Perplexity (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Perplexity, pesaing ChatGPT dalam bidang kecerdasan buatan (AI), kembali menawarkan merger kepada TikTok. Tawaran ini datang setelah kejadian pemblokiran TikTok di AS pada Januari 2025 selama 12 jam, yang masih meninggalkan ketidakpastian mengenai masa depan aplikasi tersebut. Meskipun TikTok berhasil kembali beroperasi, aplikasi asal China ini tetap harus mematuhi undang-undang AS yang mengharuskan TikTok untuk memiliki perusahaan terpisah di AS atau menjual bisnisnya kepada perusahaan non-China. Dalam tawaran terbarunya, Perplexity, yang merupakan perusahaan asal AS, mengklaim bahwa mereka dapat membawa TikTok ke tingkat yang lebih tinggi dengan membangun algoritma baru yang lebih transparan dan memperkenalkan fitur pencarian dan AI yang lebih canggih.
Perplexity juga berpendapat bahwa mereka dapat meningkatkan sistem rekomendasi TikTok dan memperkuat infrastruktur di AS, serta mencegah potensi monopoli yang dikhawatirkan oleh mantan Presiden Donald Trump. Trump sebelumnya menyatakan bahwa pemblokiran TikTok berpotensi menguntungkan platform lain seperti Facebook. Dalam tawaran merger ini, Perplexity yakin dapat menghindari dampak tersebut, menjadikan TikTok lebih baik lagi, dan membuatnya menjadi platform terbaik di dunia untuk kreativitas dan penemuan konten.
Namun, Perplexity bukan satu-satunya perusahaan non-China yang tertarik pada TikTok. Pada awal Maret 2025, Trump mengungkapkan bahwa pemerintah AS tengah berunding dengan empat kelompok yang tertarik mengakuisisi TikTok AS, termasuk Oracle, yang menjadi salah satu perusahaan teratas dalam daftar peminat. Di tengah berbagai penawaran tersebut, pemerintah AS belum memberikan keputusan final mengenai nasib TikTok. Menurut informasi yang dihimpun, keputusan tersebut diperkirakan akan diambil sekitar 5 April 2025, setelah Trump memperpanjang tenggat waktu bagi TikTok untuk mematuhi undang-undang yang mengatur pemisahan atau penjualan bisnis TikTok di AS
