Jeff Bezos dan Lauren Sanchez. (dok. Jean Baptiste Lacroix / AFP)
Buletinmedia.com – Ajang mode paling bergengsi di dunia, Met Gala kembali digelar di The Metropolitan Museum of Art pada Senin (4/5). Tahun ini, Met Gala mengusung tema “Costume Art” yang memadukan karya seni dengan busana haute couture.
Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, Met Gala selalu menjadi pusat perhatian dunia fashion, selebriti, hingga industri hiburan global. Namun, penyelenggaraan Met Gala 2026 kali ini kembali diwarnai kontroversi yang cukup besar, terutama terkait keterlibatan sosok miliarder teknologi Jeff Bezos bersama pasangannya Lauren Sánchez sebagai co-chair sekaligus penyandang dana utama acara.
Met Gala 2026 dan Isu Pergeseran Nilai Eksklusivitas
Met Gala dikenal sebagai acara eksklusif dengan undangan terbatas, di mana tiketnya bisa mencapai sekitar USD 100 ribu atau setara Rp 1,7 miliar per orang. Jumlah tamu yang hadir pun dibatasi sekitar 450 undangan, menjadikannya salah satu acara paling tertutup di dunia hiburan dan fashion.
Namun, kehadiran tokoh bisnis besar seperti Jeff Bezos memunculkan perdebatan baru di kalangan pengamat mode. Banyak pihak menilai bahwa keterlibatan figur dengan kekuatan finansial besar tersebut mulai menggeser makna Met Gala dari perayaan kreativitas fashion menjadi ajang yang sarat kepentingan modal dan kekuasaan.
Kritik ini muncul karena Met Gala selama ini dipandang sebagai ruang yang mempertemukan desainer, selebriti, dan seniman dalam satu panggung budaya. Namun, dengan masuknya tokoh bisnis besar sebagai sponsor utama, sebagian kalangan menilai nilai artistik acara tersebut mulai terpengaruh.
Spekulasi Akuisisi dan Isu di Balik Layar
Keterlibatan Jeff Bezos dalam Met Gala 2026 juga memicu berbagai spekulasi di industri media dan fashion. Salah satu isu yang beredar adalah kemungkinan adanya rencana akuisisi terhadap Condé Nast, perusahaan media yang menaungi majalah Vogue sebagai penggagas utama Met Gala.
Rumor tersebut sebenarnya sudah muncul sejak tahun sebelumnya, terutama setelah pernikahan Jeff Bezos dan Lauren Sánchez yang berlangsung di Venesia. Meski belum ada konfirmasi resmi, isu ini semakin memperkuat dugaan adanya pergeseran pengaruh dalam penyelenggaraan Met Gala.
Aksi Protes dan Kritik Publik
Kontroversi Met Gala 2026 tidak hanya datang dari pengamat mode, tetapi juga dari kelompok aktivis. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kelompok Everyone Hates Elon yang melakukan aksi simbolik sebagai bentuk protes terhadap keterlibatan Jeff Bezos.
Dalam aksi tersebut, mereka menempatkan sekitar 300 botol urine palsu bertuliskan “Boikot Met Gala Bezos” di area publik sebagai bentuk kritik. Aksi ini merujuk pada laporan yang menyebut bahwa beberapa perusahaan besar, termasuk Amazon, pernah dikaitkan dengan isu kebijakan kerja yang dianggap kurang berpihak pada kesejahteraan karyawan, termasuk soal waktu istirahat.
Menurut para aktivis, keterlibatan tokoh bisnis besar dalam acara seperti Met Gala justru berpotensi mengaburkan esensi utama dari perayaan mode tersebut. Mereka menilai bahwa acara ini seharusnya tetap menjadi ruang ekspresi seni, bukan ajang dominasi kekuatan ekonomi.
Sikap Tokoh Publik dan Dinamika Politik Kota
Di tengah polemik tersebut, keputusan Zohran Mamdani untuk tidak menghadiri Met Gala 2026 juga menjadi perhatian publik. Absennya tokoh politik tersebut dianggap sebagian pihak sebagai bentuk sikap tidak langsung terhadap dinamika yang terjadi di balik acara tersebut.
Meski tidak ada pernyataan resmi yang mengaitkan keputusan itu dengan kontroversi yang berkembang, absennya tokoh penting di kota tempat acara ini digelar semakin memperkuat kesan adanya ketegangan di balik penyelenggaraan Met Gala tahun ini.
Tema “Costume Art” Kalah Sorotan
Secara konsep, Met Gala 2026 mengusung tema “Costume Art” yang menghadirkan sekitar 200 karya seni yang dipadukan dengan 200 busana dan aksesori dari desainer ternama dunia.
Tema ini sebenarnya bertujuan menciptakan dialog antara dunia seni rupa dan fashion, memperlihatkan bagaimana keduanya saling mempengaruhi dalam perkembangan budaya modern. Namun, sayangnya, tema tersebut justru kurang mendapat perhatian karena dominasi pemberitaan terkait kontroversi keterlibatan Jeff Bezos.
Sorotan Pengamat Fashion
Sejumlah pengamat fashion menilai bahwa perubahan yang terjadi pada Met Gala dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pergeseran nilai. Salah satunya adalah Cally Blackman, yang menyoroti menurunnya nilai eksklusivitas acara tersebut.
Menurutnya, keterlibatan figur-figur dengan kekuatan finansial besar membuat Met Gala tidak lagi hanya berfokus pada kreativitas dan inovasi mode, tetapi juga pada pengaruh ekonomi dan kekuasaan.
Ia menilai bahwa jika tren ini terus berlanjut, Met Gala berisiko kehilangan identitasnya sebagai ajang seni dan mode yang selama ini dikenal sangat eksklusif dan berorientasi pada karya.
Penutup
Kontroversi yang melingkupi Met Gala 2026 menunjukkan bahwa dunia fashion kini tidak lagi bisa dilepaskan dari pengaruh besar industri dan kekuatan finansial global. Keterlibatan tokoh seperti Jeff Bezos dan Lauren Sánchez menjadi simbol bagaimana batas antara seni, mode, dan bisnis semakin kabur.
Di tengah perdebatan tersebut, Met Gala tetap menjadi salah satu panggung terbesar dunia fashion yang selalu menyedot perhatian global. Namun, pertanyaan tentang arah dan nilai acara ini ke depan tampaknya masih akan terus menjadi bahan diskusi panjang di kalangan industri kreatif dan publik luas.
Sumber : www.kumparan.com
