Trofi Piala Dunia. (AP Photo/Martine Meissner)
Buletinmedia.com – Hubungan antara FIFA dan UEFA kembali memanas. Sejumlah negara anggota UEFA dilaporkan mulai membahas kemungkinan melakukan boikot terhadap Piala Dunia jika Presiden FIFA Gianni Infantino tetap melanjutkan rencana menjual sebagian kepemilikan perusahaan komersial baru FIFA kepada investor swasta.
Rencana tersebut menjadi sorotan setelah FIFA disebut tengah menyiapkan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise. Perusahaan tersebut diproyeksikan memiliki nilai sekitar US$20 miliar dan akan menjadi salah satu bagian penting dari strategi komersial FIFA dalam mengembangkan bisnis sepak bola global.
Namun, langkah tersebut mendapat penolakan keras dari UEFA. Badan sepak bola Eropa itu mempertanyakan transparansi rencana FIFA, terutama mengenai pihak yang nantinya akan memiliki saham serta siapa yang akan memperoleh keuntungan dari aktivitas komersial perusahaan tersebut.
Perselisihan ini bahkan disebut berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Sejumlah asosiasi sepak bola Eropa dikabarkan siap mempertimbangkan langkah ekstrem berupa boikot terhadap turnamen yang berada di bawah FIFA apabila rencana tersebut tetap dijalankan.
Negara Eropa Bahas Kemungkinan Boikot Piala Dunia
Menurut laporan Sky Sports, asosiasi sepak bola Eropa akan menggelar pertemuan darurat secara virtual pada pekan ini. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas sikap bersama terhadap rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise.
Pertemuan ini menjadi penting karena UEFA memiliki posisi strategis dalam sepak bola dunia. Meskipun jumlah anggota UEFA hanya 55 dari total 211 asosiasi anggota FIFA, negara-negara Eropa memiliki pengaruh besar terhadap nilai komersial sepak bola internasional.
Liga-liga top Eropa menjadi pusat perhatian industri sepak bola dunia. Banyak pemain terbaik berasal dari negara-negara Eropa, sementara kompetisi klub di kawasan tersebut memiliki basis penggemar global yang sangat besar.
Karena itu, ancaman boikot dari negara-negara Eropa berpotensi memberikan tekanan besar kepada FIFA.
Rencana FIFA Forward Enterprise sendiri disebut melibatkan penggalangan dana senilai US$4,2 miliar. Dari total nilai perusahaan yang diproyeksikan mencapai US$20 miliar, FIFA berencana melepas lebih dari 20 persen kepemilikan kepada investor eksternal.
Rencana tersebut baru dikonfirmasi secara terbuka oleh FIFA setelah UEFA terlebih dahulu menyampaikan kekhawatirannya.
UEFA Tegas: Sepak Bola Bukan untuk Dijual
UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras menyuarakan penolakan terhadap rencana tersebut.
Dalam pernyataannya, UEFA menilai FIFA telah melampaui batas yang seharusnya tidak dilewati oleh lembaga yang mengatur sepak bola dunia.
UEFA mempertanyakan konsep kepemilikan dan tata kelola sepak bola apabila sebagian kepentingan komersial FIFA diberikan kepada investor swasta.
Bagi UEFA, sepak bola bukan sekadar sebuah industri yang dapat diperlakukan seperti perusahaan biasa.
“Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilampaui oleh institusi pengelola sepak bola,” demikian pernyataan UEFA.
UEFA juga menegaskan bahwa persoalan tersebut dipandang dengan sangat serius.
“Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. Itu bukan milik FIFA untuk dijual,” lanjut pernyataan tersebut.
Pernyataan itu memperlihatkan besarnya kekhawatiran UEFA terhadap kemungkinan perubahan struktur bisnis FIFA.
Jika FIFA benar-benar menjual sebagian saham perusahaan komersialnya kepada investor eksternal, UEFA khawatir kepentingan bisnis dapat memiliki pengaruh lebih besar terhadap arah pengelolaan sepak bola dunia.
Ancaman Boikot Bukan Pertama Kali Terjadi
Ancaman boikot terhadap turnamen FIFA sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Pada 2021, konflik antara FIFA dan UEFA juga sempat memanas ketika FIFA mengusulkan agar Piala Dunia digelar setiap dua tahun, bukan empat tahun sekali.
Gagasan tersebut mendapatkan penolakan dari sejumlah negara dan organisasi sepak bola Eropa.
Saat itu, Presiden UEFA Aleksander Ceferin bahkan menyatakan negara-negara Eropa dapat memilih untuk tidak berpartisipasi jika rencana Piala Dunia dua tahunan tersebut benar-benar diterapkan.
Penolakan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat gagasan tersebut akhirnya tidak berlanjut seperti rencana awal.
Kini, beberapa tahun kemudian, ancaman serupa kembali muncul.
Bedanya, persoalan kali ini bukan mengenai frekuensi penyelenggaraan Piala Dunia, melainkan mengenai struktur bisnis dan kepemilikan perusahaan komersial yang akan dibentuk FIFA.
Hubungan FIFA dan UEFA Semakin Tegang
Perselisihan mengenai FIFA Forward Enterprise juga tidak dapat dilepaskan dari hubungan FIFA dan UEFA yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering diwarnai perbedaan pandangan.
Kedua organisasi tersebut memang memiliki kepentingan yang sangat besar dalam sepak bola dunia, tetapi tidak selalu memiliki pandangan yang sama mengenai berbagai kebijakan.
Ketegangan kembali terlihat pada Piala Dunia 2026.
UEFA sebelumnya mengecam keputusan FIFA mencabut hukuman larangan bermain terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah muncul permintaan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sikap tersebut kemudian membuat Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengambil langkah simbolis dengan tidak menghadiri pertandingan final Piala Dunia.
Ceferin sebelumnya hadir pada laga pembuka, tetapi memilih tidak datang pada pertandingan puncak sebagai bentuk protes.
Perselisihan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara FIFA dan UEFA tidak selalu berjalan mulus, bahkan ketika keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam mengembangkan sepak bola global.
Sorotan terhadap Gianni Infantino
Gianni Infantino juga beberapa kali menjadi sasaran kritik dari pihak-pihak di Eropa.
Pada 2025, UEFA mengkritik Infantino karena dinilai lebih mengutamakan kepentingan politik dibandingkan agenda sepak bola.
Infantino diketahui datang terlambat ke Kongres FIFA setelah mengikuti lawatan Presiden Donald Trump ke kawasan Teluk.
Kehadiran Infantino dalam sejumlah agenda politik dan bisnis juga menjadi perhatian karena posisinya sebagai pemimpin organisasi sepak bola terbesar di dunia.
Kini, rencana FIFA Forward Enterprise kembali menempatkan Infantino dalam sorotan.
Salah satu kelompok investor yang disebut dalam rencana tersebut adalah Thrive Capital, perusahaan yang dipimpin Josh Kushner. Josh Kushner diketahui merupakan saudara Jared Kushner, menantu Donald Trump.
Keterkaitan tersebut semakin membuat rencana FIFA mendapatkan perhatian, terutama karena sebelumnya juga muncul laporan mengenai kedekatan Infantino dengan sejumlah agenda bisnis yang berkaitan dengan keluarga Trump.
Sky News sebelumnya melaporkan bahwa Infantino sempat mempromosikan gagasan mengenai mata uang kripto FIFA dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh World Liberty Financial, perusahaan yang berkaitan dengan keluarga Trump.
Situasi tersebut membuat sejumlah pihak semakin mempertanyakan arah bisnis FIFA di bawah kepemimpinan Infantino.
FIFA Punya Alasan Sendiri
Di tengah kritik UEFA, Gianni Infantino membantah anggapan bahwa rencana FIFA Forward Enterprise hanya bertujuan mengejar keuntungan komersial.
Infantino mengatakan perusahaan tersebut justru dibuat untuk meningkatkan nilai bisnis sepak bola sehingga hasil yang diperoleh dapat didistribusikan lebih luas kepada asosiasi anggota FIFA.
FIFA saat ini memiliki 211 asosiasi anggota.
Dalam skema yang direncanakan, setiap federasi nasional disebut berpeluang mendapatkan pendanaan hingga US$20 juta untuk periode 2027 hingga 2030.
Jumlah tersebut meningkat cukup besar dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai US$8 juta.
Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan pengembangan sepak bola.
Mulai dari pembangunan infrastruktur, pengembangan pelatih, tim nasional, penyelenggaraan kompetisi, hingga pembinaan pemain di level akar rumput.
Menurut Infantino, peningkatan pendanaan tersebut merupakan salah satu alasan FIFA membutuhkan struktur bisnis baru.
“Tahap pertumbuhan berikutnya membutuhkan struktur baru, di mana sisi komersial sepak bola dijalankan sebagai bisnis yang fokus dan nilai yang dihasilkannya dapat dibagikan secara lebih luas ke seluruh dunia,” kata Infantino.
Ia juga menegaskan bahwa setiap asosiasi anggota FIFA harus mendapatkan kesempatan memperoleh pendanaan yang adil.
“Ini tentang demokratisasi sepak bola di seluruh dunia,” ujarnya.
FIFA Ingin Meningkatkan Pendanaan Negara Anggota
Dari sudut pandang FIFA, model bisnis baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemasukan sekaligus memperbesar jumlah dana yang dapat dikembalikan untuk program pengembangan sepak bola.
Selama ini, FIFA memang memiliki berbagai program bantuan bagi asosiasi anggota.
Program tersebut digunakan untuk membantu negara-negara yang memiliki keterbatasan dalam membangun fasilitas olahraga, mengembangkan akademi, meningkatkan kualitas pelatih, hingga menjalankan kompetisi usia muda.
Dengan meningkatnya nilai komersial sepak bola dunia, FIFA melihat adanya peluang untuk memperbesar pendanaan tersebut.
Namun, persoalan yang diperdebatkan UEFA bukan hanya mengenai jumlah dana yang akan diberikan.
UEFA lebih menyoroti siapa yang nantinya memiliki kepentingan dalam perusahaan komersial FIFA dan bagaimana struktur pengambilan keputusan akan berjalan.
Transparansi menjadi salah satu isu utama yang kemungkinan akan dibahas dalam pertemuan darurat asosiasi sepak bola Eropa.
UEFA Memiliki Posisi Tawar Kuat
Meskipun UEFA hanya memiliki 55 anggota, posisi organisasi tersebut sangat kuat dalam sepak bola dunia.
Negara-negara Eropa merupakan rumah bagi sejumlah kompetisi paling populer di dunia.
Selain itu, sebagian besar pemain elite dunia juga berkarier di klub-klub Eropa.
Dari sisi komersial, pasar Eropa memiliki nilai yang sangat besar. Hak siar televisi, sponsor, penjualan tiket, merchandise, hingga berbagai aktivitas bisnis sepak bola menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu pusat ekonomi sepak bola dunia.
Situasi itu membuat ancaman boikot dari negara-negara Eropa tidak bisa dianggap sepele.
Jika sejumlah negara besar benar-benar mengambil keputusan untuk tidak mengikuti turnamen FIFA, dampaknya dapat terasa terhadap nilai komersial dan daya tarik kompetisi.
Piala Dunia berikutnya yang menjadi agenda terdekat adalah Piala Dunia Wanita 2027 yang akan berlangsung di Brasil.
Apabila konflik terus berlanjut dan ancaman boikot benar-benar direalisasikan, turnamen tersebut dapat menjadi salah satu ajang yang ikut terdampak.
Piala Dunia Berpotensi Jadi Arena Pertarungan Kepentingan
Perselisihan FIFA dan UEFA menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak hanya berbicara mengenai pertandingan di lapangan.
Di balik sebuah turnamen besar, terdapat kepentingan bisnis, hak siar, sponsor, investasi, tata kelola, serta distribusi pendapatan.
FIFA memiliki kepentingan untuk meningkatkan pemasukan dan memperluas pengembangan sepak bola ke seluruh dunia.
Sementara UEFA memiliki kepentingan untuk memastikan sepak bola Eropa tetap memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah olahraga tersebut.
Perbedaan kepentingan itu membuat rencana FIFA Forward Enterprise menjadi persoalan yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar pembentukan perusahaan baru.
Pertemuan darurat yang akan dilakukan sejumlah asosiasi Eropa menjadi langkah penting untuk melihat seberapa besar penolakan terhadap rencana tersebut.
Jika mayoritas federasi Eropa sepakat mengambil sikap keras, tekanan terhadap FIFA akan semakin besar.
Sebaliknya, jika FIFA mampu memberikan penjelasan mengenai struktur kepemilikan, transparansi investasi, serta manfaat finansial bagi seluruh anggota, konflik tersebut masih memiliki peluang untuk diredam.
Untuk saat ini, belum dapat dipastikan apakah ancaman boikot Piala Dunia benar-benar akan diwujudkan.
Namun, pernyataan keras UEFA menunjukkan bahwa persoalan tersebut sudah memasuki tahap serius.
Sepak bola dunia kini menunggu langkah berikutnya dari Gianni Infantino dan FIFA. Apakah FIFA akan tetap menjalankan rencana penjualan saham FIFA Forward Enterprise, atau justru melakukan perubahan setelah mendapatkan tekanan dari UEFA?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menentukan arah hubungan FIFA dan UEFA dalam beberapa tahun mendatang.
Yang jelas, konflik ini kembali menunjukkan bahwa perebutan pengaruh dalam sepak bola dunia tidak hanya terjadi di lapangan. Di balik gemerlap Piala Dunia, terdapat pertarungan besar mengenai siapa yang memiliki kendali atas masa depan bisnis dan tata kelola sepak bola global.
Sumber : www.kompas.com
