut menjadi bagian dari cerita budaya yang diwariskan melalui keluarga dan lingkungan masyarakat.
- Ketupat Sumpil, Makanan Khas Maulid Nabi di Kaliwungu
Beralih ke Jawa Tengah, ada ketupat sumpil yang menjadi salah satu makanan khas dalam peringatan Maulid Nabi di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.
Ketupat sumpil memiliki bentuk dan cara penyajian yang berbeda dari ketupat pada umumnya.
Makanan ini dibuat dari beras ketan yang kemudian dibungkus menggunakan daun pisang atau daun bambu. Bentuknya khas dan menjadi salah satu ciri yang membuat ketupat sumpil mudah dikenali.
Ketupat sumpil biasanya disantap dengan parutan kelapa atau serundeng pedas. Hidangan tersebut juga dapat dilengkapi dengan bumbu sambal sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, pedas, dan sedikit manis sesuai dengan bahan pelengkap yang digunakan.
Namun, ketupat sumpil bukan sekadar makanan tradisional.
Bagi masyarakat Kaliwungu, hidangan ini memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan. Ketupat sumpil dimaknai sebagai simbol keseimbangan hubungan antarmanusia.
Makna tersebut membuat keberadaan ketupat sumpil dalam perayaan Maulid Nabi menjadi semakin penting. Masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai hidangan, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya dan simbol nilai kehidupan.
Ketupat sumpil juga disebut telah dikenal sejak zaman Sunan Kalijaga. Karena itu, keberadaannya memiliki hubungan dengan sejarah perkembangan tradisi Islam di tanah Jawa.
Bagi warga Kaliwungu, makanan tersebut menjadi salah satu simbol hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Dalam perayaan Maulid Nabi, ketupat sumpil biasanya hadir bersama rangkaian kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat lainnya. Makanan ini kemudian dinikmati bersama sehingga semakin memperkuat suasana kebersamaan.
Dari sini terlihat bahwa makanan tradisional dapat memiliki banyak fungsi sekaligus. Ketupat sumpil bisa menjadi makanan, simbol budaya, serta media untuk mempererat hubungan sosial masyarakat.
Tradisi seperti ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui simbol yang dekat dengan keseharian.
- Telur Male, Tradisi Maulid Nabi di Bali
Jika biasanya tradisi Maulid Nabi lebih sering dibayangkan berlangsung di daerah-daerah dengan mayoritas penduduk muslim, masyarakat Muslim di Bali juga memiliki tradisi yang tidak kalah menarik.
Di Desa Loloan Timur, Jembrana, terdapat tradisi peringatan Maulid Nabi yang menghadirkan telur male.
Telur male menjadi salah satu sajian yang menarik karena dihias dengan berbagai ornamen berwarna-warni.
Telur yang digunakan dalam tradisi ini dihias menggunakan kertas warna-warni sehingga tampilannya menjadi lebih menarik. Selain telur, rangkaian hiasan juga dapat menggunakan untaian buah-buahan.
Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan di lingkungan masjid besar di kawasan tersebut dan melibatkan masyarakat sekitar.
Kehadiran telur male menunjukkan bagaimana perayaan Maulid Nabi di Bali memiliki karakter yang khas. Tradisi Islam berpadu dengan kebiasaan masyarakat setempat sehingga menghasilkan bentuk perayaan yang berbeda dari daerah lain.
Telur yang dihias tidak hanya berfungsi sebagai makanan. Penyajiannya menjadi bagian dari tradisi dan simbol kebersamaan masyarakat.
Ketika perayaan berlangsung, warga berkumpul dan mengikuti rangkaian kegiatan yang telah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun.
Keunikan telur male juga terletak pada tampilannya. Hiasan warna-warni membuat sajian tersebut terlihat meriah ketika dikumpulkan dalam satu tempat.
Tidak mengherankan apabila tradisi ini menjadi salah satu bagian yang menarik dalam perayaan Maulid Nabi di Jembrana.
Tradisi telur male juga memperlihatkan bahwa keberagaman budaya Indonesia dapat berjalan beriringan dengan kegiatan keagamaan.
Masyarakat Muslim di Loloan Timur memiliki cara tersendiri untuk memperingati Maulid Nabi. Tradisi tersebut kemudian menjadi identitas budaya yang terus dijaga.
Keberadaan telur male juga menjadi pengingat bahwa setiap daerah memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa syukur dan kebersamaan ketika memperingati Maulid Nabi.
- Nasi Ulam Sari, Sajian Maulid Nabi dari Pacitan
Masyarakat Pacitan, Jawa Timur, juga mempunyai makanan khas yang hadir dalam tradisi peringatan Maulid Nabi. Sajian tersebut dikenal dengan nama nasi ulam sari.
Nasi ulam sari memiliki penyajian yang cukup khas. Nasi disusun dalam bentuk tumpeng dan kemudian disajikan bersama lauk berupa ayam utuh.
Ayam yang digunakan dalam hidangan ini biasanya hanya direbus. Penyajian ayam secara utuh menjadi salah satu ciri yang membedakan nasi ulam sari dari hidangan nasi lainnya.
Di balik penyajiannya, nasi ulam sari juga mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut.
Hidangan ini dimaknai sebagai simbol penolak bala. Dengan kata lain, sajian tersebut menjadi bagian dari harapan masyarakat agar terhindar dari berbagai bahaya serta memperoleh keberkahan.
Makna tersebut membuat nasi ulam sari tidak hanya dipandang sebagai hidangan dalam sebuah acara.
Ada doa dan harapan yang menyertai penyajiannya.
Bentuk tumpeng yang digunakan juga membuat nasi ulam sari terlihat menarik ketika disajikan dalam acara bersama. Tumpeng sendiri telah lama dikenal dalam berbagai tradisi masyarakat Indonesia sebagai bentuk sajian yang sering dikaitkan dengan rasa syukur dan kebersamaan.
Dalam konteks perayaan Maulid Nabi di Pacitan, nasi ulam sari menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga masyarakat.
Proses menyiapkan makanan tersebut juga dapat menjadi kesempatan bagi warga untuk bekerja bersama. Dari mempersiapkan bahan, memasak ayam, menata nasi, hingga menyajikan hidangan, semuanya dapat dilakukan secara gotong royong.
Kegiatan tersebut akhirnya bukan hanya menghasilkan makanan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Makanan Maulid Nabi Bukan Sekadar Hidangan
Lima makanan khas Maulid Nabi tersebut menunjukkan bahwa kuliner memiliki posisi penting dalam tradisi masyarakat Indonesia.
Ampyang Maulid, kue kolombengi, ketupat sumpil, telur male, dan nasi ulam sari memiliki bentuk serta cara penyajian yang berbeda.
Namun, ada satu kesamaan yang terlihat, yaitu makanan tersebut menjadi bagian dari kegiatan masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi.
Hidangan-hidangan tersebut juga memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan di Indonesia berkembang dengan warna budaya yang sangat beragam.
Setiap daerah mempunyai cara masing-masing dalam menyambut Maulid Nabi. Ada yang membuat gunungan makanan, menyiapkan kue tradisional, menghias telur, atau menyajikan nasi dengan lauk tertentu.
Keragaman tersebut menjadi kekayaan budaya yang menarik untuk terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Selain itu, makanan dalam tradisi Maulid Nabi juga memiliki nilai sosial yang cukup kuat.
Ketika makanan dibuat untuk dibagikan, masyarakat secara tidak langsung menjalankan semangat berbagi. Warga berkumpul, saling membantu, kemudian menikmati atau membagikan hidangan kepada orang lain.
Tradisi tersebut dapat memperkuat rasa persaudaraan di lingkungan masyarakat.
Di beberapa daerah, persiapan makanan bahkan dilakukan secara gotong royong. Masyarakat tidak hanya berkumpul ketika acara berlangsung, tetapi sudah terlibat sejak tahap persiapan.
Mulai dari memasak, menghias, mengatur makanan, hingga menyiapkan rangkaian acara dilakukan bersama.
Inilah yang membuat makanan khas Maulid Nabi mempunyai cerita yang lebih panjang daripada sekadar resep.
Tradisi Kuliner yang Perlu Dilestarikan
Perkembangan zaman membuat banyak tradisi lokal menghadapi tantangan. Generasi muda kini memiliki banyak pilihan makanan dan hiburan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Meski begitu, makanan khas Maulid Nabi masih mempunyai nilai yang penting untuk dipertahankan.
Melestarikan makanan tradisional bukan berarti hanya mempertahankan resepnya. Lebih dari itu, masyarakat juga perlu menjaga cerita, cara penyajian, serta nilai yang terkandung di balik makanan tersebut.
Ketika generasi muda mengetahui alasan sebuah makanan disajikan dalam perayaan Maulid Nabi, mereka akan lebih mudah memahami pentingnya tradisi tersebut.
Misalnya, ketupat sumpil tidak hanya dikenal karena bentuknya yang unik. Di baliknya terdapat filosofi mengenai keseimbangan hidup dan hubungan manusia.
Begitu pula dengan nasi ulam sari yang memiliki makna sebagai simbol penolak bala dan harapan memperoleh keberkahan.
Ampyang Maulid juga mempunyai cerita mengenai sedekah dan kebersamaan masyarakat. Sementara telur male menjadi bagian dari tradisi masyarakat Muslim di Bali yang memiliki karakter budaya tersendiri.
Kue kolombengi pun menunjukkan bagaimana masyarakat Gorontalo memiliki sajian khas yang erat dengan perayaan Maulid Nabi.
Semua cerita tersebut menjadi kekayaan yang patut dikenalkan kepada masyarakat luas.
Keberagaman Tradisi Maulid Nabi di Indonesia
Indonesia dikenal sebagai negara dengan banyak suku, bahasa, dan budaya. Keberagaman tersebut juga terlihat dalam cara masyarakat memperingati hari-hari besar keagamaan.
Maulid Nabi menjadi salah satu contoh yang paling mudah dilihat.
Walaupun tujuan peringatannya sama, bentuk kegiatan di setiap daerah bisa berbeda.
Ada masyarakat yang mengadakan pengajian besar, ada yang menggelar kirab, ada pula yang membuat festival makanan. Semuanya berkembang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.
Makanan khas menjadi salah satu bagian yang membuat perayaan tersebut semakin menarik.
Bagi masyarakat luar daerah, keberadaan makanan tersebut juga dapat menjadi pintu untuk mengenal budaya lokal.
Orang yang sebelumnya tidak mengetahui Ampyang Maulid, misalnya, dapat mengenalnya melalui cerita mengenai tradisi Maulid Nabi di Kudus.
Begitu juga dengan ketupat sumpil di Kaliwungu atau telur male di Jembrana.
Dari makanan, masyarakat dapat mengetahui bahwa sebuah daerah memiliki tradisi yang berbeda dengan daerah lainnya.
Hal inilah yang membuat kuliner tradisional mempunyai peran penting dalam menjaga identitas budaya.
Tradisi Maulid Nabi Menjadi Ruang untuk Berkumpul
Selain memiliki nilai keagamaan dan budaya, tradisi makanan dalam perayaan Maulid Nabi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul.
Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, kegiatan bersama seperti ini menjadi kesempatan untuk kembali bertemu dengan tetangga, keluarga, dan masyarakat sekitar.
Makanan yang disiapkan bersama membuat interaksi menjadi lebih mudah.
Ada yang bertugas memasak, menyiapkan bahan, membuat hiasan, membawa makanan, hingga membagikannya kepada warga.
Semua orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.
Kegiatan seperti ini membuat perayaan Maulid Nabi tidak hanya menjadi acara yang berlangsung selama beberapa jam. Proses persiapannya juga menjadi bagian dari tradisi.
Dari sanalah nilai gotong royong terus hidup.
Anak-anak dapat belajar dari orang tua, sementara generasi yang lebih tua dapat meneruskan cerita mengenai asal-usul makanan kepada generasi berikutnya.
Dengan cara tersebut, tradisi tidak berhenti pada satu generasi saja.
Lima Makanan dengan Cerita yang Berbeda
Jika dilihat kembali, kelima makanan khas Maulid Nabi tersebut memiliki karakter yang sangat berbeda.
Ampyang Maulid di Kudus identik dengan gunungan yang dihias menggunakan ampyang atau kerupuk dan nasi kepal yang dibungkus daun jati.
Kue kolombengi dari Gorontalo memiliki bentuk menyerupai bolu dengan tekstur lebih keras dan rasa manis yang khas.
Ketupat sumpil dari Kaliwungu mempunyai bentuk unik serta biasa disantap dengan parutan kelapa atau serundeng pedas.
Telur male dari Jembrana menarik perhatian karena telur dihias menggunakan kertas warna-warni dan dipadukan dengan untaian buah-buahan.
Sementara itu, nasi ulam sari dari Pacitan disajikan dalam bentuk tumpeng dengan ayam utuh yang direbus.
Perbedaan tersebut menjadi bukti bahwa satu perayaan dapat melahirkan berbagai bentuk tradisi.
Tidak ada satu bentuk makanan yang menjadi standar untuk seluruh Indonesia. Setiap daerah justru mempunyai keunikan masing-masing.
Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi tradisi Maulid Nabi di Indonesia.
Maulid Nabi, Kuliner, dan Warisan Budaya
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia akhirnya tidak hanya menjadi momentum keagamaan. Di sejumlah daerah, perayaan tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya.
Makanan menjadi salah satu media yang paling mudah untuk mempertahankan tradisi karena dapat dikenalkan dan diwariskan melalui kehidupan sehari-hari.
Sebuah resep dapat diajarkan dari orang tua kepada anak. Cara menghias makanan dapat dipelajari oleh generasi muda. Cerita mengenai filosofi sebuah hidangan juga dapat disampaikan ketika masyarakat berkumpul.
Dengan demikian, tradisi akan tetap hidup meskipun zaman terus berubah.
Lima makanan khas Maulid Nabi dari berbagai daerah tersebut menjadi contoh bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terlihat dari pakaian adat, rumah tradisional, atau kesenian.
Makanan juga menyimpan cerita yang tidak kalah menarik.
Setiap sajian mempunyai perjalanan dan hubungan dengan masyarakat yang menjaganya.
Karena itu, ketika Maulid Nabi kembali diperingati setiap tahun, masyarakat bukan hanya mengulang sebuah kegiatan. Mereka juga ikut menjaga tradisi yang sudah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Mulai dari Ampyang Maulid di Kudus, kue kolombengi di Gorontalo, ketupat sumpil di Kaliwungu, telur male di Bali, hingga nasi ulam sari di Pacitan, semuanya menunjukkan warna berbeda dari perayaan Maulid Nabi di Indonesia.
Keunikan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang patut dikenal lebih luas.
Pada akhirnya, makanan khas Maulid Nabi bukan hanya tentang apa yang tersaji di atas meja. Di baliknya terdapat kebersamaan, gotong royong, sedekah, doa, harapan, serta nilai budaya yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa makanan dapat menjadi penghubung antara kehidupan keagamaan dan kebudayaan masyarakat.
Selama masyarakat terus menjaga dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya, berbagai makanan khas Maulid Nabi tersebut akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Sumber : www.food.detik.com
