Broken String memoar by Aurelie Moeremans (dok.Instagram/@aurelie)
Memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans tanpa disadari membuka diskusi luas tentang istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD). Menariknya, buku ini tidak pernah secara eksplisit menyebut NPD. Namun, pola hubungan yang digambarkan di dalamnya terasa begitu akrab bagi banyak pembaca—terutama mereka yang pernah berada dalam relasi yang melelahkan secara emosional.
Sejak awal, penting untuk menegaskan satu hal: Broken Strings bukan buku diagnosis, dan pembaca bukanlah tenaga profesional yang berwenang memberi label gangguan mental pada siapa pun. Yang bisa dan patut dibicarakan adalah pola relasi yang muncul dalam kisah tersebut—bukan diagnosis terhadap individu tertentu.
Mengapa Dikaitkan dengan NPD?
Dalam literatur psikologi populer, NPD kerap dikaitkan dengan sejumlah perilaku, seperti keinginan berlebihan untuk menjadi pusat perhatian, minim empati, kecenderungan mengontrol pasangan secara emosional, hingga membuat orang terdekat merasa bersalah dan bergantung.
Di dalam Broken Strings, pembaca menemukan gambaran hubungan yang tidak seimbang. Ada satu pihak yang perlahan kehilangan suara, kepercayaan diri, bahkan kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri. Pola ini sering dibahas dalam konteks hubungan narsistik—meskipun tidak otomatis berarti pelakunya mengidap NPD.
Di sinilah banyak pembaca mulai merasa “tercermin”, bukan karena ingin menunjuk siapa yang salah, melainkan karena dinamika emosionalnya terasa nyata dan familiar.
Grooming: Ketika Bahaya Datang dengan Wajah Cinta
Salah satu isu penting yang mengemuka dalam buku ini adalah grooming emosional. Grooming bukanlah kekerasan yang langsung terlihat. Ia sering dimulai dengan perhatian berlebihan, pujian, dan rasa aman yang intens. Perlahan, perhatian itu berubah menjadi kontrol, dan rasa aman bergeser menjadi ketergantungan.
Banyak hubungan berbahaya tidak diawali dengan luka, melainkan dengan sesuatu yang tampak seperti cinta paling ideal. Pada titik inilah, kisah Aurelie membuat pembaca mulai mengaitkan pengalamannya dengan narasi tentang relasi manipulatif—bukan untuk menuduh, tetapi untuk memahami pola.
Bahaya Terlalu Cepat Memberi Label
Sayangnya, diskusi di ruang publik dan media sosial sering kali terjebak pada penyederhanaan. Semua perilaku manipulatif dengan cepat disebut sebagai NPD. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Tidak semua orang yang manipulatif memiliki NPD. Tidak semua korban sadar bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Dan tidak semua hubungan bermasalah bisa dijelaskan dengan satu label psikologis.
Di sinilah Broken Strings seharusnya ditempatkan—bukan sebagai alat untuk menebak gangguan mental seseorang, melainkan sebagai cerita tentang luka, kesadaran, dan proses pemulihan.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Inti pembelajaran dari Broken Strings bukanlah soal siapa yang “sakit”, melainkan bagaimana mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat. Alarm perlu berbunyi ketika:
-
Kamu terus-menerus merasa bersalah tanpa tahu kesalahannya
-
Pendapat dan perasaanmu tidak pernah dianggap penting
-
Cinta justru membuatmu kehilangan diri sendiri
Buku ini mengajak pembaca untuk lebih peka pada relasi yang mengikis perlahan, agar luka serupa tidak terus terulang—baik pada diri sendiri maupun orang lain.
