Kasus penyakit campak di Kota Cirebon, Jawa Barat, hingga pertengahan April dinilai masih cukup tinggi. (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Kasus penyakit campak di Kota Cirebon, Jawa Barat, hingga pertengahan April 2026 masih tergolong tinggi. Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan setempat bahkan menetapkan kondisi tersebut sebagai kejadian luar biasa atau KLB. Tingginya angka penularan campak membuat berbagai pihak meningkatkan kewaspadaan, terutama karena sebagian besar pasien yang dirawat merupakan balita.
Tidak hanya itu, rumah sakit rujukan utama di wilayah Cirebon juga mencatat adanya dua pasien campak yang meninggal dunia. Kondisi ini menambah perhatian serius terhadap penyebaran campak yang masih berlangsung hingga saat ini.
Kasus Campak di Kota Cirebon Berstatus KLB
Dinas Kesehatan Kota Cirebon menyatakan kasus campak mulai meningkat sejak akhir Desember 2025 atau memasuki minggu ke-52. Hingga April 2026, angka kasus masih cukup tinggi sehingga status kejadian luar biasa tetap diberlakukan.
Peningkatan kasus campak dalam beberapa bulan terakhir menjadi perhatian karena penyakit ini sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapat imunisasi lengkap.
Campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan virus dan menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam merah di tubuh.
Jika tidak segera ditangani, campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru-paru, diare berat, gangguan gizi, hingga kematian.
Data Kasus Campak di Cirebon
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cirebon, jumlah kasus campak sepanjang tahun 2025 mencapai 238 kasus. Sementara itu, pada tahun 2026 hingga Februari saja sudah tercatat 150 kasus.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penyebaran campak masih cukup tinggi dan belum sepenuhnya terkendali. Jika tidak dilakukan penanganan cepat, jumlah kasus berpotensi terus bertambah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawati, mengatakan peningkatan kasus mulai terlihat sejak akhir tahun lalu dan masih berlanjut hingga sekarang.
Menurutnya, pemerintah daerah terus melakukan berbagai langkah untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, termasuk penguatan pengawasan di fasilitas kesehatan dan lingkungan masyarakat.
RSUD Gunung Jati Rawat 50 Pasien Campak
Sementara itu, Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Kota Cirebon sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Cirebon mencatat sebanyak 50 pasien campak menjalani rawat inap dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
Dari jumlah tersebut, mayoritas pasien merupakan balita. Kelompok usia anak-anak memang menjadi yang paling rentan terpapar campak, terutama bila belum mendapat vaksinasi lengkap.
Direktur Utama RSD Gunung Jati Cirebon, Katibi, menyebut lonjakan pasien campak menjadi perhatian serius pihak rumah sakit. Selain ruang perawatan yang harus disiapkan, penanganan pasien juga membutuhkan pengawasan ketat karena campak mudah menular.
Rumah sakit terus berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada pasien, sekaligus memastikan penularan tidak menyebar di lingkungan rumah sakit.
Mayoritas Pasien Mengalami Komplikasi
Dokter spesialis anak RSUD Gunung Jati Cirebon, dr. Suci Saptyuni Permadi, Sp.A, menjelaskan sebagian besar pasien campak yang dirawat datang dalam kondisi sudah mengalami komplikasi.
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah radang paru-paru atau bronkopneumonia. Kondisi ini membuat pasien mengalami sesak napas, demam tinggi, dan membutuhkan perawatan intensif.
Menurutnya, banyak pasien yang masuk rumah sakit diketahui belum mendapat imunisasi campak atau imunisasinya tidak lengkap.
Kurangnya perlindungan vaksin membuat anak lebih rentan tertular dan berisiko mengalami gejala berat saat terinfeksi.
Dua Pasien Campak Meninggal Dunia
Dalam kasus yang paling memprihatinkan, RSUD Gunung Jati juga mencatat dua pasien campak meninggal dunia.
Kedua pasien tersebut diketahui memiliki kondisi kesehatan tambahan, yakni gizi buruk dan kelainan jantung bawaan. Faktor komorbid seperti ini dapat memperparah infeksi campak dan menurunkan daya tahan tubuh pasien.
Tenaga medis menyebut campak bukan penyakit ringan jika menyerang anak dengan kondisi tubuh lemah. Karena itu, pencegahan melalui imunisasi dan pemantauan kesehatan sangat penting dilakukan.
Kasus kematian ini menjadi pengingat bahwa campak tetap berbahaya dan tidak boleh dianggap sepele.
Penyebab Tingginya Kasus Campak
Tingginya kasus campak di Kota Cirebon diduga dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah belum meratanya cakupan imunisasi pada anak.
Masih ada sebagian orang tua yang menunda atau tidak melengkapi vaksinasi anak karena berbagai alasan, mulai dari kurangnya informasi hingga kekhawatiran yang tidak berdasar.
Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi juga dapat mempercepat penularan virus campak dari satu wilayah ke wilayah lain.
Lingkungan padat penduduk, kontak erat antarwarga, dan rendahnya kesadaran menjaga kesehatan turut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran penyakit ini.
Upaya Pemerintah Kota Cirebon
Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Kesehatan terus berupaya menekan angka kasus campak dengan berbagai langkah.
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya campak, pentingnya imunisasi, serta gejala awal yang perlu diwaspadai.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan layanan vaksinasi di puskesmas, posyandu, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lainnya agar masyarakat lebih mudah mengakses imunisasi.
Petugas kesehatan juga melakukan pelacakan kasus untuk mengetahui riwayat kontak pasien dan mencegah penularan lebih luas.
Pentingnya Imunisasi Campak
Vaksinasi masih menjadi cara paling efektif mencegah campak. Anak yang mendapat imunisasi lengkap memiliki perlindungan jauh lebih baik dibanding yang belum divaksin.
Program imunisasi campak biasanya diberikan sejak usia bayi dan dilanjutkan sesuai jadwal yang ditetapkan pemerintah.
Dokter mengimbau orang tua untuk tidak menunda vaksinasi anak karena campak dapat menyerang kapan saja jika terjadi kontak dengan penderita.
Selain vaksin, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan secara rutin, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala campak.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Masyarakat diminta mengenali gejala awal campak agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Beberapa gejala umum antara lain:
- Demam tinggi
- Batuk dan pilek
- Mata merah
- Nafsu makan menurun
- Tubuh lemas
- Muncul ruam merah di wajah lalu menyebar ke tubuh
Jika anak mengalami gejala tersebut, orang tua sebaiknya segera membawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Penanganan dini sangat penting agar kondisi tidak berkembang menjadi komplikasi serius.
Harapan Kasus Segera Menurun
Dengan status KLB yang masih berlaku, seluruh pihak di Kota Cirebon diharapkan ikut berperan menekan penyebaran campak.
Masyarakat diminta aktif membawa anak ke layanan imunisasi, menjaga kebersihan, dan tidak menganggap campak sebagai penyakit biasa.
Sementara itu, tenaga kesehatan terus bekerja keras menangani pasien dan melakukan edukasi ke masyarakat.
Pemerintah berharap angka kasus campak di Kota Cirebon segera menurun dalam beberapa bulan ke depan sehingga status kejadian luar biasa bisa dicabut.
Kasus campak yang masih tinggi saat ini menjadi pelajaran penting bahwa imunisasi, kesadaran masyarakat, dan respons cepat pemerintah sangat menentukan dalam mencegah wabah penyakit menular.
