Odading bertabur wijen yang serupa dengan Oliebollen, kue khas Belanda. (SHUTTERSTOCK/NILASITO)
Buletinmedia.com – Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki makanan khas dengan cita rasa, bentuk, bahan, dan cara pengolahan yang berbeda. Tidak hanya makanan berat, berbagai jajanan tradisional juga menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner Indonesia.
Menariknya, sejumlah makanan ringan khas Indonesia masuk dalam daftar pastry Indonesia terbaik versi TasteAtlas. Platform kuliner internasional tersebut memasukkan lima makanan dengan karakter yang berbeda ke dalam daftar Top 5 Indonesian Pastries yang diperbarui pada 15 Juli 2026.
Kelima makanan tersebut adalah odading, cireng, bakpia Pathok, kue bulan atau mooncake, dan panada.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa istilah pastry tidak selalu identik dengan makanan khas Eropa seperti croissant, danish pastry, atau puff pastry. Dalam konteks kuliner yang lebih luas, makanan berbahan dasar adonan yang dipanggang maupun digoreng dan memiliki karakter tertentu juga dapat masuk dalam kategori tersebut.
TasteAtlas menyusun daftar berdasarkan penilaian pengguna. Dari total 503 penilaian yang tercatat, sebanyak 384 penilaian dinyatakan valid oleh sistem TasteAtlas.
Meski demikian, TasteAtlas juga mengingatkan bahwa daftar tersebut bukan merupakan kesimpulan mutlak mengenai makanan terbaik di dunia. Peringkat dapat berubah seiring bertambahnya penilaian dan perubahan preferensi pengguna.
Terlepas dari hal tersebut, masuknya lima makanan Indonesia ke dalam daftar menjadi hal menarik. Sebab, masing-masing makanan memiliki cerita, karakter, serta latar belakang budaya yang berbeda.
Berikut daftar 5 pastry Indonesia terbaik versi TasteAtlas yang menarik untuk diketahui.
- Odading
Odading menempati posisi pertama dalam daftar pastry Indonesia terbaik versi TasteAtlas dengan rating 4,1.
Jajanan khas Bandung, Jawa Barat, ini dikenal sebagai makanan berbahan adonan yang digoreng hingga mengembang dan memiliki warna keemasan. Bentuknya umumnya persegi atau persegi panjang dengan permukaan yang sederhana.
Bagi masyarakat Jawa Barat, odading bukan sekadar jajanan biasa. Makanan ini sudah lama menjadi bagian dari kuliner sehari-hari dan mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pedagang kaki lima hingga toko makanan tradisional.
Adonan odading umumnya dibuat menggunakan tepung terigu yang dicampur dengan ragi, gula, susu, dan bahan lainnya. Beberapa resep juga menggunakan telur untuk menghasilkan tekstur yang lebih lembut.
Setelah adonan dibuat, bahan tersebut dibiarkan hingga mengembang sebelum dibentuk dan digoreng.
Proses penggorengan membuat bagian luar odading berubah menjadi kecokelatan, sedangkan bagian dalamnya tetap lembut dan berongga. Tekstur inilah yang menjadi salah satu ciri khas odading.
Ketika masih hangat, odading biasanya memiliki tekstur lembut dengan bagian luar yang sedikit kenyal. Setelah dingin, permukaannya dapat terasa lebih renyah, sementara bagian dalam tetap memiliki rongga khas hasil proses fermentasi.
Odading Cocok Disantap Bersama Kopi
Odading umumnya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau menu sarapan. Rasanya yang cenderung manis membuat makanan ini cocok disantap bersama minuman seperti kopi, teh, maupun susu.
Di Bandung dan sejumlah daerah Jawa Barat, odading juga masih mudah ditemukan di pasar tradisional serta pedagang kaki lima.
Salah satu hal yang membuat odading semakin dikenal luas adalah kemunculan sebuah video yang viral di media sosial beberapa tahun lalu.
Dalam video tersebut, odading disebut dengan istilah unik sebagai “roti Iron Man”. Ungkapan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan luas dan membuat nama odading kembali populer di berbagai daerah di Indonesia.
Popularitas tersebut menunjukkan bahwa jajanan tradisional dapat kembali mendapatkan perhatian besar melalui media sosial.
Bahkan, banyak orang yang sebelumnya belum pernah mencoba odading kemudian tertarik mencicipinya setelah makanan tersebut viral.
Odading dan Identitas Kuliner Bandung
Odading menjadi salah satu contoh bagaimana makanan sederhana dapat bertahan melewati perubahan zaman.
Di tengah banyaknya makanan modern, jajanan tradisional seperti odading masih memiliki tempat tersendiri.
Bahan yang relatif sederhana dan harga yang terjangkau membuat makanan ini mudah diterima berbagai kalangan.
Selain itu, odading juga tidak membutuhkan cara penyajian yang rumit. Makanan ini dapat langsung disantap setelah digoreng.
Posisi pertama dalam daftar TasteAtlas semakin memperlihatkan bahwa makanan sederhana dari Indonesia dapat memperoleh perhatian di tingkat internasional.
- Cireng
Di posisi kedua terdapat cireng dengan rating 3,7.
Jika odading memiliki rasa manis, cireng justru menawarkan karakter gurih dengan tekstur yang sangat berbeda.
Cireng merupakan jajanan khas Jawa Barat yang sudah sangat populer di berbagai wilayah Indonesia. Makanan ini dikenal karena bagian luarnya dapat terasa renyah, sedangkan bagian dalamnya memiliki tekstur kenyal.
Nama cireng berasal dari singkatan “aci digoreng”. Istilah tersebut berasal dari bahasa Sunda dan secara sederhana menggambarkan bahan utama serta cara memasaknya.
Aci merupakan sebutan untuk tepung tapioka dalam bahasa Sunda.
Bahan dasar cireng biasanya terdiri atas tepung tapioka, air, bawang putih, garam, dan daun bawang. Beberapa resep juga menggunakan bahan tambahan seperti ketumbar bubuk atau bumbu lainnya.
Adonan kemudian dibentuk sesuai kebutuhan sebelum digoreng.
Tekstur Kenyal Menjadi Ciri Khas Cireng
Hal yang paling mudah dikenali dari cireng adalah teksturnya.
Ketika baru matang, bagian luar cireng dapat terasa renyah, sedangkan bagian dalamnya tetap kenyal.
Perpaduan tersebut menjadi daya tarik utama makanan ini.
Cireng biasanya disantap dengan sambal atau saus. Rasa gurih dari adonan berpadu dengan sensasi pedas dari sambal sehingga membuat makanan ini semakin nikmat.
Seiring berkembangnya tren kuliner, cireng juga mengalami banyak inovasi.
Jika dahulu cireng umumnya disajikan tanpa isian, kini masyarakat dapat menemukan berbagai jenis cireng dengan isi yang berbeda.
Ada cireng isi ayam, daging, keju, sosis, abon, hingga berbagai varian sambal.
Perkembangan tersebut membuat cireng tetap diminati meskipun banyak jajanan modern bermunculan.
Cireng Mudah Ditemukan di Berbagai Daerah
Popularitas cireng tidak lagi terbatas di Jawa Barat.
Jajanan tersebut sudah banyak ditemukan di berbagai kota di Indonesia.
Mulai dari pedagang kaki lima, kantin sekolah, pasar, hingga pusat jajanan, cireng menjadi salah satu makanan ringan yang mudah ditemui.
Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan cireng tetap digemari.
Selain itu, bahan dasarnya juga sederhana sehingga makanan ini dapat dibuat dalam jumlah banyak.
Masuknya cireng dalam daftar pastry Indonesia terbaik versi TasteAtlas menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap jajanan tradisional berbahan sederhana.
- Bakpia Pathok
Posisi ketiga ditempati bakpia Pathok dari Yogyakarta dengan rating 3,7.
Bakpia merupakan salah satu makanan yang sangat identik dengan Kota Yogyakarta.
Bagi wisatawan, bakpia bahkan sering menjadi salah satu pilihan oleh-oleh yang dibawa pulang setelah berkunjung ke Kota Gudeg tersebut.
Bakpia Pathok memiliki bentuk bulat dan sedikit pipih. Bagian luarnya terdiri atas lapisan kulit yang lembut, sementara bagian dalamnya biasanya berisi kacang hijau dengan rasa manis.
Nama Pathok berasal dari kawasan di Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan produksi bakpia.
Dari kawasan tersebut, bakpia kemudian berkembang menjadi salah satu produk kuliner yang identik dengan Yogyakarta.
Isian Bakpia Semakin Beragam
Seiring perkembangan industri kuliner, bakpia tidak lagi hanya tersedia dengan isian kacang hijau.
Produsen bakpia mulai menghadirkan berbagai pilihan rasa untuk menyesuaikan selera konsumen.
Beberapa varian yang dapat ditemukan antara lain cokelat, keju, nanas, durian, cappuccino, pisang keju, blueberry keju, hingga varian lainnya.
Perubahan tersebut membuat bakpia dapat diterima oleh konsumen dari berbagai kelompok usia.
Generasi muda yang mungkin kurang tertarik dengan makanan tradisional juga dapat menemukan varian rasa yang lebih sesuai dengan selera mereka.
Namun, bakpia kacang hijau tetap menjadi salah satu varian yang paling identik dengan makanan tersebut.
Bakpia sebagai Oleh-Oleh Yogyakarta
Bakpia memiliki posisi yang cukup kuat dalam industri pariwisata Yogyakarta.
Wisatawan yang datang ke Yogyakarta dapat menemukan bakpia di berbagai tempat.
Mulai dari pasar tradisional, toko oleh-oleh, pusat kuliner, hingga toko yang berada di kawasan wisata.
Kemasan bakpia juga terus mengalami perubahan.
Jika dahulu makanan ini banyak dijual dalam kemasan sederhana, kini berbagai produsen menawarkan kemasan yang lebih modern dan menarik.
Perkembangan tersebut membantu bakpia tetap relevan di tengah perubahan tren makanan.
Tidak mengherankan jika bakpia Pathok tetap menjadi salah satu makanan yang sering dibawa wisatawan sebagai oleh-oleh.
- Kue Bulan atau Mooncake
Di posisi keempat terdapat kue bulan atau mooncake dengan rating 3,3.
Berbeda dengan odading dan cireng yang sangat kuat kaitannya dengan tradisi kuliner Jawa Barat, mooncake memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan budaya Tionghoa.
Kue bulan dikenal luas sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi dalam perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur atau Mid-Autumn Festival.
Bentuknya umumnya bulat dengan permukaan yang memiliki berbagai motif atau tulisan.
Bentuk bulat tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan bulan, kesempurnaan, persatuan, serta kebersamaan.
Mooncake secara tradisional dapat memiliki berbagai macam isian.
Beberapa di antaranya menggunakan pasta biji teratai atau wijen hitam.
Varian lain dapat menggunakan kacang merah, kacang hijau, kurma, hingga kuning telur bebek asin.
Seiring perkembangan zaman, variasi mooncake semakin luas.
Kini masyarakat dapat menemukan mooncake dengan isian buah, cokelat, kacang-kacangan, teh hijau, krim keju, hingga es krim.
Mooncake dan Tradisi Kebersamaan
Kue bulan tidak hanya menarik dari sisi rasa.
Makanan ini juga memiliki nilai budaya yang kuat.
Dalam tradisi Festival Pertengahan Musim Gugur, mooncake sering disantap bersama keluarga.
Bentuknya yang bulat dianggap melambangkan kebersamaan dan keutuhan keluarga.
Mooncake biasanya dipotong menjadi beberapa bagian kecil dan disantap bersama teh.
Tradisi tersebut membuat makanan ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar makanan penutup.
Di Indonesia, mooncake juga cukup mudah ditemukan, terutama di daerah yang memiliki komunitas Tionghoa yang cukup besar.
Kue bulan biasanya semakin mudah ditemukan menjelang perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur.
Mooncake Menunjukkan Keragaman Kuliner Indonesia
Masuknya mooncake dalam daftar pastry Indonesia versi TasteAtlas menunjukkan bahwa kuliner Indonesia tidak hanya terdiri atas makanan yang berasal dari tradisi lokal Nusantara.
Indonesia sejak dahulu menjadi tempat pertemuan berbagai budaya.
Pengaruh budaya Tionghoa, Arab, India, Eropa, dan berbagai budaya lainnya ikut membentuk perkembangan kuliner di Indonesia.
Mooncake menjadi salah satu contoh makanan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
- Panada
Posisi kelima ditempati panada dengan rating 3,2.
Panada merupakan makanan khas Manado, Sulawesi Utara, yang memiliki bentuk menyerupai pastel atau empanada.
Bentuknya cenderung menyerupai bulan sabit dengan bagian pinggir yang biasanya memiliki lipatan khas.
Berbeda dari pastel yang umumnya menggunakan kulit tanpa ragi, panada dibuat menggunakan adonan beragi.
Bagian dalam panada biasanya berisi bahan berbasis ikan.
Salah satu isian tradisional yang paling dikenal adalah ikan cakalang.
Ikan tersebut kemudian dipadukan dengan bawang merah, santan, cabai, serta berbagai bumbu lainnya.
Perpaduan bahan tersebut menghasilkan rasa gurih, pedas, dan kaya rempah.
Panada dan Pengaruh Kuliner Asing
Panada menarik karena memiliki kemiripan dengan makanan seperti empanada.
TasteAtlas menyebut panada memiliki kaitan dengan pengaruh Portugis yang masuk ke wilayah tersebut sejak abad ke-16.
Perjalanan sejarah membuat berbagai unsur kuliner asing berinteraksi dengan bahan dan tradisi memasak masyarakat setempat.
Hasilnya adalah makanan yang memiliki karakter tersendiri.
Panada kemudian berkembang menjadi salah satu makanan yang sangat identik dengan Manado dan Sulawesi Utara.
Makanan tersebut tidak hanya dapat ditemukan sebagai jajanan, tetapi juga sering hadir dalam berbagai acara keluarga dan kegiatan masyarakat.
Ikan Cakalang Menjadi Karakter Utama
Penggunaan ikan cakalang membuat panada memiliki identitas yang kuat.
Cakalang merupakan salah satu bahan pangan yang banyak digunakan dalam kuliner Sulawesi Utara.
Ikan tersebut memiliki rasa yang gurih dan cocok dipadukan dengan bumbu pedas.
Ketika dimasukkan ke dalam adonan panada, rasa ikan dan bumbu menyatu dengan tekstur roti yang lembut.
Hasilnya adalah makanan yang berbeda dari pastry pada umumnya.
Jika sebagian pastry lebih banyak menawarkan rasa manis, panada justru memiliki karakter gurih dan pedas.
Mengapa Kelima Makanan Ini Menarik?
Daftar lima pastry Indonesia versi TasteAtlas memperlihatkan betapa luasnya karakter makanan berbahan adonan di Indonesia.
Odading memiliki rasa manis dan tekstur lembut.
Cireng mengandalkan rasa gurih serta tekstur kenyal.
Bakpia menawarkan perpaduan kulit lembut dengan isian manis.
Mooncake memiliki karakter pastry dengan sejarah budaya yang panjang.
Sementara itu, panada menghadirkan rasa gurih dari ikan dan rempah.
Perbedaan tersebut membuat daftar ini menarik untuk diperhatikan.
Tidak ada satu karakter rasa yang mendominasi.
Masing-masing makanan memiliki identitas sendiri.
TasteAtlas dan Penilaian Makanan Indonesia
TasteAtlas merupakan salah satu platform yang banyak digunakan untuk mencari informasi mengenai makanan tradisional dari berbagai negara.
Daftar makanan yang dibuat TasteAtlas sering menjadi perhatian karena mempertemukan berbagai kuliner lokal dalam satu peringkat.
Namun, daftar tersebut sebaiknya dilihat sebagai referensi, bukan ukuran mutlak mengenai makanan mana yang paling enak.
Selera makanan sangat subjektif.
Makanan yang mendapatkan rating tinggi belum tentu menjadi makanan favorit semua orang.
Begitu juga sebaliknya.
Makanan yang belum masuk daftar bukan berarti memiliki kualitas yang lebih rendah.
TasteAtlas sendiri menyebut bahwa peringkat mereka didasarkan pada penilaian pengguna dan dapat berubah berdasarkan data yang tersedia.
Dalam daftar Top 5 Indonesian Pastries yang diperbarui pada 15 Juli 2026, tercatat 503 penilaian dengan 384 penilaian yang dianggap valid oleh sistem.
Angka tersebut memberikan gambaran mengenai preferensi pengguna, tetapi tetap tidak bisa dianggap sebagai representasi mutlak seluruh masyarakat Indonesia.
Kuliner Tradisional Indonesia Makin Dikenal Dunia
Masuknya lima makanan Indonesia ke dalam daftar TasteAtlas juga menjadi gambaran bahwa kuliner Nusantara memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas.
Indonesia memiliki ribuan jenis makanan dan jajanan tradisional.
Sebagian sudah dikenal secara internasional, sementara sebagian lainnya masih populer di daerah asalnya.
Media sosial turut membantu memperkenalkan makanan tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.
Contohnya dapat dilihat dari popularitas odading.
Sebelum viral di media sosial, makanan tersebut sebenarnya sudah lama menjadi jajanan masyarakat Bandung.
Namun, sebuah video dapat membuat nama odading dikenal hingga ke berbagai daerah.
Hal serupa dapat terjadi pada makanan lain.
Ketika masyarakat membagikan foto, video, atau pengalaman mencicipi makanan tradisional, jangkauan informasi mengenai kuliner tersebut menjadi semakin luas.
Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Jajanan Tradisional
Perkembangan kuliner modern tidak harus membuat makanan tradisional kehilangan tempat.
Justru, inovasi dapat menjadi salah satu cara agar jajanan tradisional tetap bertahan.
Cireng menjadi contoh bagaimana makanan sederhana dapat terus berkembang.
Kini tersedia berbagai jenis cireng dengan isian dan bentuk yang beragam.
Bakpia juga mengalami hal serupa.
Varian rasa yang semakin banyak membuat makanan tersebut dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Inovasi tidak harus menghilangkan identitas makanan.
Selama karakter utamanya masih dipertahankan, perubahan bahan atau bentuk dapat menjadi cara untuk memperkenalkan makanan tradisional kepada generasi baru.
Pastry Indonesia Tidak Hanya tentang Rasa
Kelima makanan dalam daftar TasteAtlas juga menunjukkan bahwa makanan memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar rasa.
Odading berkaitan erat dengan tradisi jajanan masyarakat Jawa Barat.
Cireng memperlihatkan kreativitas masyarakat Sunda dalam mengolah tepung tapioka.
Bakpia menjadi bagian dari identitas kuliner Yogyakarta.
Mooncake membawa cerita mengenai budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa.
Sementara panada menunjukkan pertemuan budaya dan sejarah yang kemudian menghasilkan makanan khas Manado.
Cerita-cerita tersebut menjadi nilai tambah yang membuat makanan tradisional semakin menarik.
Ketika wisatawan membeli bakpia di Yogyakarta, misalnya, mereka tidak hanya membeli makanan.
Mereka juga membawa pulang bagian dari pengalaman perjalanan.
Begitu pula ketika seseorang mencicipi panada di Manado.
Makanan tersebut memberikan pengalaman mengenai cita rasa khas Sulawesi Utara.
Daftar Pastry Indonesia Versi TasteAtlas
Jika dirangkum, berikut lima makanan yang masuk daftar pastry Indonesia terbaik versi TasteAtlas:
| Peringkat | Makanan | Rating |
| 1 | Odading | 4,1 |
| 2 | Cireng | 3,7 |
| 3 | Bakpia Pathok | 3,7 |
| 4 | Kue bulan atau mooncake | 3,3 |
| 5 | Panada | 3,2 |
Odading menjadi makanan dengan rating tertinggi dalam daftar tersebut.
Cireng dan bakpia Pathok memiliki rating yang sama, yakni 3,7.
Sementara mooncake dan panada berada di bawahnya dengan masing-masing rating 3,3 dan 3,2.
Perbedaan rating tersebut sebenarnya tidak terlalu besar.
Karena itu, pembaca tetap dapat menjadikan kelima makanan tersebut sebagai rekomendasi ketika ingin mencoba jajanan khas Indonesia.
Mana yang Paling Layak Dicoba?
Pertanyaan mengenai makanan mana yang paling enak tentu kembali kepada selera masing-masing.
Bagi pencinta makanan manis, odading atau bakpia Pathok mungkin lebih menarik.
Odading cocok bagi mereka yang menyukai roti goreng dengan tekstur lembut.
Bakpia menawarkan rasa manis dengan berbagai pilihan isian.
Bagi pencinta makanan gurih dan pedas, cireng atau panada dapat menjadi pilihan.
Cireng memiliki tekstur kenyal dengan rasa gurih yang semakin nikmat ketika disantap bersama sambal.
Panada menawarkan kombinasi ikan cakalang, santan, cabai, dan rempah.
Sementara itu, mooncake cocok bagi mereka yang ingin mencoba makanan dengan cerita budaya yang kuat.
Variasi isiannya juga membuat pengalaman menikmati mooncake cukup beragam.
Kekayaan Jajanan Indonesia Masih Sangat Luas
Lima makanan tersebut sebenarnya hanya sebagian kecil dari kekayaan kuliner Indonesia.
Masih banyak makanan tradisional lain yang memiliki karakter unik dari berbagai daerah.
Setiap wilayah memiliki bahan lokal dan teknik pengolahan yang berbeda.
Jawa Barat memiliki banyak jajanan berbahan aci.
Yogyakarta memiliki beragam makanan yang berkaitan dengan tradisi keraton dan masyarakat Jawa.
Sulawesi Utara dikenal dengan penggunaan ikan serta rempah yang kuat.
Sementara masyarakat Tionghoa di berbagai daerah Indonesia turut memperkaya variasi makanan yang berkembang di Nusantara.
Keberagaman tersebut menjadi salah satu kekuatan kuliner Indonesia.
Kuliner Daerah Bisa Menjadi Identitas Wisata
Makanan tradisional juga memiliki peran penting dalam pariwisata.
Wisatawan sering mencari makanan khas ketika mengunjungi suatu daerah.
Bakpia menjadi salah satu contoh paling jelas.
Yogyakarta tidak hanya dikenal karena destinasi wisatanya, tetapi juga karena makanan khas yang dapat dibawa pulang.
Hal serupa terjadi di Bandung dengan berbagai jajanan khas Jawa Barat.
Panada juga menjadi bagian dari pengalaman kuliner ketika wisatawan berkunjung ke Manado.
Karena itu, promosi makanan tradisional dapat berjalan bersamaan dengan promosi destinasi wisata.
Satu makanan dapat menjadi alasan seseorang ingin mencoba pengalaman kuliner di daerah tertentu.
Masuk Daftar TasteAtlas Bisa Menambah Promosi
Peringkat TasteAtlas juga dapat menjadi salah satu bentuk promosi tidak langsung.
Ketika sebuah makanan masuk dalam daftar internasional, masyarakat dari luar daerah maupun luar negeri dapat mengetahui keberadaannya.
Hal tersebut berpotensi mendorong rasa ingin tahu.
Mereka kemudian mencari informasi mengenai makanan tersebut, cara membuatnya, sejarahnya, hingga tempat untuk mencicipinya.
Namun, promosi tersebut tetap perlu diikuti dengan informasi yang tepat mengenai asal-usul dan karakter makanan.
Dengan demikian, popularitas tidak hanya berhenti pada tren sementara.
Makanan tersebut dapat terus dikenal dan dikonsumsi dalam jangka panjang.
Odading hingga Panada, Lima Makanan dengan Cerita Berbeda
Daftar 5 pastry Indonesia terbaik versi TasteAtlas memperlihatkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia dapat hadir dalam banyak bentuk.
Odading membawa karakter makanan manis khas Jawa Barat.
Cireng menunjukkan bagaimana bahan sederhana seperti tepung tapioka dapat menjadi jajanan yang populer.
Bakpia Pathok menjadi bagian dari identitas kuliner Yogyakarta sekaligus oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan.
Mooncake membawa tradisi budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Sementara panada memperlihatkan kekayaan kuliner Manado dengan perpaduan adonan beragi, ikan, santan, dan cabai.
Kelima makanan tersebut memiliki karakter masing-masing.
Karena itu, tidak mengherankan jika semuanya dapat menarik perhatian pengguna TasteAtlas.
Pada akhirnya, peringkat makanan tetap menjadi persoalan selera.
Ada orang yang lebih menyukai makanan manis, ada pula yang lebih menyukai makanan gurih dan pedas.
Namun, satu hal yang sulit dibantah adalah kekayaan kuliner Indonesia memang sangat luas.
Dari jajanan kaki lima hingga makanan yang diwariskan secara turun-temurun, banyak makanan Nusantara memiliki cerita yang layak dikenal lebih luas.
Daftar TasteAtlas tersebut dapat menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan kekayaan tersebut kepada masyarakat internasional.
Bagi masyarakat Indonesia sendiri, daftar ini bisa menjadi pengingat bahwa makanan yang selama ini mudah ditemukan di pasar, warung, atau pedagang kaki lima ternyata memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan makanan dari negara lain.
Jadi, dari odading, cireng, bakpia Pathok, mooncake, hingga panada, mana yang menjadi favorit Anda?
Sumber : www.kompas.com
