Foto: Serangan drone Rusia ke Ukraina di Kharkiv (Reuters)
KHARKIV – Kota perbatasan Ukraina kembali dikepung ketegangan. Gelombang serangan udara terbaru yang dilancarkan Rusia pada malam hari di Kota Kharkiv, timur laut Ukraina, mengakibatkan dua warga tewas dan sedikitnya 54 orang terluka, termasuk delapan anak-anak. Ledakan-ledakan ini semakin mempertegas bahwa gencatan senjata tampaknya masih jauh dari harapan.
Wali Kota Kharkiv, Igor Terekhov, menyampaikan bahwa dalam satu malam, Rusia meluncurkan 17 serangan drone (UAV) yang menghantam dua distrik kota. Beberapa bangunan terbakar hebat, memaksa tim penyelamat mengevakuasi penduduk dari puing-puing rumah yang hancur.
“Sebagian besar korban luka berasal dari distrik Slobidskyi dan Osnovyansky, yang jadi sasaran utama serangan,” jelas Terekhov, seraya menambahkan bahwa beberapa orang kemungkinan masih terjebak di bawah reruntuhan gedung lima lantai yang terbakar.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan internasional. Rusia terus menolak seruan gencatan senjata tanpa syarat, meski tekanan dari dunia internasional semakin besar. Presiden AS Donald Trump dikabarkan telah menyerukan Moskow untuk segera menghentikan invasi yang telah berlangsung tiga tahun ini.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam respons dunia yang dinilai belum cukup tegas. Dalam unggahan media sosial, ia menyatakan bahwa saatnya negara-negara Barat bertindak nyata, bukan hanya mengutuk.
“Amerika harus menggunakan kekuatannya untuk memaksa Rusia menghentikan agresi. Dan Eropa tak punya pilihan selain menjadi lebih kuat dan bersatu,” tegas Zelensky.
Upaya diplomatik terbaru di Turki pun kandas. Perundingan damai gagal membuahkan solusi konkret, dengan Moskow menolak kompromi apapun kecuali Ukraina melepaskan wilayah-wilayahnya dan menghentikan langkah menuju keanggotaan NATO.
Namun, masih ada titik terang kecil: kedua negara sepakat untuk melakukan pertukaran lebih dari 1.000 tawanan perang, serta menyerahkan jenazah tentara yang gugur. Ini menjadi satu-satunya bentuk komunikasi konstruktif di tengah gejolak medan perang.
Serangan terhadap Kharkiv sendiri telah meningkat drastis selama sepekan terakhir. Kota ini, yang hanya berjarak sekitar 50 km dari perbatasan Rusia, menjadi sasaran rutin bom berpemandu dan drone. Serangan pada Sabtu, 7 Juni, bahkan disebut sebagai yang paling menghancurkan sejak awal invasi—mengakibatkan empat kematian dan lebih dari 50 korban luka dalam semalam.
Ukraina pun tak tinggal diam. Mereka menggencarkan serangan balasan lewat drone jarak jauh yang diarahkan ke pangkalan militer dan pusat produksi senjata Rusia, sebagai bentuk upaya menahan gempuran dan menunjukkan kekuatan bertahan di tengah tekanan berat.
