ilustrasi konsumsi minuman matcha.(canva.com)
Buletinmedia.com – Media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan kabar seseorang yang dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena terlalu banyak minum matcha. Informasi tersebut pertama kali muncul melalui unggahan akun @wyslie.zenith, yang menyebut bahwa matcha, meski terlihat sehat dan sedang naik daun di kalangan Gen Z dan milenial, tetap bisa menimbulkan efek samping jika dikonsumsi secara berlebihan.
Dalam unggahannya, akun tersebut menyoroti tren minuman matcha yang populer karena tampilannya yang estetik dan kesan menenangkan. Namun, di balik itu, matcha ternyata mengandung zat aktif seperti kafein dan katekin dalam kadar tinggi. Meskipun katekin adalah antioksidan yang bermanfaat, dalam jumlah besar bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti mual, sakit perut, atau kelebihan kafein yang memicu sakit kepala.
Sebagai gambaran, dua gram bubuk matcha berkualitas tinggi mengandung sekitar 76 mg kafein. Sedangkan batas konsumsi kafein harian yang dianggap aman untuk kebanyakan orang dewasa adalah maksimal 400 mg. Artinya, jika seseorang mengonsumsi matcha berlebihan—terutama lebih dari 10 gram per hari—maka risiko efek samping meningkat, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap kafein.
Selain jumlah, waktu konsumsi juga berpengaruh. Minum matcha saat perut kosong dapat memperbesar kemungkinan mual atau tidak nyaman di lambung. Karena itu, disarankan untuk mengonsumsinya setelah makan atau dalam jumlah kecil, terutama jika dikonsumsi secara rutin setiap hari.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua yang terlihat sehat bisa dikonsumsi tanpa batas. Matcha tetap memiliki banyak manfaat jika dikonsumsi dalam porsi wajar. Namun, memahami kandungan dan batas aman penggunaannya sangat penting, terutama di tengah tren gaya hidup sehat yang sering kali tidak diiringi dengan edukasi memadai.
