Ilustrasi kimpul dan talas. (Gambar di buat dengan Chat GPT)
Buletinmedia.com – Kimpul belakangan menjadi salah satu bahan pangan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Umbi yang selama ini mungkin belum terlalu dikenal oleh sebagian masyarakat tersebut mendadak menarik perhatian setelah seorang influencer menunjukkan berbagai cara mengolah kimpul menjadi makanan yang tidak biasa.
Jika selama ini kimpul lebih sering dikenal sebagai umbi yang direbus atau dikukus, ternyata bahan pangan tersebut dapat diolah menjadi berbagai hidangan modern. Mulai dari makanan yang menyerupai olahan ayam, lasagna, hingga jajanan khas Korea.
Kreasi tersebut membuat kimpul semakin banyak dibicarakan. Apalagi, pengolahannya tidak hanya menarik dari sisi tampilan, tetapi juga menunjukkan bahwa bahan pangan lokal bisa dimanfaatkan menjadi makanan yang lebih beragam.
Kimpul sebenarnya bukan tanaman baru di Indonesia. Umbi ini telah lama tumbuh di berbagai daerah dan masih satu keluarga dengan talas. Namun, popularitasnya kembali meningkat setelah kreasi makanan berbahan kimpul ramai muncul di TikTok.
Salah satu akun yang banyak memperkenalkan olahan kimpul adalah akun TikTok @black.sheep8208 milik seorang influencer asal Bantul.
Melalui berbagai unggahan, influencer tersebut menunjukkan bahwa kimpul tidak harus selalu disajikan dengan cara tradisional.
Kimpul Viral di Media Sosial
Perbincangan mengenai kimpul bermula dari berbagai kreasi makanan yang diunggah ke media sosial.
Influencer tersebut cukup aktif memperlihatkan proses pengolahan kimpul menjadi berbagai jenis makanan. Tidak hanya sekadar direbus atau dikukus, kimpul dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk membuat makanan yang selama ini identik dengan kentang atau daging.
Salah satu kreasi yang cukup menarik perhatian adalah Cikuro Kimpul.
Dalam kreasi tersebut, kimpul digunakan sebagai pengganti daging ayam. Video mengenai olahan tersebut bahkan berhasil mendapatkan sekitar 390.500 likes di TikTok.
Jumlah tersebut menunjukkan tingginya rasa penasaran pengguna media sosial terhadap kimpul.
Bagi sebagian orang, kimpul mungkin masih terdengar asing. Namun, melalui kreasi makanan tersebut, banyak orang akhirnya mulai mencari tahu mengenai jenis umbi yang satu ini.
Tidak berhenti di Cikuro Kimpul, influencer tersebut juga membuat berbagai kreasi lain.
Kimpul digunakan sebagai bahan membuat lasagna. Ada pula eksperimen membuat gamjajeon, yaitu pancake khas Korea yang biasanya menggunakan kentang, tetapi dalam kreasi tersebut diganti dengan kimpul.
Kreasi tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bahwa kimpul dapat digunakan sebagai bahan pengganti dalam berbagai resep.
Disebut Duta Ketahanan Pangan oleh Netizen
Keunikan olahan kimpul tersebut membuat netizen memberikan julukan khusus kepada sang influencer.
Ia bahkan disebut sebagai Duta Ketahanan Pangan.
Julukan tersebut muncul karena berbagai eksperimen yang dilakukan menunjukkan bagaimana bahan pangan lokal dapat dimanfaatkan sebagai alternatif makanan sehari-hari.
“Benar-benar cocok dijuluki Duta Ketahanan Pangan,” ujar salah seorang netizen dalam kolom komentar.
Julukan tersebut memang terdengar unik. Namun, di balik komentar tersebut terdapat perhatian terhadap potensi pangan lokal.
Indonesia memiliki banyak jenis umbi yang sebenarnya dapat menjadi sumber karbohidrat. Singkong, ubi jalar, talas, ganyong, garut, suweg, hingga kimpul merupakan beberapa contoh tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Selama ini, nasi masih menjadi sumber karbohidrat utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Padahal, diversifikasi pangan dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan lebih banyak pilihan sumber karbohidrat.
Kimpul kemudian menjadi salah satu contoh bagaimana bahan pangan yang sederhana dapat diolah menjadi makanan yang lebih modern dan menarik.
Apa Itu Kimpul?
Lalu, apa itu kimpul?
Kimpul merupakan salah satu jenis umbi yang masih berada dalam keluarga talas atau Araceae.
Kimpul memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium dan dikenal dengan sejumlah nama lain di berbagai daerah.
Beberapa di antaranya adalah talas Belitung, bentul, bothe, dan sejumlah nama lokal lainnya.
Secara tampilan, kimpul memiliki bentuk yang cukup mirip dengan kelompok tanaman talas.
Tanaman ini menghasilkan umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
Kimpul juga termasuk tanaman yang dapat tumbuh di wilayah tropis, termasuk Indonesia.
Karena itu, keberadaan kimpul sebenarnya tidak sulit ditemukan di sejumlah daerah.
Namun, pemanfaatannya belum sepopuler singkong atau ubi.
Padahal, jika diolah dengan benar, kimpul dapat menjadi bahan makanan yang cukup menarik.
Seperti Apa Rasa Kimpul?
Salah satu hal yang membuat kimpul menarik adalah karakter teksturnya.
Kimpul memiliki tekstur yang lembut dan pulen ketika sudah matang.
Ada pula sensasi sedikit masir yang membuat teksturnya berbeda dari kentang maupun talas biasa.
Jika dibandingkan, tekstur kimpul sering digambarkan seperti perpaduan antara kentang dan talas.
Dari segi rasa, kimpul memiliki cita rasa gurih dengan sedikit rasa manis alami.
Karakter tersebut membuat kimpul cukup mudah dipadukan dengan berbagai bahan makanan.
Itulah salah satu alasan kimpul dapat digunakan untuk membuat makanan gurih maupun berbagai kreasi lainnya.
Dengan teknik pengolahan yang tepat, tekstur kimpul juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan resep.
Misalnya, kimpul dapat dihaluskan untuk membuat adonan.
Kimpul juga dapat dipotong atau dibentuk menjadi bagian tertentu dari makanan.
Cara Mengolah Kimpul
Meski terlihat sederhana, kimpul tidak bisa langsung dikonsumsi tanpa proses pengolahan yang tepat.
Salah satu cara paling umum untuk mengolah kimpul adalah dengan merebus atau mengukusnya hingga matang.
Proses pemasakan diperlukan untuk membuat teksturnya menjadi lebih lembut sekaligus membantu mengurangi rasa atau sensasi yang kurang nyaman ketika dikonsumsi.
Hal yang perlu diperhatikan adalah keberadaan lendir pada kimpul.
Jika tidak diolah dengan benar, kimpul dapat menimbulkan sensasi gatal di mulut atau tenggorokan.
Karena itu, kimpul sebaiknya dimasak sampai matang dan diolah dengan cara yang tepat sebelum disantap.
Setelah matang, kimpul dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis makanan.
Pengolahan sederhana bisa dilakukan dengan mengukus kemudian menyantapnya sebagai sumber karbohidrat.
Namun, bagi yang ingin mencoba resep berbeda, kimpul dapat diolah menjadi berbagai makanan modern.
Kimpul Bisa Jadi Pengganti Kentang
Salah satu potensi kimpul adalah penggunaannya sebagai bahan pengganti kentang.
Tekstur kimpul yang lembut dan pulen membuatnya dapat digunakan dalam sejumlah makanan yang biasanya menggunakan kentang.
Contohnya adalah gamjajeon.
Gamjajeon merupakan pancake khas Korea yang umumnya dibuat dari kentang.
Dalam kreasi yang dibagikan influencer tersebut, kimpul digunakan sebagai pengganti kentang.
Hasilnya menjadi salah satu contoh bagaimana bahan pangan lokal bisa masuk ke dalam resep makanan dari negara lain.
Kreasi semacam ini juga dapat menjadi cara untuk mengenalkan kimpul kepada generasi muda.
Jika biasanya anak muda mengenal kentang karena digunakan dalam berbagai makanan modern, kimpul dapat diperkenalkan melalui pendekatan yang serupa.
Kimpul Diolah Menjadi Lasagna
Kreasi lain yang tidak kalah menarik adalah penggunaan kimpul sebagai bahan membuat lasagna.
Lasagna selama ini identik dengan pasta, saus, daging, dan keju.
Namun, kreativitas dalam memasak memungkinkan bahan-bahan tertentu diganti dengan bahan lokal.
Kimpul kemudian digunakan sebagai salah satu bahan dalam kreasi lasagna.
Teksturnya yang lembut dapat memberikan sensasi berbeda pada hidangan tersebut.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa kimpul tidak hanya cocok untuk makanan tradisional.
Umbi lokal tersebut juga dapat digunakan untuk membuat makanan yang lebih modern.
Bagi orang yang belum pernah mencoba kimpul, kreasi seperti lasagna bisa menjadi salah satu cara menarik untuk mengenalnya.
Kimpul Diolah Menjadi ‘Ayam’
Kreasi paling menarik lainnya adalah penggunaan kimpul sebagai pengganti daging ayam.
Melalui Cikuro Kimpul, influencer tersebut mencoba mengubah kimpul menjadi bahan makanan yang memiliki tampilan dan tekstur menyerupai olahan ayam.
Kreasi tersebut mendapatkan perhatian besar di TikTok.
Penggunaan kimpul sebagai pengganti bahan makanan tertentu menunjukkan bahwa kreativitas dalam mengolah pangan lokal sebenarnya sangat luas.
Tentu saja, kimpul tidak memiliki kandungan protein yang sama dengan daging ayam.
Namun, dari sisi tekstur dan cara pengolahan, kimpul dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam kreasi makanan tertentu.
Karena itu, istilah “ayam kimpul” atau kimpul sebagai pengganti ayam lebih tepat dipahami sebagai kreasi kuliner, bukan berarti kandungan gizinya sama dengan ayam.
Kimpul sebagai Sumber Karbohidrat
Selain menarik karena dapat dikreasikan menjadi berbagai makanan, kimpul juga memiliki nilai gizi yang membuatnya layak diperhitungkan sebagai salah satu sumber karbohidrat.
Spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa kimpul merupakan salah satu sumber karbohidrat.
Menurutnya, kandungan serat dalam kimpul juga cukup baik.
“Seratnya juga lumayan lebih tinggi, jadi bisa bikin kenyang lebih lama dibanding nasi putih,” kata dr. Igus Ulfa Yaze, seperti dikutip dari detikHealth pada 3 Agustus 2026.
Kandungan serat tersebut menjadi salah satu hal yang membuat kimpul menarik sebagai alternatif sumber karbohidrat.
Serat dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Namun, jumlah kandungan gizi tetap dapat berbeda bergantung pada jenis, ukuran, serta cara pengolahan kimpul.
Benarkah Kimpul Lebih Sehat daripada Nasi?
Pertanyaan tersebut mungkin muncul setelah kimpul ramai diperbincangkan.
Kimpul memang dapat menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat.
Namun, tidak tepat jika langsung menyebut bahwa kimpul secara mutlak lebih sehat daripada nasi.
Keduanya memiliki karakteristik nutrisi yang berbeda.
Kimpul memiliki kandungan serat yang dapat membantu memberikan rasa kenyang.
Sementara nasi merupakan sumber karbohidrat yang sudah sangat umum dikonsumsi masyarakat.
Pilihan makanan sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, jumlah porsi, serta keseluruhan pola makan.
Dengan kata lain, kimpul dapat menjadi bagian dari diversifikasi pangan tanpa harus menganggap nasi sebagai makanan yang harus sepenuhnya ditinggalkan.
Kimpul dan Indeks Glikemik
Kimpul juga disebut memiliki indeks glikemik yang relatif rendah.
Indeks glikemik atau IG merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi.
Makanan dengan indeks glikemik lebih rendah cenderung menyebabkan kenaikan gula darah yang lebih lambat dibandingkan makanan dengan indeks glikemik tinggi.
Hal tersebut membuat kimpul menarik untuk dimasukkan dalam pembahasan mengenai pilihan sumber karbohidrat.
Namun, cara memasak dan makanan pendamping juga dapat memengaruhi respons gula darah.
Karena itu, kimpul bukan berarti bebas dikonsumsi tanpa memperhatikan porsi, terutama bagi orang yang memiliki kondisi medis tertentu.
Apakah Kimpul Cocok untuk Penderita Diabetes?
Kimpul disebut dapat menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat bagi penderita diabetes karena indeks glikemiknya yang relatif rendah.
Namun, bukan berarti penderita diabetes dapat mengonsumsi kimpul tanpa batas.
Porsi tetap menjadi hal penting.
Cara pengolahan juga perlu diperhatikan.
Kimpul yang diolah menjadi makanan dengan tambahan gula, tepung, atau bahan tinggi lemak tentu memiliki karakter nutrisi yang berbeda dibandingkan kimpul yang hanya dikukus.
Karena itu, jika ingin menjadikan kimpul sebagai bagian dari pola makan untuk kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya tetap mempertimbangkan kebutuhan masing-masing individu.
Manfaat Kimpul untuk Pencernaan
Kandungan serat dalam kimpul menjadi salah satu alasan umbi ini menarik untuk dikonsumsi.
Serat memiliki peran penting dalam sistem pencernaan.
Asupan serat yang cukup dapat membantu menjaga keteraturan buang air besar dan mendukung fungsi saluran pencernaan.
Namun, kebutuhan serat setiap orang berbeda.
Selain mengandalkan kimpul, sumber serat sebaiknya berasal dari berbagai makanan seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Dengan pola makan yang beragam, tubuh mendapatkan berbagai jenis zat gizi yang dibutuhkan.
Potensi Kimpul sebagai Pangan Lokal
Popularitas kimpul di media sosial sebenarnya bisa menjadi momentum untuk kembali melihat potensi pangan lokal.
Indonesia memiliki banyak tanaman pangan yang belum mendapatkan perhatian sebesar nasi, gandum, kentang, atau singkong.
Padahal, beberapa jenis umbi lokal dapat dikembangkan menjadi berbagai produk makanan.
Kimpul menjadi salah satu contohnya.
Jika selama ini kimpul hanya dikenal sebagai makanan tradisional, kreasi yang ditampilkan di media sosial menunjukkan bahwa umbi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk kuliner yang lebih modern.
Mulai dari camilan, makanan utama, hingga kreasi yang terinspirasi dari makanan luar negeri.
Kimpul dan Diversifikasi Pangan
Diversifikasi pangan merupakan salah satu topik yang sering dibicarakan ketika membahas ketahanan pangan.
Ketergantungan terhadap satu jenis sumber pangan dapat menjadi tantangan ketika terjadi perubahan harga, produksi, maupun kondisi lingkungan.
Karena itu, mengenalkan berbagai sumber karbohidrat lokal menjadi langkah yang menarik.
Kimpul dapat menjadi salah satu pilihan.
Tentu saja, pengembangan kimpul tidak hanya bergantung pada popularitas di media sosial.
Diperlukan pengembangan dari sisi budidaya, pengolahan, pemasaran, hingga edukasi kepada masyarakat.
Jika dilakukan secara berkelanjutan, kimpul berpotensi memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Mengapa Kimpul Baru Viral Sekarang?
Kimpul sebenarnya sudah lama dikenal di sejumlah daerah.
Namun, media sosial membuat makanan yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan tertentu dapat dengan cepat menjadi perhatian masyarakat luas.
Satu video yang menarik bisa membuat orang penasaran dan kemudian mencari informasi mengenai bahan yang digunakan.
Hal tersebut tampaknya terjadi pada kimpul.
Kreasi makanan yang tidak biasa membuat banyak orang bertanya-tanya mengenai bahan dasarnya.
Dari situlah muncul rasa ingin tahu mengenai apa itu kimpul, bagaimana rasanya, bagaimana cara mengolahnya, hingga apa saja kandungan gizinya.
Media Sosial Membuka Peluang Pangan Lokal
Fenomena kimpul juga menunjukkan bagaimana media sosial dapat membantu memperkenalkan bahan pangan lokal.
Konten makanan tidak selalu harus menggunakan bahan yang mahal atau sulit ditemukan.
Bahan sederhana seperti umbi-umbian juga dapat menarik perhatian jika dikemas secara kreatif.
Dalam kasus kimpul, proses eksperimen memasak justru menjadi daya tarik.
Netizen dapat melihat bagaimana satu jenis umbi digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan.
Dari sana, muncul percakapan yang lebih luas mengenai pangan lokal.
Cara Memilih Kimpul
Bagi masyarakat yang tertarik mencoba kimpul, pemilihan bahan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Pilih kimpul yang kondisinya masih baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda pembusukan.
Umbi sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan tidak terlalu lembap.
Sebelum diolah, kimpul perlu dibersihkan dari tanah atau kotoran yang menempel.
Setelah itu, kulit dapat dikupas dan umbi dipotong sesuai kebutuhan resep.
Yang paling penting adalah memastikan kimpul dimasak sampai matang sebelum dikonsumsi.
Jangan Mengonsumsi Kimpul dalam Kondisi Mentah
Kimpul sebaiknya tidak dikonsumsi mentah.
Proses pemasakan menjadi bagian penting dalam pengolahan umbi tersebut.
Jika belum dimasak dengan benar, kimpul dapat menyebabkan sensasi gatal pada mulut atau tenggorokan.
Karena itu, masyarakat yang baru pertama kali mencoba kimpul sebaiknya mengikuti cara pengolahan yang tepat.
Merebus atau mengukus hingga matang merupakan salah satu cara sederhana untuk mengolahnya.
Setelah matang, kimpul dapat dikembangkan menjadi berbagai menu sesuai selera.
Kimpul Bisa Jadi Bahan Makanan Kekinian
Salah satu kelebihan kimpul adalah sifatnya yang cukup fleksibel untuk dikreasikan.
Umbi tersebut bisa dijadikan bahan makanan gurih maupun menjadi bagian dari resep yang lebih modern.
Kreasi seperti lasagna, gamjajeon, hingga olahan menyerupai ayam menjadi bukti bahwa kimpul tidak harus berhenti pada makanan tradisional.
Bagi pelaku usaha kuliner, kondisi tersebut juga membuka peluang.
Kimpul dapat menjadi bahan dasar produk yang memiliki ciri khas lokal.
Jika dikemas dengan baik, makanan berbahan kimpul dapat memiliki daya tarik tersendiri.
Kesimpulan
Kimpul merupakan salah satu jenis umbi lokal yang masih satu keluarga dengan talas. Umbi ini memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium dan dikenal dengan sejumlah nama lain, seperti talas Belitung, bentul, dan bothe.
Kimpul memiliki tekstur lembut, pulen, sedikit masir, serta rasa gurih dan manis alami. Selama ini, kimpul lebih sering diolah dengan cara direbus atau dikukus.
Namun, popularitas kimpul meningkat setelah seorang influencer asal Bantul melalui akun TikTok @black.sheep8208 memperlihatkan berbagai kreasi makanan berbahan dasar umbi tersebut.
Kimpul kemudian diolah menjadi Cikuro Kimpul, digunakan sebagai pengganti daging ayam, dijadikan bahan lasagna, hingga digunakan untuk membuat gamjajeon yang biasanya menggunakan kentang.
Kreasi tersebut membuat kimpul mendapatkan perhatian besar dari netizen. Bahkan, sang influencer mendapat julukan Duta Ketahanan Pangan karena dianggap berhasil memperkenalkan alternatif pangan lokal melalui kreasi makanan.
Dari sisi nutrisi, kimpul merupakan sumber karbohidrat dan memiliki kandungan serat yang dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Umbi ini juga disebut memiliki indeks glikemik relatif rendah dan rendah lemak.
Meski demikian, cara pengolahan dan porsi tetap perlu diperhatikan. Kimpul juga harus dimasak dengan benar sebelum dikonsumsi karena pengolahan yang tidak tepat dapat menimbulkan sensasi gatal pada mulut atau tenggorokan.
Fenomena kimpul viral di media sosial menjadi contoh bahwa pangan lokal sebenarnya memiliki potensi yang besar. Dengan kreativitas dalam pengolahan, umbi yang selama ini kurang populer dapat diubah menjadi makanan yang menarik dan lebih dekat dengan selera generasi sekarang.
Bukan hanya soal tren media sosial, popularitas kimpul juga membuka kembali pembicaraan mengenai pentingnya mengenal dan memanfaatkan berbagai sumber pangan lokal Indonesia.
Sumber : www.detik.food.com
