Ilustrasi perdagangan manusia (shutterstock.com)
Buletinmedia.com – Kasus penculikan aktor China Wang Xing di Thailand baru-baru ini menjadi perhatian besar di kalangan publik, terutama di kalangan pelancong asal China. Seiring dengan terungkapnya insiden ini, banyak wisatawan yang kini lebih berhati-hati dan waspada saat bepergian ke Thailand, mengingat insiden tersebut melibatkan salah satu figur publik ternama. Menurut operator tur di Thailand, mereka mulai mencatat adanya penurunan jumlah wisatawan China yang berkunjung ke negara tersebut, dengan pembatalan penerbangan dari China ke Thailand melonjak hingga 150 persen pada akhir pekan setelah kasus penculikan Wang Xing terungkap.
Beberapa bintang terkenal, seperti Eason Chan, yang merupakan penyanyi pop asal Hong Kong, memilih untuk membatalkan konsernya di Bangkok dengan alasan masalah keamanan bagi penggemarnya. Komedian Zhao Benshan juga membatalkan pertunjukan yang dijadwalkan di Bangkok pada bulan Februari mendatang dengan alasan yang sama. Operator tur di Provinsi Guangdong, China, melaporkan bahwa penurunan jumlah wisatawan terjadi setelah berita penculikan Wang Xing tersebar luas.
Wang Xing, yang dikenal dengan nama panggung Xing Xing, adalah seorang aktor muda yang terlibat dalam kejadian penculikan dan perdagangan orang ketika ia datang ke Thailand. Pada Jumat, 3 Januari 2025, Wang terbang ke Bangkok untuk mengikuti casting film dan tiba di Bandara Suvarnabhumi pada pukul 04.00 pagi waktu setempat. Setibanya di Bangkok, ia dijemput oleh seseorang yang mengaku sebagai anggota kru film, dan setelah itu dibawa ke Mae Sot, sebuah kota di dekat perbatasan Thailand-Myanmar. Wang kehilangan kontak dengan kekasihnya, Jiajia, sekitar pukul 12.00 siang dan tidak dapat dihubungi setelahnya.
Jiajia, yang khawatir dengan hilangnya Wang, segera melaporkan kejadian ini melalui media sosial. Keluarga Wang pun bergerak cepat, meminta bantuan kepada Kedutaan Besar China di Thailand untuk menyelamatkan sang aktor. Pada 7 Januari 2025, Wang akhirnya ditemukan di dekat perbatasan Myanmar, di daerah yang dikenal sebagai pusat operasi penipuan online, Myawaddy. Wang mengaku bahwa ia dijebak dengan tawaran casting oleh sebuah agensi hiburan besar Thailand, namun justru dibawa ke Myanmar, tempat ia menjadi korban perdagangan orang.
Selama penculikannya, Wang dipaksa untuk bekerja dalam skema penipuan online, di mana ia tidak diberikan gaji sesuai dengan janji yang telah dibuat. Pihak berwenang Thailand telah mengonfirmasi bahwa mereka akan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kasus ini. Kasus Wang Xing menjadi salah satu dari sekian banyak cerita serupa, di mana ratusan ribu orang, terutama dari China, menjadi korban perdagangan manusia di Myanmar. Para korban ini sering dijanjikan gaji besar atau peluang kerja, namun kenyataannya mereka disiksa dan dipaksa untuk terlibat dalam penipuan daring tanpa imbalan yang layak.
Kembalinya Wang ke China membawa sedikit harapan bagi keluarga-keluarga yang masih mencari orang-orang tercinta mereka yang hilang. Sebuah petisi bersama dari keluarga 174 warga China yang hilang di Myanmar pun dibuat, mendesak pemerintah untuk lebih aktif dalam mempercepat usaha pemulangan mereka. Dalam petisi tersebut, mereka menegaskan bahwa mereka tidak berniat untuk menghasut konfrontasi, namun hanya ingin menarik perhatian pemerintah dan mempercepat upaya penyelamatan.
Menurut laporan dari Jaringan Masyarakat Sipil untuk Bantuan Korban Perdagangan Manusia, sebuah LSM yang berbasis di Thailand, sekitar 6.000 orang diperkirakan menjadi korban perdagangan manusia di Myawaddy, dengan sekitar 3.900 di antaranya adalah warga China. Sejak pandemi Covid-19, jumlah wisatawan China ke Thailand mengalami penurunan tajam. Sebelum pandemi, China adalah sumber terbesar wisatawan asing di Thailand, namun angka tersebut belum sepenuhnya pulih, hanya mencapai sekitar 60 persen dari jumlah sebelum pandemi. Kini, dengan adanya kasus penculikan dan perdagangan manusia ini, Thailand menghadapi potensi penurunan jumlah wisatawan China yang lebih signifikan, yang akan berdampak pada sektor pariwisata negara tersebut.
