CIREBON, Buletinmedia.com – Kondisi memprihatinkan dialami seorang guru honorer Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Cirebon, Jawa Barat. Rumah semi permanen milik Sri Handayani yang berada di kawasan Kalitanjung Timur, Kecamatan Harjamukti, dilaporkan nyaris ambruk setelah bangunan mengalami kemiringan sekitar 50 sentimeter.
Peristiwa ini menjadi perhatian warga sekitar karena kondisi bangunan dinilai sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak layak huni. Rumah yang ditempati Sri Handayani tersebut berdiri dalam keadaan miring, terutama pada bagian sisi kiri yang merupakan area kamar tidur.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Sri Handayani tetap menjalankan profesinya sebagai tenaga pendidik untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Namun di balik pengabdiannya sebagai guru honorer, ia harus bertahan hidup di rumah yang sewaktu-waktu berisiko roboh.
Rumah Semi Permanen di Kalitanjung Nyaris Roboh
Rumah yang ditempati Sri Handayani berlokasi di RT 002 RW 004, Kalitanjung Timur, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Bangunan tersebut diketahui sudah berdiri sejak akhir tahun 2011 dan hingga kini belum pernah mendapatkan renovasi besar.
Seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan terus menurun. Fondasi rumah mulai bergeser dan menyebabkan seluruh bangunan miring. Beberapa bagian kayu penyangga juga mulai keropos dimakan usia, sehingga meningkatkan risiko bangunan roboh sewaktu-waktu.
Warga sekitar menyebut kondisi rumah tersebut semakin parah saat musim hujan tiba. Air hujan dan angin kencang membuat penghuni rumah merasa waswas karena bangunan bergoyang dan mengeluarkan suara retakan.
Dengan kemiringan mencapai sekitar 50 sentimeter, rumah itu kini hanya disangga bambu secara sederhana agar tidak roboh.
Guru Honorer dengan Gaji Rp750 Ribu per Bulan
Sri Handayani diketahui bekerja sebagai guru honorer di SLB Mutiara Bunda Losari, Cirebon. Ia mulai mengajar sejak Juli 2022 dan bertugas mendidik anak-anak berkebutuhan khusus.
Sebagai tenaga honorer, Sri menerima penghasilan sekitar Rp750 ribu per bulan. Jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi melakukan renovasi rumah yang membutuhkan biaya cukup besar.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sri tetap berangkat mengajar dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Ia mengaku profesi guru menjadi panggilan hati, terutama untuk membantu anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus dalam pendidikan.
Namun, pengabdian itu berbanding terbalik dengan kondisi tempat tinggal yang jauh dari kata layak.
Sering Tidak Bisa Tidur karena Takut Rumah Ambruk
Sri Handayani mengaku kerap kesulitan tidur setiap malam. Rasa cemas selalu muncul karena takut rumah yang ditempatinya roboh secara tiba-tiba.
Terlebih ketika hujan deras turun disertai angin kencang, ia memilih mengungsi sementara ke rumah saudaranya demi keselamatan.
Menurut pengakuannya, bagian rumah yang paling rawan berada di sisi kiri bangunan. Area tersebut mengalami penurunan tanah sehingga dinding ikut miring dan struktur atap menjadi tidak seimbang.
Ia juga menyebut bahwa beberapa kali hanya mampu memperbaiki bagian kecil rumah, seperti mengganti tiang penyangga seadanya. Namun perbaikan tersebut belum mampu menyelesaikan masalah utama.
“Rumah ini dibangun sejak 2011 dan belum pernah direnovasi karena keterbatasan biaya. Gaji saya sebagai guru honorer hanya Rp750 ribu per bulan. Paling hanya bisa mengganti tiang saja. Kalau hujan dan angin, saya khawatir rumah ambruk, jadi kadang tidur menumpang di rumah adik,” ujar Sri Handayani.
Kondisi Rumah Dinilai Tidak Layak Huni
Melihat kerusakan yang ada, rumah Sri Handayani dinilai sudah tidak layak huni. Selain bangunan miring, sejumlah material kayu lapuk dan sambungan atap mulai rapuh.
Jika tidak segera diperbaiki, bangunan dikhawatirkan roboh dan membahayakan keselamatan penghuni.
Kondisi seperti ini kerap terjadi pada rumah semi permanen yang tidak mendapat perawatan dalam waktu lama. Perubahan cuaca, kelembapan tinggi, serta penurunan struktur tanah menjadi faktor yang mempercepat kerusakan bangunan.
Apalagi rumah berada di lingkungan padat penduduk, sehingga jika roboh berpotensi membahayakan rumah di sekitarnya.
Perjuangan Guru Honorer di Tengah Keterbatasan
Kisah Sri Handayani menjadi gambaran nyata perjuangan guru honorer di Indonesia. Di satu sisi, mereka memegang peran penting dalam dunia pendidikan. Namun di sisi lain, masih banyak yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Guru honorer sering kali menerima penghasilan jauh di bawah kebutuhan hidup layak. Padahal mereka tetap menjalankan tugas yang sama seperti tenaga pendidik lainnya, mulai dari mengajar, mendampingi siswa, hingga menyusun administrasi sekolah.
Sri memilih tetap bertahan menjadi guru karena ingin membantu anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh pendidikan yang baik. Namun di balik semangat itu, ia harus menghadapi persoalan rumah tinggal yang nyaris roboh.
Warga Berharap Ada Bantuan Renovasi
Kondisi rumah Sri Handayani mulai diketahui warga sekitar setelah kemiringan bangunan semakin terlihat jelas. Banyak warga merasa prihatin dan berharap ada bantuan dari pihak terkait maupun dermawan.
Menurut warga, Sri dikenal sebagai sosok pekerja keras dan ramah di lingkungan tempat tinggalnya. Meski hidup sederhana, ia tetap aktif mengajar dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Warga berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, lembaga sosial, atau masyarakat luas untuk membantu perbaikan rumah tersebut.
Bantuan renovasi dinilai sangat dibutuhkan agar Sri bisa tinggal dengan aman dan nyaman tanpa rasa takut setiap malam.
Pentingnya Perhatian bagi Tenaga Pendidik
Kasus rumah guru honorer nyaris ambruk di Kalitanjung ini juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, terutama guru honorer.
Mereka memiliki kontribusi besar dalam mencerdaskan generasi bangsa, namun tidak sedikit yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti tempat tinggal layak.
Peningkatan kesejahteraan guru honorer menjadi isu yang terus disorot banyak pihak. Selain penghasilan, jaminan sosial dan perlindungan hidup layak juga menjadi hal penting.
Harapan Sri Handayani
Sri Handayani berharap suatu hari nanti rumahnya bisa diperbaiki sehingga ia dapat tinggal dengan tenang. Ia ingin fokus mengajar tanpa dibayangi rasa takut bangunan roboh saat ditinggal maupun saat ditempati.
Meski kondisi sulit, ia tetap berusaha menjalani hidup dengan sabar dan terus bekerja sebagai guru.
Bagi Sri, pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus tetap menjadi prioritas. Namun ia juga berharap ada jalan keluar agar keluarganya bisa hidup lebih aman.
Kisah rumah guru honorer SLB di Kalitanjung, Kota Cirebon, yang nyaris ambruk menjadi potret perjuangan di balik dunia pendidikan. Sri Handayani tetap mengabdi mendidik anak-anak berkebutuhan khusus meski harus tinggal di rumah miring 50 sentimeter yang sewaktu-waktu bisa roboh.
Di tengah keterbatasan penghasilan, ia terus bertahan sambil berharap ada bantuan renovasi rumah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa masih banyak tenaga pendidik yang membutuhkan perhatian nyata, bukan hanya apresiasi dalam kata-kata.
