Lisa. Foto GettyANGELA WEISS/Getty Images
Buletinmedia.com – Penampilan Lisa BLACKPINK di MET Gala 2025 yang seharusnya menjadi momen bersejarah dalam perjalanan karier internasionalnya justru berubah menjadi kontroversi besar. Penyanyi asal Thailand itu hadir mengenakan busana rancangan Louis Vuitton yang bertema Superfine: Tailoring Black Style. Tema ini dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap black dandyism, gaya elegan khas pria kulit hitam yang mencerminkan kekuatan identitas dan sejarah komunitas mereka. Namun, alih-alih dipuji karena tampil berani dan elegan, Lisa justru menuai kritik tajam akibat detail desain yang dianggap tidak sensitif.
Sorotan tajam publik tertuju pada motif renda di pakaian dalam Lisa yang terlihat saat foto-foto penampilannya diunggah dan diperbesar di media sosial. Motif tersebut menampilkan gambar wajah manusia, dan salah satunya diduga kuat merupakan Rosa Parks, tokoh ikonik dalam sejarah perjuangan hak sipil Amerika Serikat. Dugaan ini memicu reaksi keras karena dianggap tidak pantas menempatkan wajah sosok bersejarah di area tubuh yang bersifat privat. Tagar #RosaParksUnderwear pun viral dan menjadi perbincangan panas di platform media sosial X (sebelumnya Twitter).
Banyak warganet menyuarakan kemarahan mereka, menyebut desain tersebut sebagai tindakan yang merendahkan simbol perjuangan. Beberapa komentar menyebut bahwa penempatan gambar Rosa Parks di pakaian dalam adalah bentuk tidak hormat dan menjadikan sejarah sebagai aksesori fesyen semata. “Siapa yang berpikir itu ide bagus untuk menaruh wajah perempuan kulit hitam berpengaruh di celana dalam?” tulis seorang warganet dengan nada kecewa. Sementara itu, sebagian penggemar Lisa mencoba meluruskan keadaan dengan menyebut bahwa Lisa tidak terlibat dalam proses desain dan hanya mengenakan busana yang telah disiapkan.
Dari sisi perancang, Louis Vuitton menyebut bahwa desain tersebut merupakan bagian dari kolaborasi dengan seniman Amerika Serikat, Henry Taylor, yang dikenal lewat karya-karya potret tokoh kulit hitam berpengaruh. Koleksi itu juga merupakan hasil kurasi Pharrell Williams, direktur kreatif lini pria Louis Vuitton. Namun hingga kini, pihak Louis Vuitton belum memberikan pernyataan resmi terkait identitas wajah-wajah dalam motif renda tersebut. Ketidakjelasan ini semakin menyulut perdebatan, karena visual yang muncul memang memiliki kemiripan dengan Rosa Parks menurut banyak pengamat dan warganet.
Sebagai latar belakang, Rosa Parks adalah simbol penting dalam sejarah perjuangan hak-hak sipil di AS. Ia dikenal karena menolak memberikan tempat duduk kepada penumpang kulit putih di bus umum tahun 1955, sebuah aksi yang memicu gerakan boikot bus Montgomery dan menjadi titik awal lahirnya gerakan hak-hak sipil modern. Dengan sejarah sebesar itu, publik berharap sosok Rosa Parks diperlakukan dengan penuh rasa hormat, terlebih saat dijadikan elemen dalam fesyen. Kontroversi ini pun menjadi pengingat bahwa karya seni dan busana harus dibuat dengan sensitivitas budaya dan sejarah yang tinggi, terlebih ketika menyangkut tokoh-tokoh penting dunia.
