Paul McCartney tampil di konser Empat Juli di stadion sepak bola Robert F. Kennedy. ()shutterstock.com
Buletinmedia.com – Musisi legendaris asal Inggris, Paul McCartney, mengungkapkan penentangannya terhadap usulan perubahan undang-undang hak cipta yang tengah dipertimbangkan pemerintah Inggris. Perubahan tersebut akan memungkinkan perusahaan teknologi menggunakan karya kreator untuk melatih model kecerdasan artifisial (AI), kecuali kreator secara eksplisit memilih untuk tidak mengizinkannya.
Dalam wawancara dengan BBC yang ditayangkan pada Minggu, 26 Januari 2025, McCartney yang kini berusia 82 tahun, dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan tersebut berpotensi merampok hak-hak seniman dan berisiko menghilangkan sentuhan kreativitas asli. Menurutnya, ini akan menciptakan situasi di mana karya-karya seni, yang seharusnya diakui dan dihargai, dapat dipakai sembarangan tanpa mendapat imbalan yang pantas bagi penciptanya.
“Ada pria dan perempuan muda yang muncul, dan mereka menulis lagu yang indah, dan mereka tidak memilikinya, dan mereka tidak ada hubungannya dengan itu. Dan siapa pun yang menginginkannya dapat merampasnya,” ujar McCartney, yang terkenal sebagai anggota band legendaris The Beatles.
McCartney juga menambahkan, “Sebenarnya, uang itu akan mengalir ke suatu tempat. Seseorang dibayar, jadi mengapa tidak orang yang duduk dan menulis ‘Yesterday’?” Ungkapan ini menggambarkan ketidaksetujuannya terhadap praktik di mana karya-karya kreatif digunakan tanpa izin atau penghargaan yang layak kepada pencipta aslinya.
Pemerintah Inggris, yang dipimpin oleh Partai Buruh, berambisi menjadikan negara tersebut sebagai pemimpin global dalam bidang kecerdasan artifisial. Untuk itu, pada Desember 2024, pemerintah mengadakan konsultasi publik guna menjajaki cara-cara agar aturan hak cipta bisa mengakomodasi penggunaan karya kreator untuk melatih AI tanpa mengabaikan hak-hak dan imbalan bagi pemegang hak cipta.
Namun, McCartney dengan tegas meminta pemerintah untuk lebih melindungi para kreator. “Kami rakyat, Anda pemerintah. Anda seharusnya melindungi kami. Itu tugas Anda,” ujarnya. Ia pun menambahkan, “Jika Anda mengajukan rancangan undang-undang, pastikan Anda melindungi para pemikir kreatif, seniman kreatif, atau Anda tidak akan mendapatkan mereka.”
Pernyataan McCartney ini sejalan dengan protes dari sejumlah musisi dan kreator lainnya yang semakin khawatir dengan dampak penggunaan AI dalam industri hiburan. Sejumlah artis terkenal, seperti Billie Eilish, Pearl Jam, dan Nicki Minaj, bergabung dengan lebih dari 200 penanda tangan lainnya dalam sebuah surat terbuka yang mengkritik praktik AI yang dinilai tidak bertanggung jawab. Mereka menyebutnya sebagai “serangan terhadap kreativitas manusia” yang harus dihentikan.
Dengan semakin maraknya penggunaan AI di berbagai bidang, termasuk industri hiburan, perdebatan mengenai dampaknya terhadap hak cipta dan kreativitas manusia semakin intens. Bagi McCartney, ini bukan sekadar masalah teknologi, melainkan soal mempertahankan nilai seni dan perlindungan terhadap karya kreatif yang selama ini telah memberikan kontribusi besar dalam budaya global.
“Seni dan kreativitas adalah milik mereka yang menghasilkannya. Jangan biarkan mereka dirampok tanpa ada yang peduli,” tegas McCartney, menutup wawancara dengan penuh semangat.
