Robot Biksu di Korea (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Korea Selatan kembali mencuri perhatian dunia setelah secara resmi memperkenalkan robot biksu pertama di negara tersebut pada Rabu (6/5). Robot humanoid ini tampil menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Buddha yang jatuh pada 24 Mei, dan langsung menjadi sorotan karena terlibat dalam ritual keagamaan di kuil bersejarah.
Robot tersebut diperkenalkan dalam sebuah upacara di Kuil Jogyesa, salah satu pusat utama Buddhisme di Korea. Kehadirannya menandai momen unik ketika teknologi modern bertemu dengan tradisi spiritual yang telah berlangsung ratusan tahun.
Robot humanoid setinggi 130 sentimeter itu tampil mengenakan jubah biksu tradisional lengkap dengan kain kasaya. Di halaman Daeungjeon Hall, robot tersebut bergabung bersama para biksu pada pukul 10 pagi waktu setempat untuk mengikuti doa bersama.
Dengan posisi kedua telapak tangan dirapatkan, robot itu menirukan gerakan sembahyang seperti para biksu lainnya. Momen tersebut menjadi perhatian banyak pihak karena untuk pertama kalinya sebuah robot ikut serta secara langsung dalam ritual keagamaan Buddhisme.
Robot biksu ini merupakan model humanoid Unitree G1 yang diproduksi oleh perusahaan robotika sipil asal China, Unitree Robotics. Model ini dikenal sebagai robot humanoid dengan harga relatif terjangkau namun memiliki kemampuan gerak yang cukup canggih.
Dalam upacara inisiasi yang diselenggarakan oleh Jogye Order of Korean Buddhism, robot tersebut resmi diberi nama Dharma “Gabi”. Nama ini menjadi identitas spiritual bagi robot yang kini dilibatkan dalam simbolisasi ritual keagamaan.
Upacara yang diikuti Gabi disebut “sugye”, yaitu ritual dalam tradisi Buddhisme di mana seseorang atau peserta mengikrarkan pengabdian kepada Buddha, ajaran Dharma, dan komunitas monastik. Menariknya, ini menjadi kali pertama dalam sejarah ritual tersebut sebuah robot humanoid ikut serta sebagai peserta.
Selain itu, Gabi juga mengikuti ritual “yeonbi”, yakni praktik pemurnian yang biasanya dilakukan oleh biksu pemula. Dalam tradisi ini, para peserta biasanya menerima tanda bakar dupa kecil di lengan sebagai simbol komitmen spiritual.
Namun dalam kasus Gabi, simbol tersebut digantikan dengan cara berbeda. Sebuah stiker festival lampion teratai ditempelkan di lengannya sebagai pengganti tanda bakar dupa. Selain itu, robot ini juga dikenakan kalung doa berisi 108 butir yang menggantung di lehernya, mengikuti simbolisme Buddhisme.
Menurut laporan dari Korea Herald, adaptasi ini dilakukan agar ritual tetap memiliki makna simbolik meski melibatkan entitas non-manusia seperti robot.
Tidak hanya itu, Lima Sila Buddhis juga disesuaikan khusus untuk Gabi. Versi yang dirancang untuk robot ini mencakup aturan seperti melindungi kehidupan, tidak merusak robot atau properti lain, menghormati serta mematuhi manusia, menghindari perilaku menipu, dan menghemat energi dengan tidak melakukan pengisian daya secara berlebihan.
Adaptasi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual mencoba diterjemahkan ke dalam konteks teknologi modern yang semakin berkembang pesat.
Dari sisi teknologi, Unitree G1 memiliki spesifikasi yang cukup menarik. Robot ini memiliki tinggi sekitar 1,32 meter dengan bobot kurang lebih 35 kilogram. Desainnya dibuat agar cukup ringan namun tetap stabil untuk berbagai jenis gerakan.
Robot ini dilengkapi antara 23 hingga 43 derajat kebebasan gerak tergantung variannya. Hal ini memungkinkan G1 melakukan berbagai gerakan kompleks, termasuk berjalan, menekuk tubuh, hingga meniru gerakan manusia secara cukup realistis.
Untuk sistem persepsi lingkungan, Unitree G1 dibekali sensor 3D LiDAR serta kamera depth Intel RealSense D435. Kombinasi ini memungkinkan robot untuk membaca lingkungan sekitar dan menavigasi ruang dengan lebih akurat.
Dari sisi daya, robot ini menggunakan baterai berkapasitas 9.000 mAh yang mampu memberikan waktu operasi sekitar dua jam. Menariknya, baterai tersebut dirancang agar dapat diganti dengan cepat sehingga robot dapat kembali beroperasi tanpa waktu henti yang lama.
Dalam hal mobilitas, Unitree G1 mampu berjalan dengan kecepatan hingga 2 meter per detik atau sekitar 7,2 kilometer per jam. Kecepatan ini tergolong tinggi untuk robot humanoid di kelasnya.
Motor pada sendi robot ini juga cukup kuat dengan torsi mencapai 120 Nm. Kemampuan tersebut membuat G1 mampu membawa beban hingga sekitar 2 kilogram, sekaligus tetap menjaga keseimbangan saat bergerak.
Dari sisi harga, Unitree G1 Standard dipasarkan mulai sekitar 13.500 dolar AS atau setara kurang lebih Rp233,9 juta. Harga tersebut menjadikan G1 sebagai salah satu robot humanoid yang relatif lebih terjangkau dibandingkan model industri lainnya.
Kehadiran Gabi dalam ritual Buddha di Korea Selatan menjadi simbol baru bagaimana teknologi mulai masuk ke ruang-ruang spiritual dan budaya. Perpaduan antara tradisi dan inovasi ini memunculkan diskusi luas mengenai peran robot dalam kehidupan manusia, termasuk dalam aspek keagamaan.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan dan robotika tidak hanya terbatas pada industri atau militer, tetapi juga mulai menyentuh aspek sosial dan budaya yang lebih luas.
Dengan keterlibatan robot dalam ritual keagamaan, Korea Selatan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang berada di garis depan inovasi teknologi dunia, sekaligus membuka babak baru dalam hubungan antara manusia, teknologi, dan spiritualitas.
Sumber : www.cnnindonesia.com
