Asian Cute boy playing tablet in the children's room
Di tengah zaman digital yang kian meresap ke semua lini kehidupan, perdebatan soal peran gadget dalam tumbuh kembang anak terus mencuat. Banyak orangtua merasa bersalah ketika anak terlalu lama menatap layar. Namun, bagaimana jika gadget digunakan sebagai media bonding antara anak dan orangtua?
Psikolog sekaligus Co-founder BN Montessori, Pritta Tyas, M.Psi., mengungkapkan perspektif menarik soal ini. Menurutnya, jawaban tidak sesederhana ‘boleh atau tidak’—semuanya kembali pada usia anak dan konteks penggunaannya.
👶 Usia di Bawah 4 Tahun: Dunia Nyata Masih Lebih Menarik
Pada anak usia balita, terutama yang belum genap 4 tahun, gadget sebaiknya hanya jadi opsi terakhir. Menurut Pritta, di usia ini anak secara naluriah belum terlalu tertarik pada dunia digital. Justru, mereka sangat antusias mengeksplorasi dunia nyata: menyentuh rumput, bermain pasir, melompat, berlarian—semuanya menjadi stimulasi penting untuk tumbuh kembang.
“Bermain langsung jauh lebih optimal untuk perkembangan fisik dan sensorik,” kata Pritta. Penggunaan gadget terlalu dini justru bisa menumbuhkan kebiasaan pasif dan keinginan terus-menerus terhadap layar, yang bisa berkembang menjadi kecanduan.
👦 Usia 4–6 Tahun: Boleh Menonton, Tapi Jangan Jadi Rutinitas
Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengenal gadget, terutama untuk menonton video. Di fase ini, gadget masih bisa digunakan dalam bonding time, tapi harus dengan pengawasan dan keterlibatan aktif dari orangtua.
“Kalau menonton bersama, lalu berdiskusi tentang isi tontonan, itu masih bisa. Tapi tetap bukan cara ideal untuk bonding,” jelas Pritta.
Kunci utamanya adalah interaksi dua arah. Jangan biarkan anak menonton dalam diam, tanpa adanya keterlibatan emosional dari orangtua. Orangtua bisa membantu menjelaskan isi tontonan, memberikan konteks, bahkan menyisipkan nilai-nilai positif dari apa yang dilihat anak.
👧 Usia 6 Tahun ke Atas: Waspadai Game yang Bersifat Adiktif
Di usia ini, anak umumnya sudah mengenal dunia permainan digital. Game dirancang untuk memicu kepuasan instan lewat poin dan reward, sehingga sangat mudah membuat anak kecanduan dan lupa waktu.
Namun, bukan berarti gadget harus dijauhkan sepenuhnya. Pritta menyarankan untuk tetap menjadikan gadget sebagai sarana bonding, asalkan ada interaksi aktif. “Kalau bisa main bareng, mending di TV, bukan di layar kecil,” ucapnya.
Permainan seperti Nintendo Switch Sports yang melibatkan gerakan fisik bisa jadi opsi. Atau game sederhana yang dimainkan bergantian, seperti catur digital. Yang terpenting, orangtua tetap hadir—bukan sekadar membiarkan anak sibuk sendiri.
🎯 Intinya: Bonding Ideal Masih Butuh Aktivitas Nyata
Meski gadget bisa jadi jembatan, bukan berarti ia adalah media bonding utama. Bermain bersama di luar ruangan, memasak bersama, bercerita sebelum tidur—aktivitas nyata seperti ini tetap menjadi fondasi kedekatan emosional yang kuat antara anak dan orangtua.
“Apakah gadget bisa jadi media bonding? Bisa saja. Tapi kalau masih ada pilihan lain, sebaiknya pilih aktivitas yang lebih nyata dan penuh interaksi langsung,” tutup Pritta.
