Studi Ungkap Kontak Kulit dengan Bayi Bisa Bantu Cegah Depresi Postpartum (Sumber Foto: Getty Images/shih-wei)
Buletinmedia.com – Kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi selama ini dikenal sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu bayi beradaptasi setelah lahir. Praktik yang juga dikenal dengan istilah skin-to-skin contact atau kangaroo care ini biasanya dilakukan dengan menempatkan bayi hanya menggunakan popok di atas dada telanjang ibu, kemudian keduanya ditutupi selimut agar tetap hangat.
Bagi bayi, kontak langsung dengan tubuh orang tua dapat membantu menjaga suhu tubuh, memberikan rasa nyaman, mendukung proses menyusu, serta memperkuat ikatan antara bayi dan orang tua. Namun, manfaatnya ternyata tidak berhenti pada kondisi fisik bayi.
Sejumlah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara kontak kulit dengan kondisi psikologis orang tua setelah kelahiran. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatric Research pada 2026 menambah bukti bahwa kontak kulit ke kulit berpotensi membantu mengurangi gejala depresi pada ibu setelah melahirkan, terutama pada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Temuan ini menarik karena masa setelah persalinan bukan hanya menjadi periode adaptasi bagi bayi, tetapi juga menjadi masa yang penuh perubahan bagi ibu. Perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, proses menyusui, rasa khawatir terhadap kondisi bayi, hingga perubahan rutinitas dapat memengaruhi kondisi emosional.
Karena itu, aktivitas sederhana seperti memeluk bayi dengan kontak kulit langsung menjadi salah satu hal yang mulai mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai kesehatan mental ibu setelah melahirkan.
Meski demikian, kontak kulit ke kulit tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mencegah atau mengatasi depresi postpartum. Kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan mental yang dapat membutuhkan penanganan profesional.
Apa Itu Kontak Kulit ke Kulit?
Kontak kulit ke kulit adalah praktik ketika tubuh bayi ditempelkan langsung pada kulit dada orang tua.
Dalam praktiknya, bayi biasanya hanya mengenakan popok, kemudian diletakkan dalam posisi tegak di dada telanjang ibu atau ayah. Tubuh bayi dan orang tua selanjutnya dapat diselimuti agar suhu tetap nyaman.
Metode ini sudah lama digunakan dalam perawatan bayi, terutama bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah. Dalam dunia medis, metode tersebut sering dikaitkan dengan perawatan metode kanguru.
Kontak kulit ke kulit dapat dilakukan segera setelah persalinan apabila kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Praktik tersebut juga dapat dilanjutkan setelah ibu dan bayi berada di rumah.
Tidak harus selalu dilakukan ketika bayi sedang menyusu.
Kontak kulit bisa dilakukan ketika bayi sedang tenang, setelah mandi, sebelum tidur, ketika membutuhkan ketenangan, atau ketika orang tua ingin menghabiskan waktu bersama bayi.
Hal yang paling penting adalah memastikan kondisi ibu atau orang tua dan bayi aman selama proses berlangsung.
Manfaat Kontak Kulit Bukan Hanya untuk Bayi
Selama ini, pembahasan mengenai skin-to-skin contact lebih banyak menyoroti manfaat untuk bayi.
Kontak langsung dengan kulit ibu dapat membantu bayi menjaga suhu tubuh. Bayi yang baru lahir belum mampu mengatur suhu tubuhnya sebaik orang dewasa sehingga kehangatan dari tubuh ibu dapat memberikan bantuan.
Kontak tersebut juga dapat membantu proses menyusu dan membangun hubungan antara ibu dan bayi.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa orang tua juga dapat memperoleh manfaat dari interaksi fisik tersebut.
Salah satunya berkaitan dengan kondisi emosional.
Studi terdahulu telah menemukan adanya hubungan antara kontak kulit ke kulit dan berkurangnya gejala depresi atau stres pada sebagian ibu setelah melahirkan. Salah satu penelitian yang diterbitkan di Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing menemukan ibu yang melakukan kontak kulit secara intensif pada periode awal setelah melahirkan memiliki skor gejala depresi yang lebih rendah pada minggu pertama dan menunjukkan penurunan kortisol yang lebih besar selama bulan pertama.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian dari bukti yang terus berkembang mengenai manfaat skin-to-skin contact.
Studi Terbaru Kembali Menyoroti Risiko Depresi Postpartum
Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Pediatric Research kembali memperkuat perhatian terhadap hubungan kontak kulit dengan kesehatan mental ibu.
Brandi Fields dari Pediatrix Medical Group menjelaskan bahwa penelitian tersebut menambah bukti mengenai manfaat kontak kulit ke kulit, bukan hanya untuk menyusui, pengaturan suhu, dan ikatan antara orang tua dengan bayi, tetapi juga kemungkinan manfaat terhadap risiko depresi postpartum.
Depresi postpartum atau postpartum depression (PPD) merupakan kondisi yang berbeda dari perubahan suasana hati ringan yang biasa dialami sebagian ibu setelah melahirkan.
Setelah persalinan, ibu memang dapat mengalami perubahan emosi yang cukup cepat. Ada ibu yang mudah menangis, merasa kewalahan, lebih sensitif, atau mengalami perubahan suasana hati.
Kondisi tersebut sering disebut baby blues dan umumnya bersifat sementara.
Sementara itu, depresi postpartum dapat berlangsung lebih lama dan memengaruhi kemampuan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.
Gejalanya dapat berupa kesedihan yang menetap, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, rasa bersalah berlebihan, kelelahan, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, hingga munculnya pikiran negatif terhadap diri sendiri.
Karena itu, depresi postpartum tidak seharusnya dianggap sekadar kurang bersyukur atau tidak mampu menjalankan peran sebagai ibu.
Mengapa Ibu Bayi Prematur Lebih Rentan?
Salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus dalam penelitian mengenai kontak kulit adalah orang tua dengan bayi prematur.
Kelahiran prematur dapat membawa tantangan tersendiri bagi keluarga.
Bayi mungkin harus mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit atau ditempatkan di ruang perawatan intensif neonatal. Dalam kondisi tertentu, ibu tidak dapat langsung membawa bayi pulang atau melakukan kontak fisik selama yang diinginkan.
Situasi tersebut dapat menimbulkan tekanan emosional.
Orang tua mungkin merasa khawatir mengenai kondisi kesehatan bayi, takut terjadi sesuatu, atau merasa bersalah karena kelahiran terjadi lebih cepat dari perkiraan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan ibu yang memiliki bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko depresi postpartum yang lebih tinggi. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis menemukan bahwa ibu dari bayi prematur atau berat lahir rendah memiliki risiko PPD sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan ibu dengan bayi sehat.
Karena itu, kesempatan untuk melakukan kontak kulit ke kulit dapat menjadi pengalaman yang berarti bagi orang tua dalam kondisi tersebut.
Penelitian lain pada bayi prematur juga menemukan bahwa kontak kulit segera setelah stabilisasi berkaitan dengan interaksi ibu dan bayi yang lebih responsif serta risiko depresi postpartum yang lebih rendah dalam kelompok yang diteliti.
Hormon Oksitosin dan Hubungannya dengan Rasa Nyaman
Salah satu penjelasan mengenai manfaat kontak kulit ke kulit berkaitan dengan hormon oksitosin.
Oksitosin sering disebut sebagai hormon yang berhubungan dengan ikatan sosial dan kedekatan.
Ketika seseorang memeluk atau melakukan kontak fisik dengan bayinya, tubuh dapat mengalami berbagai respons fisiologis.
Menurut penjelasan Brandi Fields, kontak kulit ke kulit dapat mendorong pelepasan oksitosin yang berkaitan dengan rasa tenang, rileks, dan terhubung dengan bayi. Pada saat yang sama, respons tersebut juga berkaitan dengan penurunan hormon stres seperti kortisol.
Mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kontak kulit ke kulit dipandang berpotensi membantu orang tua merasa lebih tenang.
Namun, perlu dipahami bahwa mekanisme biologis tersebut bukan berarti setiap ibu yang melakukan skin-to-skin contact pasti terbebas dari depresi postpartum.
Kondisi mental seseorang dipengaruhi banyak faktor.
Ada Efek Psikologis di Balik Sentuhan
Manfaat kontak kulit dengan bayi juga tidak hanya berkaitan dengan hormon.
Ada aspek psikologis yang tidak kalah penting.
Bagi ibu baru, kehidupan setelah melahirkan dapat dipenuhi berbagai pertanyaan.
Apakah bayi sudah kenyang?
Apakah bayi menangis karena lapar?
Apakah posisi menyusui sudah benar?
Apakah bayi tidur terlalu lama?
Apakah berat badan bayi bertambah?
Pertanyaan semacam itu dapat membuat orang tua merasa tidak percaya diri.
Kontak langsung dengan bayi memberikan kesempatan bagi orang tua untuk memperhatikan respons bayi.
Ibu dapat melihat ekspresi wajah, mendengar suara, merasakan gerakan, dan mengenali pola kenyamanan bayi.
Pengalaman yang dilakukan berulang kali tersebut perlahan dapat membangun rasa percaya diri.
Psikolog Kait Towner menjelaskan bahwa kontak kulit dapat menciptakan momen bagi orang tua baru untuk memperhatikan dan merespons bayinya. Bagi ibu yang mengalami depresi atau kecemasan postpartum, momen tersebut dapat membantu menggeser pikiran negatif mengenai kemampuan mereka sebagai orang tua.
Dengan kata lain, proses membangun hubungan dengan bayi dapat berlangsung melalui banyak interaksi kecil.
Tidak harus selalu berupa aktivitas besar.
Memeluk, menggendong, menenangkan, berbicara, atau sekadar berada dekat dengan bayi juga dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Kontak Kulit Tidak Harus Dilakukan Saat Menyusui
Ada anggapan bahwa skin-to-skin contact hanya dapat dilakukan ketika ibu menyusui.
Padahal, kontak kulit dengan bayi tidak bergantung pada aktivitas menyusui.
Ibu yang memberikan susu formula juga dapat melakukan kontak kulit.
Caranya, bayi dapat ditempatkan di dada ibu ketika proses pemberian susu berlangsung, selama posisi tersebut aman dan ibu dapat memantau bayi.
Dengan demikian, manfaat kedekatan fisik tidak hanya diperuntukkan bagi ibu yang memberikan ASI.
Hal yang sama berlaku bagi ayah atau pasangan.
Orang tua lainnya juga dapat melakukan kontak kulit dengan bayi.
Ini penting karena kesehatan mental setelah kelahiran tidak hanya menjadi persoalan ibu.
Pasangan juga dapat mengalami perubahan emosional dan tekanan setelah memiliki bayi.
Memberikan kesempatan kepada ayah atau pasangan untuk melakukan kontak kulit dapat menjadi salah satu cara membangun kedekatan dengan bayi sekaligus memberikan ruang untuk berinteraksi secara langsung.
Bagaimana Cara Melakukan Skin-to-Skin Contact?
Bagi orang tua yang baru pertama kali melakukannya, kontak kulit ke kulit sebenarnya cukup sederhana.
Ibu atau ayah dapat menggunakan pakaian yang memungkinkan bagian dada terbuka. Bayi kemudian hanya menggunakan popok dan ditempatkan di dada dengan posisi yang nyaman.
Bayi sebaiknya berada dalam posisi yang memungkinkan orang tua melihat wajah dan memantau pernapasannya.
Selimut dapat digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan orang tua agar tetap hangat.
Orang tua juga perlu berada dalam kondisi terjaga.
Jangan melakukan kontak kulit dengan bayi dalam posisi yang berisiko membuat bayi tertutup atau sulit bernapas.
Jika orang tua sangat mengantuk, sebaiknya bayi dipindahkan ke tempat tidur bayi yang aman.
Untuk bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis tertentu, orang tua perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan.
Di rumah sakit, perawat atau tenaga medis biasanya dapat membantu menentukan posisi yang tepat.
Kapan Waktu yang Tepat Melakukan Kontak Kulit?
Tidak ada satu waktu yang harus selalu dipatuhi.
Kontak kulit dapat dilakukan ketika bayi sedang tenang.
Sebagian orang tua memilih melakukannya setelah bayi bangun, ketika menyusu, setelah mandi, atau menjelang tidur.
Pagi hari juga dapat menjadi waktu yang menyenangkan.
Ketika rumah masih relatif tenang, orang tua dapat menghabiskan beberapa waktu untuk menggendong bayi di dada sambil berbicara pelan.
Pada malam hari, kontak kulit juga bisa menjadi bagian dari rutinitas sebelum tidur, selama orang tua tetap terjaga dan kondisi bayi dapat dipantau.
Yang terpenting bukan mengejar durasi tertentu sampai membuat orang tua merasa terbebani.
Rutinitas perawatan bayi seharusnya tidak berubah menjadi sumber tekanan baru.
Tidak Perlu Memaksakan Diri
Menjadi orang tua baru sudah cukup melelahkan.
Kurang tidur, pekerjaan rumah, proses menyusui, dan berbagai kebutuhan bayi dapat membuat ibu kehabisan energi.
Karena itu, kontak kulit sebaiknya dilakukan sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan kewajiban tambahan.
Jika ibu sedang terlalu lelah, membutuhkan waktu istirahat, atau merasa tidak nyaman, tidak perlu memaksakan diri.
Dukungan dari pasangan dan keluarga justru sangat penting.
Pasangan dapat mengambil giliran menggendong bayi atau melakukan kontak kulit ketika ibu membutuhkan waktu untuk tidur dan memulihkan kondisi tubuh.
Bagaimana Jika Ibu Tidak Langsung Merasa Dekat dengan Bayinya?
Tidak semua ibu langsung merasakan ikatan emosional yang kuat setelah melahirkan.
Hal tersebut perlu dipahami sebagai sesuatu yang dapat terjadi.
Ada ibu yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan besar dalam hidupnya.
Proses melahirkan juga bisa menjadi pengalaman yang sangat melelahkan secara fisik maupun emosional.
Kontak kulit dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan secara perlahan.
Namun, ibu tidak perlu merasa bersalah jika belum langsung merasakan ikatan yang kuat.
Hubungan antara orang tua dan anak berkembang dari waktu ke waktu.
Interaksi sehari-hari, seperti menyusui, mengganti popok, memandikan, menggendong, berbicara, dan menenangkan bayi, semuanya dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Kontak Kulit Bukan Pengganti Pengobatan Depresi Postpartum
Ini menjadi bagian yang sangat penting.
Walaupun penelitian menunjukkan adanya potensi manfaat skin-to-skin contact terhadap kesehatan mental ibu, praktik ini bukan pengganti terapi atau pengobatan untuk depresi postpartum.
Bukti ilmiah mengenai manfaatnya juga tidak selalu menunjukkan hasil yang sama.
Misalnya, meta-analisis pada ibu dengan bayi prematur atau berat lahir rendah menemukan adanya efek protektif kecil terhadap skor depresi, tetapi para peneliti juga mencatat adanya perbedaan besar antarpenelitian dan menyebut perlunya penelitian yang lebih baik untuk memastikan dampak klinisnya.
Penelitian lain pada ibu dan bayi cukup bulan menemukan kontak kulit harian dapat membantu mengurangi kecemasan dan kelelahan pada periode awal setelah melahirkan, tetapi tidak menemukan efek terhadap gejala depresi.
Artinya, hasil penelitian harus dibaca secara hati-hati.
Kontak kulit dapat menjadi salah satu bagian dari perawatan dan dukungan setelah persalinan, tetapi bukan solusi tunggal.
Kapan Ibu Perlu Mencari Bantuan?
Jika perasaan sedih, cemas, kosong, atau putus asa berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, ibu sebaiknya tidak menghadapinya sendirian.
Terlebih jika muncul kesulitan merawat diri atau bayi, kehilangan minat terhadap aktivitas, rasa bersalah yang sangat berat, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Dalam situasi seperti itu, berbicara dengan dokter, bidan, psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan lain merupakan langkah yang penting.
Dukungan pasangan dan keluarga juga sangat dibutuhkan.
Meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi orang tua.
Justru mencari pertolongan ketika kondisi mulai terasa berat merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan bayi.
Manfaatnya Bisa Dirasakan Ayah
Menariknya, kontak kulit dengan bayi juga tidak harus selalu dilakukan oleh ibu.
Ayah dapat melakukan hal yang sama.
Setelah bayi lahir, ayah mungkin membutuhkan waktu untuk membangun hubungan dengan anaknya.
Kontak kulit memberikan kesempatan untuk menciptakan interaksi langsung.
Ayah dapat duduk dalam posisi nyaman, menempelkan bayi di dada, kemudian membiarkan bayi beristirahat sambil tetap diawasi.
Aktivitas sederhana tersebut dapat menjadi momen yang berharga.
Selain membangun kedekatan ayah dan bayi, hal tersebut juga dapat membantu pasangan berbagi tanggung jawab dalam merawat anak.
Mengapa Rutinitas Sederhana Bisa Berarti?
Kehidupan bersama bayi sering kali terdiri dari rutinitas yang berulang.
Bangun, menyusui, mengganti popok, tidur, menangis, digendong, kemudian kembali tidur.
Bagi orang dewasa, rutinitas tersebut terkadang terasa melelahkan.
Namun, justru dari aktivitas yang berulang itulah hubungan antara orang tua dan bayi terbentuk.
Kontak kulit menjadi salah satu cara sederhana untuk memperlambat aktivitas sejenak.
Orang tua bisa duduk, memeluk bayi, dan fokus pada momen tersebut.
Tidak perlu sambil membuka ponsel atau melakukan pekerjaan lain.
Beberapa menit untuk benar-benar hadir bersama bayi dapat menjadi pengalaman yang berbeda di tengah rutinitas yang padat.
Pelajaran Penting bagi Orang Tua Baru
Temuan mengenai kontak kulit dan depresi postpartum memberikan pesan yang cukup sederhana.
Kedekatan fisik antara orang tua dan bayi memiliki nilai lebih dari sekadar membuat bayi merasa nyaman.
Sentuhan dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan, menenangkan tubuh, dan memberikan kesempatan bagi orang tua untuk mengenal bayinya.
Namun, kesehatan mental setelah melahirkan tetap membutuhkan perhatian yang lebih luas.
Tidur yang cukup, bantuan pasangan, dukungan keluarga, komunikasi dengan tenaga kesehatan, nutrisi yang baik, aktivitas fisik sesuai kondisi, dan kesempatan untuk beristirahat sama pentingnya.
Tidak ada satu aktivitas yang dapat menyelesaikan seluruh tantangan setelah melahirkan.
Kesimpulan
Kontak kulit ke kulit atau skin-to-skin contact merupakan cara sederhana yang selama ini dikenal memiliki berbagai manfaat bagi bayi. Praktik tersebut dapat membantu pengaturan suhu tubuh, mendukung proses menyusui, serta memperkuat ikatan antara bayi dan orang tua.
Penelitian terbaru menambah bukti bahwa manfaat tersebut mungkin juga berkaitan dengan kondisi mental orang tua, termasuk potensi penurunan gejala atau risiko depresi postpartum. Sejumlah penelitian sebelumnya juga menemukan hubungan antara kontak kulit dengan penurunan stres dan gejala depresi pada periode tertentu setelah melahirkan.
Manfaat tersebut diduga berkaitan dengan berbagai mekanisme biologis dan psikologis, termasuk respons oksitosin, pengurangan stres, serta terbentuknya interaksi berulang antara orang tua dan bayi.
Bagi orang tua yang memiliki bayi prematur, kontak kulit bahkan menjadi perhatian khusus karena kelompok tersebut menghadapi tantangan dan risiko tekanan mental yang lebih tinggi.
Meski begitu, skin-to-skin contact bukan “obat” untuk depresi postpartum. Jika ibu mengalami gejala depresi yang menetap atau semakin berat, bantuan profesional tetap diperlukan.
Pada akhirnya, merawat bayi bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisiknya. Hubungan, sentuhan, perhatian, dan dukungan emosional juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menjadi orang tua.
Kontak kulit ke kulit dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan momen tersebut. Tidak harus rumit, tidak harus menggunakan peralatan khusus, dan tidak harus selalu dilakukan dalam waktu lama. Yang terpenting adalah dilakukan dengan aman, nyaman, dan menjadi bagian dari hubungan yang sehat antara orang tua dan bayi.
Sumber : www.cnnindonesia.com
