Penyerang andalan tim nasional Norwegia, Erling Braut Haaland yang mencuri perhatian di jagat maya (Sumber Foto: Dok. Instagram Erling Haaland)
Buletinmedia.com – Panggung sepak bola dunia saat ini sedang tertuju pada kemegahan turnamen FIFA World Cup 2026. Di antara barisan bintang yang bersinar di tanah Amerika Utara, nama Erling Braut Haaland kembali mencuri perhatian besar dan menjadi topik perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola jagat raya. Penyerang jangkung yang karib disapa Haaland ini sudah lama dikenal sebagai salah satu mesin gol paling mematikan di dunia, baik saat berseragam klub raksasa Inggris, Manchester City, maupun ketika membela panji tim nasional Norwegia.
Ketajaman Haaland di depan gawang lawan memang tidak perlu diragukan lagi. Insting mencetak golnya yang oportunis, kekuatan fisik yang kokoh, serta kecepatan lari di atas rata-rata menjadikannya momok menakutkan bagi lini pertahanan mana pun. Namun, di balik reputasinya yang garang sebagai predator kotak penalti, penyerang berusia 25 tahun ini ternyata menyimpan kisah masa lalu yang unik dan kontras dengan profesinya saat ini. Jauh sebelum namanya dielu-elukan oleh puluhan ribu suporter setia di Stadion Etihad, Manchester, Haaland pernah merintis karier di dunia seni tarik suara sebagai seorang raper.
Jejak Masa Lalu: Proyek Musik Hip-Hop Flow Kingz
Kisah unik ini bermula pada tahun 2016, ketika Haaland masih menjadi pesepak bola muda yang sedang merintis jalan di akademi lokal Norwegia. Di sela-sela waktu senggangnya di luar lapangan hijau, Haaland bersama dua rekan sejawatnya di timnas U-17 Norwegia, Erik Botheim dan Erik Tobias Sandberg, memutuskan untuk membuat sebuah proyek musik iseng. Mereka bertiga mendirikan sebuah grup trio hip-hop yang diberi nama Flow Kingz.
Bagi mereka bertiga, proyek Flow Kingz awalnya hanyalah sarana berekspresi dan bersenang-senang khas remaja belasan tahun. Namun, komitmen mereka untuk bersenang-senang ini dieksekusi dengan cukup niat. Bersama Flow Kingz, Haaland dan kawan-kawan sempat merilis sebuah singel debut yang dilengkapi dengan konsep video musik jenaka bertajuk “Kygo Jo”.
Video musik tersebut pertama kali mengudara secara resmi di platform YouTube pada tanggal 31 Agustus 2016. Dalam video beresolusi standar tersebut, tampak Haaland, Botheim, dan Sandberg mengenakan pakaian kasual berwarna cerah khas anak muda era 2010-an. Mereka berjoget dengan gerakan yang kikuk namun mengalir, sembari bergantian melantunkan bait-bait rap dalam bahasa Norwegia di depan kamera. Wajah Haaland dalam video tersebut masih terlihat sangat muda, kurus, dan jauh dari kesan fisik kekar yang ia miliki sekarang.
Meledak Kembali di YouTube Berkat Sihir Piala Dunia 2026
Selama bertahun-tahun, video musik “Kygo Jo” terkubur di antara miliaran konten YouTube lainnya dan hanya diketahui oleh segelintir penggemar lokal di Norwegia. Namun, roda nasib berputar cepat. Seiring dengan meroketnya karier profesional Haaland menjadi salah satu pesepak bola termahal dan paling berpengaruh di dunia bersama Manchester City, jejak digital masa lalunya ini mulai diendus oleh netizen global.
Puncak ledakan popularitas video musik Flow Kingz ini terjadi bertepatan dengan momentum historis di Piala Dunia 2026. Tim nasional Norwegia yang selama ini kerap dipandang sebelah mata di panggung internasional, berhasil menciptakan kejutan terbesar dalam turnamen edisi kali ini. Secara luar biasa, Haaland sukses memimpin rekan-rekannya melaju hingga ke babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan tim favorit juara, Brasil, dengan skor tipis 2-1 di babak gugur yang sarat ketegangan.
Keberhasilan monumental Norwegia mendepak Brasil langsung memicu gelombang euforia global. Netizen yang penasaran dengan latar belakang sang striker langsung membanjiri kolom pencarian internet, dan pencarian tersebut bermuara pada video musik “Kygo Jo”. Video jenaka sepuluh tahun lalu itu mendadak viral kembali, diserbu jutaan penonton baru, dan dipenuhi oleh komentar-komentar kocak dari para suporter sepak bola yang tidak menyangka bahwa sang predator kotak penalti pernah menjadi rhythm and blues (R&B) amatir.
Transformasi Karakter: Dari Remaja Jenaka Menjadi Monster Lapangan
Jika membandingkan sosok Erling Haaland di dalam video musik Flow Kingz dengan sosoknya yang sekarang bertarung di Piala Dunia 2026, publik akan melihat sebuah transformasi karakter yang sangat luar biasa. Di masa remajanya, Haaland adalah sosok yang humoris, ekspresif, dan tidak ragu untuk terlihat konyol di depan kamera demi menghibur teman-temannya. Sifat jenaka ini sebenarnya masih sering terlihat dalam beberapa sesi wawancara santai atau unggahan di media sosial pribadinya hingga kini.
Namun, begitu ia menginjakkan kaki di dalam lapangan hijau dan peluit pertandingan dibunyikan, seluruh aura jenaka itu menguap tanpa bekas. Haaland berubah total menjadi sosok “monster” yang dingin, fokus, dan tanpa ampun. Disiplin ketat yang ia terapkan pada pola makan, porsi latihan, hingga kualitas tidur menjadikannya salah satu atlet dengan kondisi fisik terbaik di era modern.
Keberhasilan membawa Norwegia menembus babak perempat final Piala Dunia 2026 menjadi pembuktian terbesar bahwa Haaland bukan sekadar striker yang diuntungkan oleh skema taktik hebat milik Pep Guardiola di Manchester City. Bersama tim nasional negaranya yang memiliki kedalaman skuad lebih terbatas, ia mampu tampil sebagai pemimpin, pemecah kebuntuan, sekaligus inspirasi bagi generasi baru pesepak bola Norwegia.
Bagaimana Nasib Personel Flow Kingz Lainnya?
Menarik juga untuk melihat bagaimana nasib dua rekan Haaland di grup Flow Kingz setelah sepuluh tahun berlalu. Berbeda dengan grup musik boyband fiksi yang biasanya bubar karena perselisihan, Flow Kingz secara alami pasif karena ketiga personelnya memilih fokus penuh pada karier profesional mereka di dunia sepak bola.
- Erik Botheim: Personel Flow Kingz ini juga berhasil membangun karier yang solid sebagai penyerang profesional. Ia sempat melanglang buana ke beberapa klub Eropa dan tetap menjaga hubungan persahabatan yang sangat erat dengan Haaland hingga hari ini.
- Erik Tobias Sandberg: Meski namanya tidak sepopuler Haaland atau Botheim di kancah internasional, Sandberg tetap melanjutkan kariernya sebagai pemain bertahan di kompetisi domestik liga Norwegia.
Meskipun ketiga pemain ini sekarang sibuk dengan agenda kompetisi sepak bola yang padat, keberadaan video musik “Kygo Jo” di YouTube akan selalu menjadi monumen pengingat masa muda mereka. Bagi para penggemar, video tersebut menjadi bukti humanis bahwa seorang megabintang dunia sekaliber Erling Haaland tetaplah seorang manusia biasa yang pernah melewati masa remaja yang penuh tawa, keisengan, dan kreativitas tanpa beban sebelum akhirnya menaklukkan dunia lewat sepasang kakinya di lapangan hijau.
Sumber : www.mediaindonesia.com
