Ilustrasi google veo 3 (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Google baru saja merilis Veo 3, sebuah model video generatif berbasis kecerdasan buatan yang kini dilengkapi dengan fitur audio otomatis. Dengan kemampuan ini, Veo 3 dapat menghasilkan suara latar, dialog, serta efek suara secara otomatis tanpa memerlukan input suara dari pengguna. Peluncuran ini diumumkan dalam acara Google I/O dan dianggap sebagai lompatan besar dalam teknologi video generatif. Namun, teknologi ini juga memicu beragam reaksi dari para pengamat dan praktisi teknologi.
Dalam uji coba, Veo 3 mampu membuat video dengan visual dan audio yang sangat realistis. Meski demikian, terkadang AI menambahkan elemen yang tidak diinginkan, seperti dialog yang tidak pernah diminta oleh pengguna. Misalnya, saat membuat video tentang kebakaran di Space Needle, Veo 3 menambahkan pembawa berita dengan suara dan latar yang meyakinkan. Bahkan, seorang instruktur Harvard Law berhasil membuat video palsu pengumuman kematian pejabat tinggi yang sebenarnya masih hidup. Hal ini menunjukkan betapa kuat namun juga berisikonya teknologi tersebut.
Google mengklaim sudah menerapkan pembatasan ketat agar Veo 3 tidak digunakan untuk membuat konten yang berbahaya atau menyesatkan, seperti video kekerasan terhadap tokoh publik atau skenario bencana palsu. Namun, pengujian menunjukkan pengguna masih dapat membuat video yang berpotensi menyesatkan tanpa menggunakan trik khusus. Meski Veo 3 belum mendukung pembuatan deepfake personal secara langsung, teknologi ini sangat efektif untuk konten sederhana seperti video animasi anak-anak yang lengkap dengan musik dan efek suara dalam waktu singkat.
Salah satu kekhawatiran utama adalah kemudahan membuat video pendek yang terlihat natural dan realistis, termasuk dialog yang dibuat AI secara otomatis, seperti percakapan antar kartun. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana teknologi ini bisa disalahgunakan untuk memproduksi konten video yang menyesatkan atau propaganda dalam skala besar. Untuk saat ini, video berdurasi panjang masih dibuat menggunakan versi lama Veo yang belum mendukung audio otomatis, tapi kemajuan teknologi yang cepat diperkirakan akan mengubah hal ini dalam waktu dekat.
Google sendiri menunjukkan sisi positif teknologi ini dengan memperkenalkan kolaborasi dalam pembuatan film bersama sutradara terkenal, yang memanfaatkan elemen video AI. Meski demikian, sejumlah pakar teknologi menyoroti potensi risiko Veo 3 yang lebih besar digunakan untuk memproduksi konten generik dan hambar yang mudah dibuat tapi kurang berkualitas. Oleh karena itu, teknologi ini membawa harapan sekaligus tantangan besar dalam dunia konten digital dan media masa depan.
