sumber foto : freepik
Stres ternyata bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak, mulai dari balita hingga remaja, juga bisa mengalami tekanan emosional akibat berbagai faktor—baik yang terlihat besar maupun yang sepele di mata orang dewasa.
Elizabeth Pantley, penulis buku The No-Cry Separation Anxiety Solution, menekankan bahwa anak lebih rentan terhadap stres dibanding orang tua mereka. “Hal kecil bagi orang dewasa bisa menjadi masalah besar bagi anak-anak. Mereka sangat mudah menangkap stres yang ada di sekitar,” ungkapnya, dikutip dari Parents (2/9/2025).
Penyebab stres pada anak yang paling sering terjadi
-
Separation Anxiety atau rasa cemas berpisah
Rasa panik ketika ditinggal orangtua umum terjadi sejak bayi hingga prasekolah. Kondisi ini bisa makin parah jika ada situasi baru, seperti masuk daycare, pindah sekolah, atau menghadapi lingkungan asing. Anak biasanya jadi rewel, sulit ditinggal, atau tampak gugup tanpa pengasuh utama. -
Perubahan dalam keluarga
Perceraian, pindah rumah, meninggalnya anggota keluarga, atau kehadiran adik baru bisa mengguncang rasa aman anak. Bahkan perubahan yang positif pun bisa membuat anak stres karena mereka dipaksa beradaptasi dengan rutinitas baru. -
Tekanan akademis dan lingkungan sekolah
PR yang menumpuk, nilai, persaingan akademik, hingga bullying sering jadi sumber kecemasan bagi anak sekolah. Jika tak tertangani, kondisi ini bisa berdampak pada motivasi belajar hingga kesehatan mental. -
Jadwal yang terlalu padat
Terlalu banyak aktivitas tambahan bisa membuat anak kehilangan waktu bermain bebas. Jadwal yang kaku juga membuat mereka merasa terbebani. Diskusi dengan anak soal kegiatan penting agar tidak sampai mengorbankan waktu istirahat. -
Paparan peristiwa besar di dunia
Anak mudah menyerap ketegangan dari lingkungan, bahkan melalui media. Bencana, konflik, atau berita kekerasan bisa membebani pikiran mereka. Orangtua perlu lebih selektif dalam menyaring tontonan dan informasi. -
Masa pubertas
Perubahan fisik, emosi, dan tekanan sosial saat remaja bisa memicu stres berat. Anak mungkin merasa bingung, tidak nyaman dengan tubuhnya, atau kewalahan menghadapi standar sosial. -
Stres sehari-hari yang menumpuk
Konflik keluarga, masalah ekonomi, hingga absennya sosok orangtua bisa menciptakan tekanan berkelanjutan. Lingkungan yang tidak aman juga menjadi pemicu stres jangka panjang.
Tanda-tanda anak sedang mengalami stres
Setiap anak punya cara berbeda dalam mengekspresikan stres. Namun, ada gejala yang perlu diperhatikan:
Pada balita dan anak kecil:
-
Pola makan atau tidur berubah
-
Lebih mudah menangis atau tantrum
-
Mimpi buruk berulang
-
Keluhan sakit kepala atau perut
-
Jadi clingy (takut ditinggal)
-
Mengisap jempol, menggigiti rambut, atau kebiasaan berulang lain
-
Enggan pergi ke tempat atau bertemu orang tertentu
Pada anak sekolah dan remaja:
-
Sulit tidur, mimpi buruk, atau sering sakit kepala
-
Perubahan mood drastis, mudah marah atau sedih
-
Penurunan prestasi belajar
-
Menarik diri dari pergaulan
-
Perubahan pola makan
-
Kebiasaan obsesif atau perilaku berulang
Pantley menekankan bahwa tak semua tanda berarti anak sedang stres. Namun, bila gejala semakin ekstrem atau berulang, sebaiknya segera konsultasi dengan tenaga profesional.
Pentingnya peran orangtua
Rene Hackney, PhD, psikolog perkembangan dan pendiri Parenting Playgroups, menegaskan bahwa orangtua memegang peran vital dalam menghadapi stres anak.
“Dukungan emosional, rutinitas yang konsisten, dan rasa aman adalah kebutuhan utama anak,” jelas Hackney.
Dengan mengenali penyebab serta tanda stres, orangtua bisa lebih sigap mendampingi, membangun komunikasi terbuka, dan memastikan anak belajar mengelola emosi dengan cara sehat. Jika diperlukan, bantuan profesional bisa menjadi jalan terbaik agar stres anak tidak berdampak panjang pada kesehatan mental dan fisiknya.
