Produksi kue keranjang atau dodol Cina menjelang perayaan Imlek di Kota Cirebon mengalami penurunan (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Produksi kue keranjang atau yang dikenal juga sebagai dodol Cina menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Cirebon, Jawa Barat, mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para perajin kue keranjang yang selama puluhan tahun menggantungkan penghasilan dari tradisi tahunan tersebut. Penurunan produksi kue keranjang jelang Imlek ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pergeseran tradisi di kalangan generasi muda yang kini lebih memilih berbagi angpau atau uang tunai dibandingkan memberikan kue keranjang kepada keluarga dan kerabat.
Menurunnya permintaan kue keranjang jelang Imlek menjadi fenomena yang cukup terasa di sentra produksi dodol Cina, salah satunya di kawasan Kanggraksan, Kota Cirebon. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kue keranjang yang sudah ada sejak lama dan menjadi pemasok untuk berbagai wilayah di Jawa Barat hingga luar daerah.
Menurut para perajin, jumlah pesanan kue keranjang tahun ini belum mencapai 1 ton. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Padahal, pada masa puncak kejayaan produksi dodol Cina menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, total produksi bisa mencapai hingga 21 ton. Kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan minat masyarakat terhadap kue keranjang sebagai bagian dari tradisi Imlek.
Salah seorang perajin dodol Cina di Cirebon, Budi, mengungkapkan bahwa penurunan pesanan sudah mulai dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pada tahun ini penurunannya dinilai cukup signifikan.
“Untuk tahun ini jumlah pesanan menurun. Biasanya bisa mencapai 1 ton dan pernah rekor sampai 21 ton. Tetapi mungkin seiring perkembangan zaman, tradisi membagikan kue keranjang ini mulai bergeser dan masyarakat lebih memilih memberikan angpau atau uang tunai,” ujar Budi.
Selama ini, kue keranjang menjadi salah satu hidangan wajib dalam perayaan Imlek. Kue berbahan dasar tepung ketan dan gula ini tidak hanya disajikan sebagai makanan, tetapi juga memiliki makna simbolis yang sangat kuat dalam budaya Tionghoa. Kue keranjang melambangkan keberkahan, harapan akan rezeki yang manis, serta perekat hubungan kekeluargaan.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, tradisi tersebut perlahan mulai mengalami pergeseran. Generasi muda dinilai lebih praktis dan efisien dengan memberikan angpau atau uang tunai kepada keluarga dan kerabat saat Imlek. Selain dianggap lebih mudah, pemberian angpau juga dinilai lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan penerima.
Perubahan pola konsumsi dan kebiasaan ini berdampak langsung terhadap industri rumahan pembuat kue keranjang. Para perajin harus menyesuaikan jumlah produksi agar tidak mengalami kerugian akibat stok yang tidak terserap pasar. Meski demikian, sebagian perajin tetap bertahan dengan cara mempertahankan kualitas dan cita rasa kue keranjang yang dibuat secara tradisional.
Sementara itu, pengamat budaya Tionghoa, Jeremy Huang, menyebut bahwa kue keranjang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek. Menurutnya, kue keranjang memiliki sejarah panjang yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan sarat dengan nilai filosofis.
“Kue keranjang sudah ada sejak tahun 1046 hingga 256 SM pada masa Dinasti Zhou dan masih bertahan hingga saat ini. Kue keranjang atau dodol Cina ini mempunyai filosofi untuk mempererat tali persaudaraan,” ujar Jeremy Huang.
Ia menjelaskan bahwa dalam budaya Tionghoa, kue keranjang melambangkan harapan agar hubungan antaranggota keluarga semakin erat dan rezeki terus meningkat dari tahun ke tahun. Tekstur kue yang lengket menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan, sementara rasa manisnya melambangkan harapan akan kehidupan yang harmonis dan sejahtera.
Jeremy menilai bahwa meskipun saat ini terjadi pergeseran tradisi, keberadaan kue keranjang tetap memiliki nilai budaya yang penting. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk terus mengenalkan makna dan filosofi kue keranjang kepada generasi muda agar tradisi tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Di sisi lain, para perajin kue keranjang di Cirebon masih setia mempertahankan proses pembuatan secara tradisional. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengadukan adonan, hingga pengukusan yang memakan waktu berjam-jam, semua dilakukan dengan cara turun-temurun. Proses ini dipercaya dapat menjaga cita rasa khas kue keranjang yang tidak bisa ditiru oleh produk pabrikan.
Meski menghadapi tantangan penurunan permintaan, para perajin tetap berharap tradisi kuliner khas Imlek ini dapat terus dilestarikan dan kembali diminati di masa mendatang. Mereka berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun komunitas budaya, untuk memperkenalkan kembali kue keranjang sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis dan ekonomi.
Selain itu, pemanfaatan media digital dan pemasaran online juga dinilai dapat menjadi solusi untuk memperluas pasar kue keranjang. Dengan inovasi kemasan dan promosi yang lebih modern, kue keranjang diharapkan mampu menarik minat generasi muda tanpa meninggalkan nilai tradisional yang melekat di dalamnya.
Penurunan produksi kue keranjang jelang Imlek di Cirebon menjadi cerminan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat. Meski tradisi mengalami pergeseran, kue keranjang tetap menjadi simbol penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Harapannya, nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan dan tetap hidup di tengah arus modernisasi.
