Legenda Gunung Lawu Wakiyem (82) atau lebih dikenal Mbok Yem, meninggal dunia hari ini di kediamannya, Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan pukul 13:30 WIB. Mbok Yem sebelumnya turun gunung karena menderita pneumonia dan dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo.(KOMPAS.COM/SUKOCO)
Gunung Lawu kini kehilangan salah satu penjaganya yang paling setia. Wakiyem (82), atau lebih akrab disapa Mbok Yem, sosok legendaris penjaga warung di puncak Gunung Lawu selama lebih dari tiga dekade, tutup usia pada Rabu siang, 23 April 2025 pukul 13:30 WIB. Ia menghembuskan napas terakhirnya di kediamannya di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan, Jawa Timur, setelah sebelumnya dirawat intensif akibat pneumonia.
Kepergian Mbok Yem menyisakan duka mendalam, terutama bagi para pendaki yang selama ini merasa tertolong oleh keberadaan warung sederhana miliknya di ketinggian. Warung itu bukan hanya tempat mengisi perut yang kosong, tapi juga tempat bernaung, menghangatkan diri, dan mencicipi keramahan yang tak lekang waktu di tengah dinginnya udara pegunungan.
Dalam kunjungan Kompas.com ke RSU Aisyiyah Ponorogo pada 12 Maret 2025, Mbok Yem sempat menceritakan bahwa ia sempat jatuh di kamar kecil warungnya karena merasa pusing. Kala itu, ia menahan sakit gigi yang membuatnya enggan makan selama beberapa hari. Namun, semangat pelayanannya tak surut. Di tengah malam yang dingin, pukul 2 pagi, ia tetap memasak telur goreng untuk para pendaki yang datang.
Cucunya, Syaiful Gimbal, mengungkap bahwa keluarga baru menyadari kondisi Mbok Yem sudah menurun setelah satu minggu berlalu. Mbok Yem memang dikenal keras kepala dalam menutupi sakitnya. Baginya, yang paling penting adalah memastikan warung tetap buka demi memenuhi kebutuhan para pendaki.
“Beliau selalu mikir, kalau nggak jualan, pendaki makan apa di atas sana?” cerita Syaiful.
Diagnosis medis menunjukkan Mbok Yem mengidap pneumonia. Ia dirawat oleh tiga dokter spesialis: paru-paru, penyakit dalam, dan jantung. Meski kondisinya sempat membaik dan bahkan dijadwalkan kontrol rutin, penyakitnya kembali memburuk setelah Lebaran, hingga akhirnya Tuhan memanggilnya pulang.
Warung legendaris di puncak Lawu itu pun lahir dari ketulusan. Dahulu, sebelum membuka warung, Mbok Yem mencari jamu-jamuan di hutan Gunung Lawu. Saat itu, jika harus bermalam, ia biasa menggali sisi bukit untuk tidur di dalam lubang tanah demi menghangatkan tubuhnya. Syaiful, sang cucu, sempat menyertai beliau dalam perjalanan mencari jamu ketika masih duduk di bangku kelas 5 SD. “Saya masih ingat tidur bareng Mbok Yem di dalam tanah biar nggak kedinginan,” kisahnya.
Warung tersebut mulanya hadir karena ada pendaki yang kelaparan. Dari bekal seadanya yang dibawa untuk mencari jamu, Mbok Yem mulai berbagi makanan. Dari satu porsi nasi pecel hangat, tumbuhlah warung yang menemani para pendaki selama 35 tahun.
Rencananya, Mbok Yem ingin pensiun dan menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya. Namun, cita-cita itu tak sempat terwujud. Kini, warung Mbok Yem menjadi saksi bisu tentang keteguhan, pengabdian, dan cinta pada sesama yang menjulang tinggi, setinggi Gunung Lawu itu sendiri.
