Cara Gen Z Melihat Ulang Nasihat dan Cerita. (Foto: pinterest.com) - buletinmedia.com
Gen Z punya kebiasaan yang mungkin terlihat sederhana, tapi sebenarnya cukup mengubah cara mereka melihat banyak hal.
Setiap generasi tumbuh dengan nilai, nasihat, dan cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya, hal-hal yang sejak kecil sudah dianggap sebagai kebenaran.
Namun, ketika sampai pada Gen Z, banyak dari hal tersebut mulai mendapat satu pertanyaan sederhana: “Emang kenapa?”
Pertanyaan itu terdengar sepele, tetapi sebenarnya menunjukkan perubahan cara seseorang menerima sesuatu.
Alih-alih langsung menganggap sebuah nasihat benar karena sudah dipercaya sejak lama, Gen Z cenderung ingin mengetahui alasan di baliknya.
Mereka tidak hanya menerima kesimpulan, tetapi juga mempertanyakan premis yang menghasilkan kesimpulan tersebut.
Kebiasaan ini kemudian tidak berhenti pada nasihat kehidupan. Cara berpikir yang sama juga terbawa ketika Gen Z melihat kembali cerita, karakter, bahkan budaya yang sudah mereka kenal sejak kecil.
Hal yang dulu terlihat sederhana dan hitam-putih bisa terasa jauh lebih kompleks ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Nasihat Lama Mulai Dipertanyakan Gen Z
Pepatah yang diwarisi oleh generasi sebelumnya pada dasarnya lahir dari konteks kehidupan yang jelas berbeda.
Karenanya, nasihat yang dulu dianggap masuk akal dan dipercaya sebagai “kebenaran” dalam menjalani kehidupan belum tentu terasa relevan ketika diterapkan pada kondisi sekarang.
Saat ini, Gen Z lebih aware dan mempertanyakan kembali apakah nasihat itu masih bisa diterapkan dalam kehidupannya?
Kesadaran dan pola piker ini membuat Gen Z tersesan sebagai generasi “pembangkang” karena banyak mempertanyakan nasihat orang zaman dulu.
Salah satu contohnya Adalah ungkapan “Banyak anak banyak rezeki”, bagi Sebagian besar generasi sebelumnya, mungkin sangat familiar dengan ungkapan ini dan banyak yang menerapkannya di kehidupan.
Bagi Sebagian generasi sebelumnya, memiliki banyak anak dapat dilihat sebagai sumber kebahagiaan sekaligus keberkahan keluarga.
Namun, Gen Z bisa melihatnya melalui pertanyaan yang lebih praktis: Bagaimana biaya Pendidikan, Kesehatan, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga waktu dan tenaga untuk membesarkan anak?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menunjukan mereka menolak gagasan tentang banyak anak. Mereka hanya tidak lagi menganggap bahwa ungkapan tersebut otomatis berlaku untuk semua orang.
Hal yang sama dapat terlihat dari kalimat “kalau orang lain bisa, kamu juga pasti bisa.” Nasihat tersebut biasanya dimaksudkan sebagai dorongan agar seseorang tidak merasa rendah diri.
Namun, Gen Z dapat membalik pertanyaannya menjadi: “Kalau orang lain bisa, kenapa harus saya?”
Perubahan kecil dalam kalimat tersebut sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih besar.
Fokusnya tidak lagi sekadar pada kemampuan untuk mencapai sesuatu, tetapi juga pada apakah seseorang memang menginginkannya.
Seseorang mungkin mampu mengikuti standar kesuksesan yang umum, tetapi memilih jalan yang berbeda.
Dengan begitu, Gen Z tidak selalu mempertanyakan karena ingin membantah. Mereka mempertanyakan karena ingin memahami apakah sebuah aturan atau standar memang masih relevan dengan kehidupan mereka.
Ada pergeseran dari “Ini memang seharusnya begitu” menjadi “Kenapa memang harus begitu?”
Cerita Lama Dibaca dari Sudut Pandang Baru
Kebiasaan mempertanyakan sesuatu juga terbawa ketika Gen Z kembali melihat cerita yang mereka kenal sejak kecil.
Saat masih anak-anak, cerita biasanya lebih mudah dipahami dalam kategori yang sederhana. Ada tokoh baik dan ada tokoh jahat.
Ada pihak yang harus didukung dan ada pihak yang harus dikalahkan. Konflik pun biasanya memiliki jawaban yang jelas.
Namun, ketika cerita yang sama dilihat kembali ketika sudah lebih dewasa, batas antara protagonis dan antagonis bisa menjadi tidak sesederhana itu.
Ambil contoh cerita Timun Mas. Sejak kecil, Buto Ijo biasanya diperkenalkan sebagai sosok jahat yang mengejar Timun Mas.
Tetapi ketika cerita tersebut dibaca kembali dengan perspektif yang berbeda, muncul pertanyaan lain: Sebenarnya apa yang terjadi antara Buto Ijo dan orang tua Timun Mas?
Buto Ijo memberikan bantuan dengan sebuah kesepakatan. Ketika Timun Mas lahir, ia kemudian datang untuk menagih apa yang telah dijanjikan.
Dari sudut pandang tertentu, ia bukan sekadar sosok jahat yang tiba-tiba mengejar seorang anak. Ia adalah karakter yang sedang menagih sebuah kesepakatan yang memang pernah dibuat.
Tentu saja, perspektif tersebut tidak berarti Buto Ijo tiba-tiba menjadi tokoh baik. Justru menariknya ada pada kemampuan untuk melihat bahwa sebuah karakter dapat memiliki alasan di balik tindakannya.
Hal serupa juga sering terjadi pada karakter seperti Squidward dalam SpongeBob SquarePants.
Ketika kecil, Squidward mungkin terlihat sebagai tetangga yang menyebalkan, pemarah, dan selalu mengganggu kesenangan SpongeBob dan Patrick.
Namun, ketika menontonnya kembali sebagai orang yang lebih dewasa, karakter Squidward dapat terasa jauh lebih relatable.
Ia adalah seseorang yang bekerja, memiliki rutinitas, ingin menikmati waktu sendiri, tetapi terus-menerus terganggu oleh tetangga yang sangat berisik dan penuh energi.
Karakter yang dulu dianggap menyebalkan justru bisa dipahami dari sisi lain.
Ini bukan berarti Gen Z selalu berusaha membela tokoh antagonis. Yang berubah adalah cara mereka membaca karakter.
Mereka mulai bertanya: “Kenapa karakter ini melakukan itu?”, “Bagaimana kalau ceritanya dilihat dari sudut pandangnya?”, atau bahkan “Apakah dia benar-benar sejahat yang selama ini kita kira?”
Cerita yang sama akhirnya dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda ketika pembacanya berubah.
Dulu, kita mungkin hanya menerima cerita berdasarkan siapa yang dikatakan sebagai pahlawan dan siapa yang disebut sebagai penjahat. Sekarang, kita lebih tertarik pada konteks di baliknya.
Ketika Perspektif Baru Menjadi Percakapan Kolektif
Kalau kebiasaan mempertanyakan dan menafsirkan ulang ini sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, lalu mengapa fenomena tersebut terasa begitu besar di kalangan Gen Z?
Salah satu jawabannya adalah internet.
Sebelum era media sosial, seseorang yang memiliki interpretasi berbeda terhadap sebuah film, cerita, atau fenomena mungkin hanya membicarakannya dengan teman atau orang-orang di sekitarnya.
Perspektif tersebut bisa saja berhenti sebagai pemikiran pribadi. Namun, sekarang situasinya berbeda. Seseorang dapat mengunggah satu pemikiran sederhana di media sosial.
Misalnya, seseorang menulis bahwa Buto Ijo sebenarnya dapat dilihat bukan hanya sebagai tokoh jahat, melainkan sebagai karakter yang sedang menagih sebuah janji.
Kemudian orang lain membaca unggahan tersebut dan merasa, “Ternyata gue juga mikir begitu.”
Ada yang membalas dengan perspektif lain. Ada yang memberikan konteks tambahan. Ada yang membuat video untuk membahasnya lebih jauh. Ada pula yang mengubahnya menjadi meme.
Dalam waktu singkat, pemikiran yang awalnya berasal dari satu orang dapat berkembang menjadi percakapan yang melibatkan ribuan orang.
Internet bukan hanya membuat informasi menyebar lebih cepat. Internet juga membuat seseorang lebih mudah menemukan orang lain yang memiliki cara berpikir serupa.
Hal ini penting karena ketika seseorang mempertanyakan sesuatu sendirian, ia mungkin merasa pemikirannya aneh atau bahkan salah.
Namun, ketika ia menemukan banyak orang lain yang ternyata memiliki pertanyaan yang sama, perspektif tersebut memperoleh ruang untuk berkembang.
Inilah yang membuat proses reinterpretasi terasa jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Pada akhirnya, internet tidak hanya menjadi tempat bagi Gen Z untuk menerima informasi, tetapi juga tempat mereka membentuk ulang cara memahami informasi tersebut.
Kebiasaan Gen Z mempertanyakan berbagai hal terkadang dianggap sebagai bentuk sikap terlalu kritis atau bahkan tidak menghargai nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya.
Padahal, mempertanyakan tidak selalu berarti menolak. Ada perbedaan antara mengatakan “ini salah” dan bertanya “apakah ini masih relevan?”
Gen Z tumbuh dalam kondisi yang membuat mereka terpapar pada banyak perspektif secara bersamaan.
Mereka dapat melihat bagaimana orang dari latar belakang, negara, dan generasi yang berbeda menjalani hidup.
Nasihat yang dulu dianggap sebagai aturan dapat berubah menjadi bahan diskusi. Tokoh yang dulu dianggap jahat dapat dilihat dari perspektif yang berbeda.
Gen Z mungkin bukan generasi pertama yang pernah mempertanyakan sesuatu. Namun, mereka hidup di era ketika satu pertanyaan sederhana seperti “emang kenapa?” dapat menemukan ribuan orang lain yang juga ingin mencari jawabannya.
Pada akhirnya, mungkin yang berubah bukan selalu nilai atau ceritanya, Kitalah yang berubah ketika membacanya kembali.
