Sumber Foto: Kompas.com
Rokok elektrik atau vape semakin populer di kalangan masyarakat, terutama Generasi Z. Sebagian anak muda menggunakan vape karena bentuknya dianggap menarik, memiliki banyak pilihan rasa, dan sering dikaitkan dengan gaya hidup masa kini. Vape juga kerap dianggap lebih aman daripada rokok biasa karena tidak melalui proses pembakaran tembakau. Padahal, anggapan tersebut tidak berarti vape bebas dari risiko kesehatan.
Perhatian terhadap dampak vape kembali muncul setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan pengujian yang diberitakan Kompas.com pada 1 Oktober 2026. Dalam pemberitaan tersebut, angka temuan terkait diabetes mencapai 100 persen, sedangkan temuan terkait paru-paru mencapai 92 persen pada sampel yang diuji. Hasil ini menarik perhatian karena berkaitan dengan kesehatan tubuh. Meski demikian, angka tersebut perlu dipahami sesuai dengan konteks pengujian dan tidak bisa langsung dianggap sebagai persentase seluruh pengguna vape yang mengalami penyakit.
Vape Jadi Bagian dari Gaya Hidup Anak Muda
Bagi sebagian anak muda, vape bukan hanya alat untuk mengonsumsi nikotin, tetapi juga bagian dari pergaulan. Pilihan rasa yang beragam, bentuk perangkat yang praktis, serta pengaruh teman dan media sosial membuat produk ini semakin dikenal. Tidak sedikit pula konten di media sosial yang menampilkan vape sebagai sesuatu yang menarik dan mengikuti tren.
Hal tersebut dapat memengaruhi cara anak muda memandang risiko penggunaannya. Ketika vape sering ditampilkan sebagai bagian dari gaya hidup, perhatian terhadap kandungan dan dampaknya bagi kesehatan bisa saja terabaikan. Padahal, setiap produk memiliki kandungan yang berbeda dan tidak semuanya dapat dianggap aman.
Vape bekerja dengan memanaskan cairan hingga menghasilkan aerosol yang kemudian dihirup oleh pengguna. Cairan tersebut dapat mengandung nikotin, bahan perasa, dan zat kimia lainnya. Karena itu, aerosol vape bukan sekadar uap air biasa. Kandungan di dalamnya perlu diperhatikan karena paparan zat tertentu dapat membawa risiko bagi kesehatan.
Hasil Pengujian BRIN Jadi Perhatian
Temuan BRIN mengenai diabetes dan paru-paru menambah perhatian terhadap dampak penggunaan vape. Angka 100 persen dan 92 persen yang disampaikan dalam pemberitaan Kompas.com menjadi informasi penting untuk ditelusuri lebih lanjut. Namun, angka tersebut perlu dilihat berdasarkan jenis sampel, jumlah sampel, serta indikator yang digunakan dalam pengujian.
Persentase hasil pengujian tidak otomatis menunjukkan bahwa semua pengguna vape akan mengalami diabetes atau sebagian besar penggunanya pasti mengalami penyakit paru-paru. Untuk memahami arti angka tersebut, diperlukan penjelasan lebih lengkap mengenai proses dan hasil pemeriksaan yang dilakukan BRIN.
Meski begitu, temuan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa dampak vape terhadap kesehatan tidak sebaiknya dianggap remeh. Masyarakat perlu mencari informasi dari sumber yang jelas dan tidak hanya mengandalkan anggapan yang berkembang di lingkungan pergaulan.
Dampak Vape Perlu Diperhatikan
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari penggunaan vape adalah dampaknya terhadap sistem pernapasan. Aerosol yang dihirup dapat membawa zat-zat yang berpotensi mengganggu kesehatan paru-paru. Risiko yang muncul dapat berbeda, bergantung pada kandungan cairan, frekuensi penggunaan, dan kondisi masing-masing pengguna.
Selain itu, vape yang mengandung nikotin juga dapat menyebabkan ketergantungan. Hal ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi remaja dan anak muda yang masih berada dalam masa perkembangan. Kebiasaan menggunakan produk yang mengandung nikotin dapat membuat seseorang sulit berhenti dan terus menggunakannya.
Sementara itu, hubungan antara penggunaan vape dan diabetes masih perlu dijelaskan berdasarkan bukti ilmiah yang memadai. Temuan dalam suatu pengujian tidak selalu berarti bahwa vape secara langsung menjadi penyebab penyakit tersebut. Faktor lain, seperti kondisi kesehatan, pola hidup, dan karakteristik sampel, juga perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan.
Pentingnya Edukasi Kesehatan bagi Gen Z
Di tengah popularitas vape, pengetahuan tentang risiko kesehatan menjadi hal yang penting bagi Gen Z. Informasi yang benar dapat membantu anak muda mempertimbangkan keputusan mereka dan tidak mudah terpengaruh oleh tren. Edukasi ini dapat dilakukan melalui keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, maupun media yang menyampaikan informasi berdasarkan sumber tepercaya.
Anak muda juga perlu lebih kritis dalam menerima informasi di media sosial. Tidak semua konten yang terlihat menarik memberikan gambaran yang lengkap mengenai suatu produk. Sebelum mengikuti tren, penting untuk mengetahui kandungan, cara kerja, dan risiko yang mungkin ditimbulkan.
Temuan BRIN yang diberitakan Kompas.com menjadi salah satu alasan untuk memberi perhatian lebih terhadap penggunaan vape. Namun, informasi tersebut tetap perlu dijelaskan sesuai konteks penelitian agar masyarakat tidak salah memahami angka yang disampaikan. Dengan informasi yang tepat dan edukasi yang berkelanjutan, Gen Z diharapkan dapat lebih memahami risiko vape dan lebih bijak dalam menyikapi tren yang berkembang.
