Rumah yang terbakar akibat kebakaran Los Angeles di titik api Palisades Fire, di Pacific Coast Highway, Negara Bagian California, Amerika Serikat, Rabu (8/1/2025).(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/APU GOMES via AFP)
Buletinmedia.com – Kebakaran hutan yang melanda Los Angeles, Amerika Serikat, telah meninggalkan dampak yang sangat besar, tidak hanya mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka fisik, tetapi juga menghancurkan berbagai infrastruktur penting, termasuk rumah, sekolah, toko, restoran, dan pusat bisnis. Kerugian dari kebakaran ini diperkirakan mencapai US$ 150 miliar, atau sekitar Rp 2.459 triliun. Dalam tulisannya yang berjudul After the Fires: How to Rebuild Los Angeles, Peneliti dari Council on Foreign Relations, Alice C. Hill, menjelaskan bahwa membangun kembali komunitas yang hancur akibat kebakaran ini memerlukan pendekatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Pendekatan tersebut harus mempertimbangkan risiko kebakaran yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, sambil menciptakan komunitas yang lebih aman dan tangguh.
Los Angeles bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Amerika Serikat dalam menghadapi dampak perubahan iklim, karena kebakaran akibat perubahan iklim berpotensi terjadi di hampir setiap negara bagian. Salah satu faktor utama yang memicu kebakaran adalah peningkatan suhu global yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan gelombang panas berkepanjangan dan musim kemarau yang lebih lama, yang berdampak pada hilangnya unsur hara di tanah dan mengeringnya tumbuhan. Seperti yang terjadi di California bagian selatan pada Januari ini, setelah dua tahun diguyur hujan lebat yang menyuburkan vegetasi, wilayah ini kini mengalami kekeringan, yang menyebabkan tumbuhan mengering dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Meskipun kebakaran umumnya dipicu oleh petir atau aktivitas manusia, perubahan iklim memperburuk potensi terjadinya kebakaran. Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2023 menunjukkan bahwa wilayah kebakaran di California meningkat sebesar 320% dari tahun 1996 hingga 2021, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. Oleh karena itu, Los Angeles harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak kebakaran, termasuk meningkatkan keterampilan dalam pemadaman api, pengelolaan lahan, dan penerapan praktik pembangunan yang lebih aman.
Untuk menghadapi tantangan ini, Los Angeles perlu mengembangkan kebijakan dan infrastruktur yang tidak hanya berfokus pada pemulihan pascakebakaran, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang. Upaya ini melibatkan perencanaan yang matang untuk mengurangi dampak kebakaran dan mencegah bencana serupa di masa depan. Dengan langkah-langkah yang tepat, Los Angeles dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan kebakaran hutan yang semakin sering terjadi.
