Pabrik briket ekspor di Kabupaten Cirebon terbakar hebat pada Selasa dini hari. Api yang diduga berasal dari oven yang mengalami overheat (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Sebuah pabrik briket ekspor di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengalami kebakaran hebat pada Selasa dini hari, menimbulkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai miliaran rupiah. Pabrik yang bergerak di bidang pengolahan briket arang ini berada di Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, dan dikenal sebagai salah satu pemasok utama briket kayu untuk pasar ekspor, khususnya ke negara-negara di Asia dan Timur Tengah.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 01.30 WIB. Api yang diduga berasal dari oven pengolah arang yang mengalami overheat dengan cepat membesar, menyambar tumpukan bahan baku kayu yang mudah terbakar, serta menyulut bangunan pabrik hingga runtuh sebagian. Kepulan asap tebal terlihat dari jarak beberapa kilometer, membuat warga sekitar panik dan segera menghubungi petugas pemadam kebakaran.
“Kami mendapat laporan adanya kebakaran di pabrik briket Tegalwangi dan langsung menurunkan satu regu. Namun, saat tiba di lokasi, api sudah sangat besar sehingga kami meminta bantuan dari pos barat, dan akhirnya 7 unit mobil pemadam diterjunkan untuk memadamkan api,” ujar Eno Sudjana, Kabid Kedaruratan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Cirebon. Ia menambahkan, titik api pertama diduga berasal dari oven arang yang mengalami overheat, meski penyebab pasti masih dalam penyelidikan.
Begitu tiba di lokasi, petugas langsung menghadapi kobaran api yang menyala tinggi, membumbung melalui atap pabrik yang terbuat dari seng dan kayu lapis. Area pabrik yang luas, berisi tumpukan kayu, briket siap ekspor, dan bahan pengikat, membuat api dengan cepat meluas. Untuk menahan laju api, petugas pemadam membagi wilayah pabrik menjadi beberapa sektor dan menitikberatkan penyemprotan air di bagian bahan baku yang paling mudah terbakar.
Proses pemadaman berlangsung hampir tiga jam. Tujuh unit mobil pemadam dibantu tim lapangan berusaha keras menjinakkan kobaran yang terus berkobar. Petugas juga menggunakan alat hidrolik untuk membuka bagian atap yang runtuh agar api yang terperangkap di dalam dapat keluar dan dipadamkan. Tak hanya itu, tim pemadam juga melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat untuk menutup akses jalan di sekitar pabrik, mengingat ada risiko percikan api menyambar kendaraan atau rumah warga yang berada dekat dengan pabrik.
Meski kebakaran berlangsung hebat, pihak pabrik memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini. Semua pekerja diketahui sedang tidak berada di area oven pada saat kebakaran terjadi. Namun, kerugian materiil cukup besar. Seluruh bahan baku kayu, briket siap ekspor, dan sebagian mesin produksi dilaporkan hangus terbakar. Selain itu, kerusakan bangunan pabrik yang meliputi ruang penyimpanan, oven, dan gudang pengemasan diperkirakan menelan biaya miliaran rupiah untuk perbaikan.
Pemilik pabrik, Agus Santoso, menjelaskan bahwa kebakaran ini merupakan pukulan berat bagi operasional mereka. “Hampir seluruh bahan baku dan briket siap ekspor hangus. Kami harus segera mengevaluasi sistem keamanan dan keselamatan di pabrik, serta memikirkan langkah untuk melanjutkan produksi agar kontrak ekspor tidak terganggu terlalu lama,” ujarnya. Agus menambahkan, pihak asuransi sedang melakukan peninjauan lokasi untuk mempercepat proses klaim, mengingat sebagian besar aset pabrik telah diasuransikan.
Kebakaran ini juga menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pabrik briket tersebut mempekerjakan lebih dari 50 karyawan, sebagian besar berasal dari Desa Tegalwangi dan sekitarnya. Selama proses pemadaman dan perbaikan, kegiatan produksi dihentikan sementara, sehingga para pekerja harus menunggu jadwal operasional kembali normal. Kepala Desa Tegalwangi, Suyanto, mengatakan bahwa pihaknya akan membantu koordinasi antara pabrik, petugas keamanan, dan warga sekitar agar dampak sosial dapat diminimalkan.
Selain pemadaman, petugas juga melakukan langkah-langkah pencegahan. Mereka melakukan pendinginan di sejumlah titik yang masih memunculkan bara api, memastikan tidak ada potensi kebakaran susulan. Tim investigasi dari Dinas Pemadam Kebakaran dan kepolisian setempat turut memeriksa sisa-sisa oven dan instalasi listrik untuk memastikan penyebab pasti kebakaran, apakah murni akibat overheat oven atau ada faktor lain seperti korsleting listrik atau kelalaian manusia.
Pabrik briket ekspor ini sebelumnya dikenal memiliki standar produksi yang cukup tinggi. Proses pembuatan briket dimulai dari pengeringan kayu, penggilingan menjadi serbuk, pencampuran dengan bahan pengikat, hingga pengepresan ke dalam bentuk briket padat. Oven digunakan untuk proses pemanggangan atau karbonisasi briket sebelum dikemas dan dikirim ke luar negeri. Karena proses pemanasan memerlukan suhu tinggi, risiko overheat menjadi salah satu perhatian utama, dan kebakaran kali ini menegaskan pentingnya sistem pengawasan oven yang lebih ketat.
Dampak kebakaran terhadap distribusi ekspor juga menjadi perhatian. Beberapa kontrak pengiriman briket ke negara tujuan seperti Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi berpotensi tertunda. Namun, pihak pabrik berharap dengan klaim asuransi yang cepat dan rencana pemulihan yang matang, produksi dapat kembali normal dalam beberapa minggu ke depan. “Kami juga mempertimbangkan menambah mesin cadangan dan sistem proteksi otomatis agar kejadian serupa tidak terulang,” tambah Agus Santoso.
Masyarakat setempat menyambut kebakaran ini dengan kewaspadaan. Warga diminta menjauh dari area pabrik selama proses pemadaman berlangsung. Meski tidak ada korban jiwa, mereka tetap khawatir akan percikan api atau asap tebal yang dapat mengganggu pernapasan. Beberapa warga sekitar bahkan membantu petugas dengan menyediakan air dan peralatan tambahan untuk memadamkan bara api kecil yang tersisa.
Kejadian kebakaran pabrik briket ini juga menjadi pelajaran penting bagi industri sejenis di Cirebon dan sekitarnya. Aspek keamanan, pengawasan oven, penyimpanan bahan baku mudah terbakar, dan sistem deteksi kebakaran menjadi sorotan utama. Beberapa pabrik di wilayah tersebut sudah mengumumkan akan meninjau ulang prosedur keselamatan kerja dan memperkuat sistem proteksi untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Kabid Kedaruratan Disdamkar Kabupaten Cirebon, Eno Sudjana, menekankan pentingnya kesadaran kolektif akan keselamatan. “Kebakaran ini mengingatkan kita semua, baik pelaku usaha maupun masyarakat, bahwa pengawasan terhadap alat dan bahan yang mudah terbakar harus dilakukan secara rutin. Selain itu, kesiapsiagaan dan koordinasi dengan pemadam kebakaran akan memperkecil kerugian jika terjadi kebakaran,” ujarnya.
Hingga saat ini, pihak pabrik bersama tim investigasi masih melakukan evaluasi menyeluruh. Langkah-langkah perbaikan dan mitigasi risiko sedang disiapkan agar pabrik dapat segera beroperasi kembali. Petugas juga akan membuat rekomendasi keamanan untuk oven, sistem penyimpanan bahan baku, serta prosedur tanggap darurat bagi karyawan. Sementara itu, masyarakat dan pihak pemerintah desa berharap insiden ini tidak menimbulkan dampak lanjutan bagi lingkungan dan ekonomi setempat.
Secara keseluruhan, meskipun tidak menelan korban jiwa, kebakaran pabrik briket ekspor di Desa Tegalwangi menjadi peristiwa serius. Kerugian materiil mencapai miliaran rupiah, operasional pabrik terganggu, dan distribusi ekspor berpotensi tertunda. Namun, koordinasi cepat antara petugas pemadam kebakaran, kepolisian, pemerintah desa, dan pihak pabrik berhasil mencegah dampak lebih luas. Insiden ini menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri akan pentingnya keselamatan kerja, pengawasan oven dan peralatan panas, serta kesiapsiagaan menghadapi risiko kebakaran.
