Sungai Cisanggarung Meluap, Empat Kecamatan Terendam Banjir (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Banjir besar melanda wilayah timur Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, akibat luapan Sungai Cisanggarung yang tidak mampu terbendung. Air merendam empat kecamatan sekaligus dan menyebabkan aktivitas warga lumpuh total. Anak-anak terpaksa tidak bersekolah, sementara sebagian warga harus mengungsi demi keselamatan.
Berdasarkan data lapangan, banjir mulai merendam permukiman sejak dini hari dan terus meluas hingga Kamis siang. Empat kecamatan terdampak yakni Kecamatan Pasaleman, Waled, Losari, dan Ciledug. Luapan air dari Sungai Cisanggarung menggenangi rumah warga dengan ketinggian bervariasi antara 60 sentimeter hingga satu meter.
Empat Kecamatan di Kabupaten Cirebon Terendam Banjir
Wilayah yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Losari dan Pasaleman. Di sejumlah desa, air masuk ke dalam rumah warga dan menenggelamkan perabotan. Bahkan di Desa Cilengkrang Induk, ketinggian air dilaporkan mencapai satu setengah meter.
Banjir yang melanda wilayah timur Kabupaten Cirebon ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena air datang secara tiba-tiba saat dini hari.
Di Desa Barisan, Kecamatan Losari, air meluap dari tanggul yang rendah dan langsung masuk ke rumah-rumah warga. Derasnya arus kiriman dari hulu sungai membuat genangan cepat meninggi meski di wilayah tersebut tidak sedang turun hujan.
Warga Terdampak: Aktivitas Lumpuh dan Anak Tidak Sekolah
Sejumlah warga mengeluhkan dampak banjir yang tidak hanya merendam rumah, tetapi juga mengganggu kesehatan dan mata pencaharian.
“Ya dampaknya mulai dingin kakinya, pada gatal. Aktivitas jadi terganggu juga. Ini tidak bisa apa-apa, seperti ibu kan jualan jadi tidak bisa jualan. Iya, diliburkan dulu untuk sementara. Di rumah paling lansia saja, ibu yang mengungsi yang sudah lanjut usia. Tadi sempat mengungsi, cuma sekarang agak surut jadi pulang. Dari pagi mengungsi, masih sama bapak dan anak,” ujar Fatikah, warga Desa Barisan.
Sementara itu, Andi, warga lainnya, mengungkapkan air mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul 04.00 WIB. Ia menyebut banjir kali ini merupakan yang terbesar sejak puluhan tahun lalu.
“Mulai masuk ke rumah itu dari jam 4 pagi tadi. Kiriman dari Sungai Cisanggarung. Kondisi di sini tidak hujan, terang dari sore. Air kiriman dari hulu yang hujan. Ini sampai masuk rumah semua. Ketinggian sekitar 20 sentimeter di dalam rumah. Dampaknya anak-anak sekolah akhirnya tidak berangkat. Sebagian orang tidak kerja, termasuk saya juga tidak kerja karena banjir ini. Banjir besar baru tahun ini, sebelumnya tahun 1985-an pernah banjir di sini. Harapannya agar ditangani pemerintah supaya tidak banjir lagi,” ujarnya.
Akibat banjir tersebut, banyak sekolah di wilayah terdampak meliburkan kegiatan belajar mengajar untuk sementara waktu. Jalan desa yang terendam membuat akses transportasi terputus dan aktivitas ekonomi warga terhenti.
Penyebab Banjir: Tanggul Rendah dan Debit Air Meningkat Drastis
Berdasarkan keterangan aparat setempat, banjir terjadi akibat luapan air yang tidak tertahan oleh tanggul sungai. Rendahnya beberapa titik tanggul menyebabkan air langsung meluber ke permukiman warga.
Kapolsek Losari, AKP Sugiono, menjelaskan bahwa debit air Sungai Cisanggarung mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan informasi dari BPBD dan instansi terkait di Bendungan Cijangkelok, debit air yang normalnya berada di kisaran 250 sentimeter atau 2,5 meter, sempat melonjak hingga 700 sentimeter atau tujuh meter pada malam hari.
Luapan air tersebut melebihi ambang batas mercu tanggul sehingga tidak dapat terbendung. Akibatnya, air langsung masuk ke wilayah permukiman, khususnya di RT 16, 17, dan 18 Desa Barisan.
Selain Desa Barisan, tercatat pula Desa Mulyasari dan Losari Kidul di Kecamatan Losari terdampak banjir. Di dua desa terakhir, air masuk akibat rembesan dari tanggul yang sudah dibangun, bukan luapan langsung.
Data BPBD: Banjir Rendam Wilayah Timur Kabupaten Cirebon
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, banjir yang terjadi sejak dini hari melanda empat kecamatan di wilayah timur. Desa-desa yang terdampak umumnya berada tepat di bawah tanggul Sungai Cisanggarung, sehingga rentan terhadap luapan ketika debit air meningkat.
Petugas gabungan terus melakukan pendataan jumlah rumah terdampak dan memastikan kondisi warga. Sejumlah lansia dan warga yang rumahnya terendam cukup tinggi sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Meski sebagian wilayah mulai mengalami penurunan debit air pada siang hari, genangan masih terlihat di sejumlah titik. Warga tetap diminta waspada terhadap kemungkinan banjir susulan jika debit air kembali meningkat akibat hujan di wilayah hulu.
Warga Harap Perbaikan Tanggul Sungai Cisanggarung
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon segera melakukan perbaikan dan peninggian tanggul di beberapa titik kritis yang dinilai terlalu rendah. Mereka khawatir banjir serupa akan kembali terjadi ketika debit air sungai meningkat.
Perbaikan infrastruktur pengendali banjir dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah luapan Sungai Cisanggarung kembali merendam permukiman warga. Selain itu, normalisasi sungai dan penguatan tanggul di sepanjang aliran sungai juga menjadi harapan masyarakat.
Banjir kali ini menjadi pengingat bahwa wilayah timur Kabupaten Cirebon masih rawan terdampak luapan sungai, terutama saat curah hujan tinggi di daerah hulu. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah strategis agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Sementara itu, warga kini fokus membersihkan rumah dan perabotan dari lumpur sisa banjir sambil berharap kondisi segera pulih dan aktivitas bisa kembali normal
