sumber foto : freepik
Mudik adalah momen spesial yang dinanti banyak orang, tapi tanpa persiapan matang, perjalanan panjang bisa membuat tubuh mudah lelah. Salah satu aspek penting yang sering diabaikan adalah asupan makanan yang tepat.
Saat jalanan macet atau lokasi rest area masih jauh, banyak pemudik mengandalkan camilan sebagai solusi mengganjal perut. Sayangnya, pilihan camilan seperti keripik atau biskuit cenderung rendah nutrisi dan tidak cukup memberikan energi yang dibutuhkan tubuh.
Menurut ahli nutrisi Jansen Ongko, pemudik perlu memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi agar tetap bugar selama perjalanan. Ia menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi harus mampu mengembalikan energi yang terkuras selama perjalanan.
Selain itu, waktu makan sebaiknya tetap mengikuti pola normal dan memperbanyak konsumsi sayuran untuk menjaga keseimbangan gizi.
Hindari Makanan Berminyak dan Bergula Berlebih
Jansen menyarankan agar pemudik menghindari lauk pauk yang terlalu berminyak atau memiliki kadar gula tinggi. Makanan seperti ini dapat membuat tubuh cepat lelah dan mengantuk, sehingga berisiko menurunkan konsentrasi saat berkendara.
Sebaliknya, makanan kaya serat seperti sayuran dan buah-buahan lebih dianjurkan karena dapat memberikan energi bertahan lebih lama dan membantu tubuh tetap segar selama perjalanan.
Cara makan pun perlu diperhatikan. Jansen merekomendasikan metode mindful eating, yaitu makan secara perlahan dan menikmati makanan dengan baik agar tubuh lebih mudah mencerna dan menyerap nutrisinya secara optimal.
Camilan? Boleh, Asal Jangan Berlebihan!
Mengonsumsi camilan saat perjalanan bukan hal yang dilarang, namun perlu dalam porsi yang wajar. Jika dikonsumsi berlebihan, camilan yang kaya gula justru bisa meningkatkan kadar gula darah secara drastis, menyebabkan tubuh cepat lemas setelahnya.
Pilihlah camilan sehat seperti kacang-kacangan, buah kering, atau granola yang lebih bernutrisi dibandingkan makanan ringan kemasan.
Minum Air yang Cukup, Tapi Jangan Berlebihan
Dehidrasi sering kali menjadi penyebab tubuh lemas selama perjalanan. Oleh karena itu, minum air putih yang cukup sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.
Namun, ada tantangan tersendiri—sering minum berarti keinginan buang air kecil lebih sering, yang bisa jadi merepotkan jika perjalanan terhambat macet panjang.
Solusi yang ditawarkan Jansen adalah membawa tempat pembuangan air kecil portabel atau memanfaatkan rest area dengan baik untuk menghindari ketidaknyamanan di perjalanan.
Kopi dan Minuman Energi? Boleh, Tapi Jangan Berlebihan!
Banyak pemudik yang mengandalkan kopi atau minuman energi untuk tetap terjaga selama perjalanan. Menurut Jansen, kafein memang dapat membantu meningkatkan fokus, tetapi jumlahnya harus dibatasi.
Orang dewasa disarankan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 200-300 mg kafein per hari, atau setara dengan dua cangkir kopi.
Sementara itu, minuman energi sering mengandung kadar gula tinggi serta zat stimulan lain yang bisa memberikan lonjakan energi sesaat, namun justru membuat tubuh semakin lemas setelah efeknya hilang.
Jika merasa kelelahan, beristirahat sejenak jauh lebih baik dibanding mengandalkan minuman energi. Tidur singkat selama 15-20 menit di rest area akan jauh lebih efektif untuk mengembalikan stamina dibandingkan sekadar mengonsumsi kafein.
