(REUTERS/Phil Noble)
Kemenangan gemilang Liverpool atas Tottenham Hotspur dalam lanjutan Premier League, Minggu (27/4) waktu setempat, seharusnya menjadi malam penuh euforia tanpa cela. The Reds memastikan gelar juara setelah menggasak tamunya dengan skor telak 5-1 di Stadion Anfield. Salah satu momen yang awalnya mencuri perhatian secara positif justru berubah menjadi bahan kritikan tajam dari para suporter.
Dalam laga penuh emosi itu, Mohamed Salah ikut menyumbang satu gol pada menit ke-63 melalui ciri khasnya: cut inside dari sisi kanan dan melepaskan sepakan akurat menggunakan kaki kiri andalannya. Seperti biasanya, usai mencetak gol, Salah lebih dulu mendapatkan pelukan hangat dari rekan-rekan setim sebelum menunaikan sujud syukur sebagai bentuk selebrasi pribadinya.
Namun momen berikutnya yang dilakukan Salah langsung menjadi bahan perbincangan. Ia berlari ke arah tribune Anfield, mengambil sebuah ponsel dari seseorang yang tampak seperti suporter biasa, lalu melakukan selfie di depan para fans Liverpool yang bersorak-sorai. Setelah berfoto, Salah menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada si pemilik.
Apa yang sekilas tampak sebagai aksi spontan emosional itu, ternyata punya cerita lain di balik layar.
Menurut laporan Daily Mail, ponsel yang digunakan Salah bukanlah milik suporter biasa, melainkan sebuah perangkat Google Pixel 9 — produk dari salah satu sponsor resmi Liverpool. Perempuan yang menyerahkan ponsel itu diduga kuat adalah staf klub, bukan fans biasa.
Fakta ini memicu kekecewaan mendalam di kalangan pendukung Liverpool. Banyak yang merasa momen selebrasi Salah telah direkayasa sebagai bagian dari kampanye pemasaran tersembunyi, bukan luapan emosional yang otentik.
Sejumlah warganet menyuarakan kekecewaannya di media sosial:
-
“Sangat disayangkan, momen emosional seperti ini malah dipakai untuk iklan terselubung,” tulis salah satu netizen.
-
“Momen besar, gol penentu gelar, malah dinodai dengan gimmick sponsor. Rasanya seperti ditipu,” ujar lainnya.
-
Ada juga komentar lebih pedas, “Salah terlihat seperti menjual dirinya sendiri lewat Google Pixel, bukannya benar-benar merayakan momen bersama fans.”
Bagi banyak pendukung setia, kemenangan Liverpool seharusnya dirayakan dengan momen-momen tulus dan tanpa polesan bisnis. Sebab bagi mereka, sepak bola adalah tentang emosi murni, bukan sekadar ladang promosi.
