Petugas menerapkan contraflow bagi kendaraan roda dua yang tidak bisa melewati banjir (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Banjir yang merendam jalur utama Pantura di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyebabkan kemacetan panjang hingga lebih dari empat kilometer pada Selasa sore. Genangan air yang masih cukup tinggi membuat arus kendaraan dari arah Jakarta menuju Jawa maupun sebaliknya berjalan sangat lambat. Polisi pun menerapkan sistem contraflow untuk kendaraan roda dua guna mengurai kepadatan lalu lintas di kawasan terdampak banjir.
Banjir terparah terjadi di ruas jalur Pantura wilayah Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Sejak dini hari, kawasan tersebut terendam air akibat meluapnya Sungai Beringin yang mendapat kiriman debit air tinggi dari wilayah hulu Kabupaten Kuningan. Luapan air tidak hanya merendam permukiman dan area persawahan, tetapi juga menggenangi jalur nasional Pantura yang menjadi akses utama kendaraan antarkota dan antarprovinsi.
Akibat genangan yang cukup tinggi, kendaraan besar seperti truk, bus, hingga mobil elf hanya bisa bergerak perlahan. Banyak pengendara memilih berhenti di bahu jalan sambil menunggu debit air surut karena khawatir kendaraan mogok saat menerobos banjir. Sementara kendaraan roda dua mengalami kesulitan lebih besar karena beberapa titik genangan mencapai ketinggian hingga enam puluh sentimeter.
Pantauan di lokasi menunjukkan antrean kendaraan mengular panjang sejak pagi hingga sore hari. Kemacetan bahkan sempat membuat arus lalu lintas stagnan selama beberapa jam. Pengendara hanya bisa bergerak merayap dengan kecepatan rendah untuk menghindari kendaraan mogok di tengah banjir.
Petugas kepolisian bersama warga dan unsur TNI turun langsung ke lapangan untuk mengatur arus lalu lintas. Rekayasa jalan dilakukan dengan menerapkan sistem contraflow, khususnya untuk kendaraan roda dua dari arah Jawa menuju Jakarta. Langkah tersebut dilakukan agar kendaraan kecil tetap bisa melintas tanpa harus melewati titik terdalam genangan air.
Pemberlakuan contraflow dilakukan secara berkala dengan pengawasan ketat petugas di lapangan. Polisi membuka satu jalur secara bergantian untuk memastikan arus kendaraan tetap bergerak meski dalam kondisi padat. Pengendara diimbau tetap berhati-hati karena permukaan jalan licin dan banyak kendaraan berhenti mendadak akibat kondisi banjir.
Kasat Lantas Polresta Cirebon, AKP Haryo, mengatakan kondisi banjir di wilayah Kecamatan Pangenan mulai berangsur membaik meski genangan di beberapa titik masih cukup tinggi.
“Update banjir di Kecamatan Pangenan mulai terurai dua arah dan debit air berangsur surut. Polisi menerapkan contraflow untuk roda dua dari arah Jawa menuju Jakarta agar arus lalu lintas tetap bergerak,” ujar AKP Haryo.
Meski debit air perlahan mulai turun, petugas tetap bersiaga mengantisipasi kemungkinan banjir susulan. Pasalnya, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah hulu sehingga dikhawatirkan kembali meningkatkan debit Sungai Beringin.
Selain menyebabkan kemacetan panjang, banjir di kawasan Pantura Rawaurip juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi warga sekitar. Banyak warung makan dan toko di pinggir jalan terpaksa tutup sementara karena area depan bangunan terendam air. Sejumlah pedagang mengaku mengalami kerugian akibat sepinya pembeli dan sulitnya distribusi barang selama banjir berlangsung.
Tidak hanya itu, ratusan hektare area persawahan di sekitar Kecamatan Pangenan juga ikut terendam. Hamparan sawah yang biasanya hijau berubah seperti lautan akibat tingginya genangan air. Petani khawatir tanaman padi yang baru ditanam mengalami gagal panen jika air tidak segera surut dalam waktu dekat.
Warga setempat menyebut banjir kali ini termasuk cukup parah karena air meluap hingga ke jalur Pantura utama. Biasanya, luapan sungai hanya menggenangi area persawahan dan permukiman warga. Namun derasnya hujan yang mengguyur wilayah Cirebon dan Kuningan sejak sore hingga malam membuat debit sungai meningkat drastis.
Sejumlah pengendara yang terjebak macet mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Banyak sopir truk memilih mematikan mesin kendaraan saat antrean tidak bergerak untuk menghemat bahan bakar. Sementara pengendara roda dua tampak berhati-hati saat melintasi jalur contraflow yang dipenuhi genangan.
Petugas juga terlihat membantu beberapa pengendara motor yang mogok akibat nekat menerobos banjir. Kendaraan yang mati di tengah jalan terpaksa didorong ke lokasi yang lebih aman agar tidak menghambat arus lalu lintas.
Kemacetan panjang di jalur Pantura Cirebon ini sempat menjadi perhatian pengguna jalan dari luar daerah. Banyak kendaraan logistik dan bus antarkota mengalami keterlambatan akibat tersendatnya arus lalu lintas. Jalur Pantura sendiri merupakan salah satu akses utama distribusi barang dan transportasi darat di Pulau Jawa sehingga gangguan di ruas jalan ini berdampak cukup besar terhadap mobilitas kendaraan.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait kini terus melakukan pemantauan terhadap kondisi banjir di sejumlah titik rawan. Selain fokus mengurai kemacetan, petugas juga memastikan keselamatan warga dan pengguna jalan selama banjir berlangsung.
Hingga Selasa malam, kondisi arus lalu lintas perlahan mulai bergerak normal meski kepadatan kendaraan masih terjadi di beberapa titik. Debit air di jalur Pantura Rawaurip juga mulai mengalami penurunan seiring cuaca yang membaik. Namun petugas tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dan tidak memaksakan melintas jika genangan kembali meningkat.
Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan serius terhadap persoalan banjir yang kerap terjadi di kawasan Pantura Cirebon. Mereka meminta normalisasi sungai, perbaikan tanggul, serta peningkatan sistem drainase agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan tiba.
Selain itu, masyarakat juga berharap ada solusi jangka panjang untuk mengantisipasi meluapnya sungai akibat kiriman air dari wilayah hulu. Pasalnya, banjir tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak besar terhadap lalu lintas nasional di jalur Pantura.
Dengan kondisi air yang mulai surut dan arus lalu lintas yang perlahan kembali bergerak, aktivitas masyarakat di kawasan Pantura Cirebon diharapkan segera kembali normal. Namun pengalaman banjir kali ini menjadi pengingat bahwa jalur Pantura masih rentan terdampak banjir ketika hujan deras mengguyur wilayah Cirebon dan sekitarnya dalam waktu lama.
