Bupati Majalengka, Eman Suherman saat mendatangi Puskesmas Bantarujeg usai viralnya video yang menyebut pasien ditolak di puskesmas setempat, Senin (2/11/2026)
MAJALENGKA – Bupati Majalengka Eman Suherman menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Masriah (61), pasien yang mengeluhkan pelayanan Puskesmas Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Eman juga memastikan pemerintah daerah siap menanggung biaya perawatan apabila pasien tersebut membutuhkan penanganan lanjutan di rumah sakit.
Permintaan maaf itu muncul setelah video keluhan keluarga pasien menyebar luas di media sosial dan memicu perhatian masyarakat terhadap kualitas pelayanan fasilitas kesehatan milik pemerintah.
Eman mendatangi Puskesmas Bantarujeg pada Senin (2/11/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengetahui secara langsung kronologi kejadian sekaligus meminta penjelasan dari petugas medis.
“Saya sebagai Bupati sekaligus penanggung jawab pelayanan kepada masyarakat memohon maaf. Kalau memang harus dibawa ke rumah sakit, kita bantu dan biayai,” ujar Eman.
Dugaan Miskomunikasi Picu Persoalan Pelayanan
Berdasarkan hasil penelusuran pemerintah daerah, Masriah yang merupakan warga Blok Cibujangga, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Bantarujeg, mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Bantarujeg pada Sabtu (31/10/2026) sekitar pukul 17.45 WIB.
Saat itu, Masriah mengeluhkan batuk berkepanjangan selama satu bulan, sesak napas, mual, pusing, hingga penurunan berat badan.
Dokter yang memeriksa pasien menduga Masriah mengalami tuberkulosis (TB). Karena itu, dokter menyarankan keluarga membawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Pihak puskesmas bahkan telah menyiapkan ambulans untuk memfasilitasi proses rujukan.
Namun, keluarga Masriah menolak rekomendasi tersebut karena mempertimbangkan jarak rumah sakit yang cukup jauh. Mereka berharap puskesmas dapat memberikan fasilitas rawat inap kepada pasien.
Di sisi lain, ruang rawat inap Puskesmas Bantarujeg saat itu sudah penuh. Dua pasien yang menjalani observasi juga masih mengantre untuk mendapatkan tempat perawatan.
Situasi tersebut kemudian memicu kesalahpahaman antara keluarga pasien dan petugas medis. Keluarga membawa Masriah keluar dari ruang IGD, sementara petugas mengira pasien sudah berangkat menuju rumah sakit.
Padahal, Masriah masih berada di lorong puskesmas.
“Jadi SOP sebenarnya sudah berjalan dan pasien disarankan dirujuk. Hanya saja, petugas mengira pasien sudah berangkat ke rumah sakit, padahal ternyata masih berada di lorong. Di sinilah timbul miskomunikasi karena masyarakat tidak selalu paham teknis SOP,” kata Eman.
Bupati Majalengka Evaluasi Pelayanan Kesehatan
Meski menyebut persoalan tersebut sebagai miskomunikasi, Eman menilai kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten Majalengka.
Ia meminta tenaga kesehatan tidak hanya menjalankan prosedur medis, tetapi juga membangun komunikasi yang baik dengan pasien dan keluarganya.
Menurut Eman, masyarakat yang datang ke puskesmas atau rumah sakit sering menghadapi berbagai persoalan. Mereka tidak hanya memikirkan kondisi kesehatan, tetapi juga biaya pengobatan, jarak perjalanan, serta anggota keluarga yang harus mendampingi pasien.
Karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami kondisi masyarakat dan memberikan pelayanan dengan empati.
Eman juga berencana mengunjungi rumah Masriah di Desa Cipeundeuy untuk melihat kondisi kesehatannya sekaligus memastikan keluarga mendapatkan pendampingan medis.
Seluruh Kepala Puskesmas Dipanggil
Sebagai tindak lanjut, Eman menjadwalkan pertemuan dengan seluruh direktur rumah sakit, kepala puskesmas, dan jajaran dokter di Kabupaten Majalengka pada Selasa (3/11/2026).
Pertemuan tersebut akan membahas pembinaan pelayanan publik sekaligus mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan.
Eman ingin memastikan seluruh petugas memahami tanggung jawab mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa sikap ramah, santun, dan kepedulian terhadap pasien harus menjadi bagian penting dalam setiap proses pelayanan kesehatan.
“Saya besok akan kumpulkan semua kepala puskesmas, kemudian dokter. Karena saya sudah sering menyampaikan, makanya saya sampaikan tadi, apakah suara saya tidak didengar? Pembinaan saya tidak didengar sebagai pembina kepegawaian?” tuturnya.
Eman mengingatkan seluruh tenaga kesehatan agar mengesampingkan ego pribadi ketika menjalankan tugas. Ia meminta mereka menempatkan kepentingan pasien dan masyarakat sebagai prioritas utama.
Menurutnya, pelayanan yang baik bukan hanya berkaitan dengan tindakan medis, tetapi juga menyangkut sikap dan cara petugas memperlakukan pasien.
“Kalau kita bangga melayani bangsa, maka segala bentuk apa pun harus dipersiapkan untuk melayani raja. Siapa? Pasien dan rakyat,” pungkasnya.
