sumber foto : /irfanhakim75/
Presenter sekaligus entertainer Irfan Hakim membagikan kisah pilu yang selama ini ia simpan rapat, terkait kepergian sang ayah, Rosyid Sukarya. Cerita emosional itu disampaikan Irfan saat menjadi bintang tamu dalam sebuah tayangan podcast bersama Sara Wijayanto.
Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Irfan mengungkapkan keyakinannya bahwa ayahandanya meninggal dunia akibat dugaan malapraktik medis. Rosyid Sukarya wafat pada tahun 2017 setelah mengalami komplikasi penyakit, namun menurut Irfan, kondisi sang ayah sempat memburuk drastis karena pendarahan parah yang tidak segera ditangani.
Irfan menceritakan bahwa kala itu ayahnya tengah menjalani proses cuci darah, dan selang yang dipasang di area leher mengalami kebocoran hebat. Darah terus mengalir sejak sore hari, sementara pihak keluarga, termasuk sang ibu, sudah berulang kali meminta tim rumah sakit untuk segera mengambil tindakan.
“Darahnya banyak banget. Udah bocor dari sore. Mama saya sudah bilang ke tim rumah sakit, tapi katanya nanti dijahit setelah jam besuk selesai,” ujar Irfan, dikutip Selasa (30/12).
Namun, pertolongan medis yang dijanjikan tak kunjung diberikan. Hingga akhirnya, ayah Irfan Hakim mengembuskan napas terakhirnya tanpa mendapatkan tindakan penyelamatan yang memadai. Peristiwa itu meninggalkan luka batin mendalam bagi Irfan, yang tak bisa menyembunyikan amarah dan kekecewaannya terhadap pihak rumah sakit.
Dengan penuh emosi, Irfan bahkan mengaku sempat meluapkan kekesalannya kepada tim medis.
“Saya sampai mendoakan dokter orang tuanya merasakan apa yang saya rasakan. Itu malapraktik. Kesal banget,” ucapnya sambil menahan tangis.
Meski waktu telah berlalu, Irfan mengaku belum sepenuhnya bisa berdamai dengan kejadian tersebut. Setiap kali melintasi rumah sakit tempat ayahnya dirawat, emosinya kembali memuncak. Ia bahkan secara spontan meluapkan amarahnya dengan mengacungkan jari tengah sebagai simbol rasa kecewa yang belum terobati.
“Setiap ke Bandung, lewat rumah sakit itu, saya buka kaca mobil dan refleks ngelakuin itu,” ungkapnya jujur.
Bagi Irfan, sang ayah adalah sosok yang sangat ia cintai dan hormati. Ia merasa kehilangan itu terjadi karena kelalaian yang tak seharusnya.
“Dia itu orang yang paling saya sayang dan hormati. Tapi diperlakukan seperti itu,” katanya lirih.
Meski mengaku memiliki rekaman video sebagai bukti dan masih mengingat jelas dokter yang menangani ayahnya saat itu, Irfan memilih untuk tidak membawa kasus tersebut ke ranah hukum maupun media sosial.
“Nggak usah dilaporin. Saya cuma berharap siapa pun yang menelantarkan bapak saya, suatu hari bisa merasakan sakit yang sama seperti yang saya rasakan,” tutup Irfan dengan nada getir.
