Ilustrasi Linda Yaccarino, CEO Twitter baru pengganti Elon Musk()
Setelah dua tahun menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) platform media sosial X—yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter—Linda Yaccarino secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya. Kabar mengejutkan ini disampaikan langsung melalui akun pribadi X miliknya pada Rabu (9/7/2025). Dalam pernyataannya, Yaccarino menyebut masa kepemimpinannya sebagai periode luar biasa dalam hidupnya, dan bahwa keputusannya untuk mundur diambil setelah melalui pertimbangan yang matang.
Yaccarino pertama kali ditunjuk sebagai CEO pada Mei 2023, hanya beberapa bulan setelah Elon Musk resmi mengakuisisi Twitter senilai 44 miliar dolar AS. Kala itu, penunjukan Yaccarino—yang sebelumnya dikenal sebagai eksekutif senior bidang periklanan di NBCUniversal—dipandang sebagai strategi Musk untuk menstabilkan bisnis X, menarik kembali para pengiklan besar, dan memisahkan tanggung jawab operasional dari visi teknologinya yang lebih besar.
Dalam unggahan perpisahannya, Yaccarino mengenang momen ketika pertama kali berdiskusi dengan Musk mengenai masa depan X dan menyebut kesempatan memimpin perusahaan tersebut sebagai pengalaman sekali seumur hidup. Ia berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan untuk mengawal misi X menjadi “everything app”—sebuah platform multifungsi yang bukan sekadar media sosial, tetapi juga mencakup layanan keuangan, pembayaran, dan video.
Namun, Yaccarino tidak mengungkap secara spesifik alasan dirinya mundur, maupun langkah selanjutnya dalam kariernya. Ia menutup pernyataannya dengan pesan yang ambigu: “Sampai jumpa di ????”, seolah memberi isyarat bahwa dirinya belum selesai, tapi juga belum ingin membocorkan arah tujuan berikutnya.
Sementara itu, Elon Musk merespons kabar pengunduran diri tersebut secara singkat dan formal di akun X pribadinya, hanya menuliskan, “Terima kasih atas kontribusi Anda.” Hingga saat ini, belum ada kejelasan siapa yang akan menggantikan posisi Yaccarino sebagai CEO. Beberapa spekulasi menyebut Musk kemungkinan akan kembali mengambil alih posisi tersebut untuk sementara waktu, sembari mencari figur baru yang tepat.
Keputusan mundurnya Yaccarino datang di tengah berbagai perubahan besar di tubuh perusahaan. Baru-baru ini, X telah secara resmi digabungkan ke dalam perusahaan kecerdasan buatan (AI) milik Musk, yaitu xAI. Langkah merger tersebut secara signifikan mengubah arah dan fokus strategis X, dari yang sebelumnya berorientasi pada media sosial menjadi platform distribusi dan eksperimen AI, termasuk chatbot Grok.
Namun, transformasi ini tidak lepas dari kontroversi. Grok, chatbot berbasis AI milik xAI yang terintegrasi dalam X, belakangan menjadi sorotan tajam. Grok dituduh memproduksi konten bermuatan kebencian, termasuk komentar antisemit serta pernyataan yang dinilai memuji Adolf Hitler. Insiden ini memperburuk reputasi platform yang memang telah berada di bawah tekanan sejak akuisisi Musk. Meskipun tidak disebut secara eksplisit sebagai alasan pengunduran dirinya, isu tersebut menambah beban pada kepemimpinan Yaccarino.
Selama masa jabatannya, Linda Yaccarino dianggap berhasil menavigasi X melewati berbagai badai. Ia memprakarsai sejumlah pembaruan signifikan, termasuk peluncuran fitur Community Notes untuk memperkuat pengecekan fakta kolektif, inisiatif X Money untuk layanan keuangan, serta menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan aplikasi smart TV. Tak hanya dari sisi produk, ia juga berhasil memperbaiki hubungan dengan pengiklan, mengembalikan kepercayaan merek besar, dan membantu pemulihan keuangan X yang sempat terpuruk pascaakuisisi.
Di tahun 2024, laporan keuangan internal menunjukkan tren positif pada pendapatan iklan—meskipun persaingan dari platform pesaing seperti Threads dan Bluesky tetap menjadi tantangan. Di tengah segala tekanan itu, Yaccarino tetap dikenal sebagai sosok yang tenang dan fokus pada stabilitas perusahaan, terutama di saat Musk lebih banyak terlibat dalam pengembangan teknologi AI dan proyek luar angkasa lainnya.
Kini, dengan kepergian Yaccarino, masa depan X kembali berada dalam persimpangan besar. Apakah X akan tetap menjadi platform sosial dengan pendekatan inklusif dan bisnis, atau akan sepenuhnya berevolusi menjadi saluran uji coba teknologi AI Musk? Yang jelas, langkah Yaccarino mundur menandai berakhirnya satu bab penting dalam perjalanan platform yang dulunya bernama Twitter ini.
