Dubai Ubah Istilah ‘Ibu Rumah Tangga’ Menjadi ‘Pembentuk Generasi’(Ilustrasi/iStock)
Buletinmedia.com – Dubai mengubah penyebutan untuk perempuan yang berperan utama mengurus rumah dan membesarkan anak. Istilah “ibu rumah tangga” atau housewife kini diarahkan untuk diganti dengan sebutan “Generation Shaper” atau pembentuk generasi.
Perubahan istilah tersebut diperkenalkan di Dubai pada Maret 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Kebijakan ini kembali menjadi perhatian karena membawa pesan mengenai bagaimana peran seorang ibu dalam keluarga dipandang oleh pemerintah setempat.
Arahan tersebut datang dari Putra Mahkota Dubai, Sheikh Hamdan Bin Mohammed Bin Rashid Al Maktoum. Ia menginstruksikan Community Development Authority atau Otoritas Pengembangan Masyarakat Dubai untuk mengganti istilah “Housewife” dengan “Generation Shaper”.
Perubahan tersebut bukan sekadar mengganti sebuah istilah dalam penyebutan sehari-hari. Pemerintah Dubai ingin memberikan penekanan bahwa pekerjaan mengasuh anak, mendidik keluarga, serta menjaga kehidupan rumah tangga memiliki kontribusi yang lebih luas terhadap masyarakat.
Menurut laporan Gulf Today, langkah tersebut dimaksudkan sebagai bentuk pengakuan terhadap peran ibu yang selama ini dinilai belum selalu mendapatkan penghargaan yang sepadan. Istilah “Generation Shaper” digunakan untuk menggambarkan ibu sebagai sosok yang ikut membentuk generasi masa depan.
Dubai Tidak Lagi Menggunakan Istilah Housewife?
Istilah housewife atau ibu rumah tangga selama ini lazim digunakan untuk menggambarkan perempuan yang tidak bekerja di luar rumah dan lebih banyak mencurahkan waktunya untuk mengurus keluarga.
Namun, Dubai memilih pendekatan berbeda. Melalui arahan Sheikh Hamdan, istilah tersebut diganti menjadi Generation Shaper.
Secara harfiah, Generation Shaper dapat diterjemahkan sebagai “pembentuk generasi”. Sebutan ini ingin menggambarkan peran seorang ibu yang tidak hanya menjalankan pekerjaan domestik, tetapi juga terlibat langsung dalam proses membentuk karakter anak.
Anak-anak mendapatkan pendidikan pertama bukan hanya melalui sekolah formal. Sebelum mengenal guru, buku pelajaran, dan lingkungan pendidikan, anak biasanya mendapatkan berbagai pengalaman pertama dari lingkungan keluarga.
Cara berbicara, mengenal nilai tanggung jawab, memahami hubungan dengan orang lain, serta mengenal identitas keluarga merupakan bagian dari proses yang berlangsung sejak usia dini.
Karena alasan tersebut, pemerintah Dubai ingin memberikan penekanan yang berbeda terhadap peran ibu.
Jika istilah “ibu rumah tangga” lebih menonjolkan tempat atau ruang aktivitas, yakni rumah, maka “Generation Shaper” menekankan dampak dari pekerjaan tersebut, yaitu pembentukan generasi.
Perubahan ini menjadi bagian dari upaya memberikan penghargaan terhadap pekerjaan pengasuhan yang dilakukan di dalam rumah.
Apa Arti Generation Shaper?
Generation Shaper merupakan istilah yang dipilih Dubai untuk menggambarkan ibu yang berperan besar dalam membesarkan dan membentuk anak-anak.
Dalam konteks kebijakan tersebut, seorang ibu dipandang bukan hanya sebagai orang yang mengurus kebutuhan rumah tangga. Perannya juga dikaitkan dengan pendidikan awal, pembentukan nilai, karakter, rasa memiliki, tanggung jawab, dan identitas anak.
Dengan kata lain, istilah ini mencoba memperluas cara masyarakat melihat pekerjaan pengasuhan.
Seorang ibu yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah tetap menjalankan pekerjaan yang memiliki dampak terhadap anggota keluarga lainnya. Mengurus kebutuhan anak, mendampingi proses belajar, menanamkan kebiasaan, hingga memberikan dukungan emosional merupakan bagian dari aktivitas pengasuhan.
Istilah “pembentuk generasi” kemudian digunakan untuk menyoroti dampak jangka panjang dari aktivitas tersebut.
Anak yang dibesarkan hari ini merupakan bagian dari masyarakat pada masa mendatang. Karena itu, pendidikan dan nilai yang diterima sejak kecil dapat menjadi bagian dari proses pembentukan generasi berikutnya.
Inilah gagasan utama yang ingin ditekankan melalui perubahan istilah tersebut.
Instruksi Sheikh Hamdan pada Hari Ibu
Perubahan sebutan ibu rumah tangga menjadi Generation Shaper diumumkan Sheikh Hamdan bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada Maret 2026.
Dalam arahannya, Putra Mahkota Dubai tersebut meminta Community Development Authority mengadopsi istilah baru tersebut.
Langkah ini kemudian diberitakan sebagai bentuk penghormatan terhadap para ibu yang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk membesarkan anak serta menjaga keluarga.
Gulf Today menyebut inisiatif tersebut sebagai langkah simbolis yang memiliki makna sosial dan budaya. Pemerintah Dubai ingin menempatkan peran seorang ibu sebagai bagian dari kontribusi terhadap masyarakat, bukan sekadar pekerjaan domestik di dalam rumah.
Penggunaan istilah baru juga diharapkan dapat memengaruhi cara masyarakat melihat pekerjaan pengasuhan.
Selama bertahun-tahun, pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak kerap dibandingkan dengan pekerjaan formal yang menghasilkan pendapatan. Padahal, keduanya memiliki bentuk tanggung jawab yang berbeda.
Mengurus rumah, mendampingi anak, serta memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi membutuhkan waktu dan tenaga. Pekerjaan tersebut juga dilakukan secara rutin dan sering kali berlangsung sepanjang hari.
Melalui istilah Generation Shaper, kontribusi tersebut ingin ditampilkan dengan sudut pandang yang lebih luas.
Ibu Disebut sebagai Sekolah Pertama Anak
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dari pernyataan Sheikh Hamdan adalah ketika ia menggambarkan ibu sebagai “sekolah pertama” bagi anak.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pendidikan anak dimulai jauh sebelum mereka masuk sekolah.
Di dalam keluarga, anak mulai belajar mengenai berbagai hal sederhana. Mereka mengenal bahasa, kebiasaan, sopan santun, tanggung jawab, serta cara berinteraksi dengan orang lain.
Dalam pesan yang dibagikan melalui platform X, Sheikh Hamdan menyoroti pengaruh ibu dalam proses tersebut. Ia menyebut ibu sebagai “sekolah pertama” tempat anak mempelajari nilai-nilai seperti rasa memiliki, tanggung jawab, dan identitas.
Menurutnya, pelajaran awal tersebut memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang kuat dan kohesif.
Pernyataan itu menjadi dasar dari penggunaan istilah Generation Shaper.
Artinya, ibu yang fokus membesarkan anak dipandang memiliki peran dalam membentuk individu yang nantinya akan menjadi bagian dari masyarakat.
Mengapa Istilah Ibu Rumah Tangga Diubah?
Perubahan istilah tersebut berkaitan dengan cara pemerintah Dubai melihat pekerjaan pengasuhan.
Sebutan “ibu rumah tangga” pada dasarnya menggambarkan seseorang yang menjalankan aktivitas utama di lingkungan rumah. Istilah itu tidak selalu menjelaskan seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh seorang ibu.
Dalam praktiknya, seorang ibu yang berada di rumah dapat menjalankan berbagai tugas sekaligus.
Mulai dari menyiapkan makanan, mengurus kebutuhan anak, mengatur aktivitas keluarga, mendampingi pendidikan, menjaga kesehatan anggota keluarga, hingga mengajarkan nilai dan kebiasaan kepada anak.
Sebagian dari pekerjaan tersebut tidak terlihat dalam bentuk angka ekonomi. Tidak ada gaji bulanan yang diterima dari pekerjaan mengasuh anak di rumah.
Namun, aktivitas tersebut tetap membutuhkan waktu dan tenaga.
Pemerintah Dubai melalui istilah baru tersebut ingin memberikan penekanan pada hasil jangka panjang dari pekerjaan tersebut.
Fokusnya bukan lagi pada tempat seseorang bekerja, melainkan pada kontribusi yang diberikan kepada keluarga dan generasi berikutnya.
Peran Ibu Tidak Hanya Berkaitan dengan Pekerjaan Domestik
Istilah Generation Shaper juga memperluas pembahasan mengenai peran ibu dalam keluarga.
Seorang ibu yang memilih fokus pada keluarga bukan berarti tidak melakukan aktivitas produktif. Aktivitas produktif tidak selalu harus berada di kantor atau menghasilkan pendapatan langsung.
Dalam keluarga, banyak pekerjaan yang memiliki manfaat jangka panjang tetapi tidak selalu mendapatkan perhatian.
Membacakan buku kepada anak, mengajarkan kebiasaan hidup sehat, mendampingi anak mengerjakan tugas, mengajarkan sopan santun, dan membangun komunikasi merupakan beberapa contoh aktivitas pengasuhan.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana jika dilihat satu per satu. Namun, dilakukan secara terus-menerus selama bertahun-tahun, aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Karena itu, istilah “pembentuk generasi” berusaha memberikan gambaran bahwa pekerjaan tersebut memiliki dampak yang lebih panjang dibandingkan aktivitas sehari-hari di dalam rumah.
Kontribusi yang Sering Tidak Terlihat
Salah satu persoalan yang ingin disoroti melalui perubahan istilah ini adalah kontribusi pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan yang sering kali tidak terlihat.
Pekerjaan rumah tangga tidak selalu memiliki jam kerja yang jelas. Berbeda dengan pekerjaan kantor yang umumnya memiliki waktu masuk dan pulang, pekerjaan mengurus keluarga dapat berlangsung sejak pagi hingga malam.
Ketika anak membutuhkan bantuan, orang tua harus hadir. Ketika keluarga membutuhkan makanan, ada proses menyiapkan dan memasaknya. Ketika anak sakit, ada perawatan yang harus dilakukan.
Aktivitas tersebut berjalan berulang setiap hari.
Dalam kondisi tertentu, seorang ibu juga harus mengatur berbagai kebutuhan anggota keluarga secara bersamaan. Hal ini membuat pekerjaan pengasuhan memiliki tanggung jawab yang cukup besar.
Istilah Generation Shaper kemudian digunakan untuk menyoroti kontribusi yang sering kali tidak terlihat tersebut.
Alih-alih hanya menyebut pekerjaan berdasarkan tempatnya dilakukan, Dubai menggunakan istilah yang menekankan hasil dan pengaruhnya.
Dari Rumah untuk Masa Depan Masyarakat
Konsep “pembentuk generasi” memiliki hubungan erat dengan gagasan bahwa keluarga merupakan bagian penting dari kehidupan sosial.
Keluarga menjadi lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Dari lingkungan tersebut, anak memperoleh pengalaman mengenai hubungan sosial, aturan, komunikasi, dan tanggung jawab.
Ketika anak tumbuh dan memasuki lingkungan yang lebih luas, nilai yang dipelajari dalam keluarga dapat menjadi salah satu bekal dalam berinteraksi dengan masyarakat.
Karena itu, pemerintah Dubai mengaitkan peran ibu dengan pembangunan masyarakat dalam jangka panjang.
Perubahan istilah tersebut mencerminkan pandangan bahwa pembangunan sebuah negara tidak hanya berlangsung melalui proyek infrastruktur, ekonomi, teknologi, atau pendidikan formal.
Pembangunan juga berkaitan dengan kualitas manusia yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.
Anak-anak yang mendapatkan perhatian dan pendidikan sejak usia dini pada akhirnya akan menjadi generasi yang menjalankan berbagai peran di masa depan.
Hubungannya dengan Pembangunan Nasional UEA
Langkah Dubai tersebut juga disebut sejalan dengan visi Uni Emirat Arab yang lebih luas dalam mengangkat peran sosial yang dianggap berkontribusi terhadap pembangunan nasional jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, keluarga dipandang sebagai salah satu bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Pemerintah tidak hanya melihat keberhasilan pembangunan dari sisi ekonomi, tetapi juga dari stabilitas sosial dan kekuatan keluarga.
Gulf Today melaporkan bahwa perubahan istilah tersebut berkaitan dengan upaya untuk mengangkat peran sosial yang berkontribusi pada pembangunan nasional jangka panjang. Inisiatif itu juga dikaitkan dengan keluarga, stabilitas sosial, serta pengakuan terhadap kontribusi yang tidak dibayar di dalam rumah tangga.
Dengan penggunaan istilah baru, pekerjaan pengasuhan diharapkan mendapatkan ruang yang lebih besar dalam pembicaraan publik.
Apakah Semua Ibu di Dubai Kini Wajib Disebut Generation Shaper?
Perlu dipahami bahwa perubahan istilah ini terutama merupakan langkah simbolis dan administratif dalam penggunaan istilah oleh otoritas terkait.
Pengumuman tersebut bukan berarti seluruh perempuan yang berstatus ibu otomatis memiliki kewajiban untuk meninggalkan identitas atau profesinya.
Istilah Generation Shaper ditujukan untuk memberikan penghargaan kepada perempuan yang mendedikasikan waktunya untuk membesarkan anak dan mengurus keluarga.
Dengan demikian, perubahan istilah lebih berkaitan dengan cara menggambarkan peran tersebut.
Seorang ibu dapat memiliki pekerjaan di luar rumah sekaligus menjalankan peran sebagai orang tua. Sebaliknya, ada pula ibu yang memilih untuk fokus pada keluarga.
Penggunaan istilah Generation Shaper memberikan perhatian khusus pada kelompok yang menjadikan pengasuhan anak sebagai fokus utama aktivitasnya.
Perubahan Istilah yang Membawa Pesan Sosial
Meskipun hanya terdiri dari dua kata, perubahan dari housewife menjadi Generation Shaper membawa pesan yang cukup luas.
Bahasa memiliki peran dalam membentuk cara seseorang melihat sebuah pekerjaan atau peran sosial.
Sebuah istilah dapat menekankan aspek tertentu dari sebuah aktivitas. “Housewife”, misalnya, secara langsung merujuk pada seorang perempuan dan perannya dalam rumah tangga.
Sementara itu, “Generation Shaper” lebih menekankan pengaruh terhadap generasi.
Perbedaan tersebut membuat fokus pembicaraan berubah.
Jika istilah lama menekankan lokasi aktivitas, istilah baru menekankan dampaknya.
Dalam konteks Dubai, dampak yang dimaksud adalah peran ibu dalam membesarkan anak, menanamkan nilai, dan membantu membentuk generasi masa depan.
Tidak Sekadar Mengurus Rumah
Salah satu pesan yang muncul dari kebijakan tersebut adalah bahwa pekerjaan seorang ibu tidak seharusnya hanya dilihat dari tugas domestiknya.
Mengurus rumah memang menjadi salah satu bagian dari pekerjaan keluarga. Namun, pengasuhan anak memiliki dimensi yang lebih luas.
Seorang ibu dapat menjadi orang pertama yang mengajarkan anak tentang disiplin. Ia juga dapat menjadi sosok yang pertama kali memperkenalkan anak kepada bahasa, kebiasaan, budaya, serta nilai keluarga.
Ketika anak menghadapi masalah, keluarga juga menjadi salah satu tempat pertama untuk mencari dukungan.
Karena itu, istilah Generation Shaper digunakan untuk menggambarkan keseluruhan proses tersebut.
Istilah ini tidak menghapus pekerjaan rumah tangga. Sebaliknya, pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni kontribusinya terhadap keluarga dan generasi mendatang.
Respons terhadap Peran Ibu dalam Masyarakat
Perubahan sebutan ini juga menunjukkan bahwa pembahasan mengenai peran ibu tidak hanya berkaitan dengan urusan keluarga.
Peran tersebut dapat dikaitkan dengan pendidikan, nilai sosial, stabilitas keluarga, serta pembentukan masyarakat.
Ketika seorang ibu mengajarkan anak mengenai tanggung jawab, misalnya, nilai tersebut dapat terbawa ketika anak tumbuh dan berinteraksi dengan lingkungan.
Begitu juga dengan nilai saling menghormati, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap komunitas.
Inilah alasan mengapa Sheikh Hamdan menekankan pentingnya pelajaran yang diterima anak sejak usia dini.
Menurut pernyataannya, pelajaran awal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang kuat dan memiliki kohesi sosial.
Dubai dan Upaya Mengangkat Peran Keluarga
Dubai selama ini dikenal sebagai salah satu kota dengan perkembangan ekonomi dan pembangunan yang pesat.
Namun, di balik pembangunan tersebut, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap aspek keluarga dan masyarakat.
Penggunaan istilah Generation Shaper dapat dilihat sebagai salah satu bentuk komunikasi kebijakan yang menempatkan keluarga sebagai bagian dari pembangunan sosial.
Dalam pendekatan ini, keluarga tidak hanya dipandang sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga juga menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan pertama bagi anak.
Karena itu, orang yang menjalankan peran pengasuhan memiliki posisi penting.
Perubahan istilah tersebut kemudian menjadi cara untuk memberikan penghargaan terhadap pekerjaan yang selama ini banyak dilakukan di ruang privat.
Perubahan Sebutan Bukan Perubahan Peran
Meski istilahnya berubah, pekerjaan seorang ibu pada dasarnya tetap sama.
Seorang ibu tetap harus mengurus kebutuhan keluarga, mendampingi anak, memberikan pendidikan, dan menjalankan berbagai tugas rumah tangga.
Yang berubah adalah cara peran tersebut disebut dan diposisikan dalam komunikasi resmi.
Dubai ingin menggunakan istilah yang dianggap lebih mencerminkan pengaruh jangka panjang dari aktivitas pengasuhan.
Dengan istilah Generation Shaper, fokusnya bergeser dari “perempuan yang mengurus rumah” menjadi “perempuan yang ikut membentuk generasi”.
Perubahan sudut pandang tersebut menjadi inti dari kebijakan yang diumumkan pada Hari Ibu.
Mengapa Istilah Ini Kembali Ramai Dibicarakan?
Pengumuman perubahan istilah sebenarnya telah dilakukan pada Maret 2026. Namun, topik tersebut kembali menjadi perhatian karena gagasan mengenai cara menghargai pekerjaan ibu memiliki relevansi yang luas.
Perdebatan mengenai pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan bukan hanya terjadi di Dubai.
Di banyak negara, pekerjaan domestik dan pengasuhan anak sering menjadi pembahasan karena sebagian besar aktivitas tersebut tidak dibayar dan dilakukan di lingkungan rumah.
Istilah Generation Shaper kemudian menarik perhatian karena menawarkan cara pandang berbeda.
Alih-alih melihat ibu rumah tangga sebagai seseorang yang hanya berada di rumah, istilah tersebut menekankan peran mereka dalam membentuk manusia yang kelak menjadi bagian dari masyarakat.
Ibu sebagai Bagian dari Pembentukan Karakter Anak
Masa kanak-kanak merupakan periode ketika seseorang mulai mengenal berbagai aturan dan kebiasaan.
Di lingkungan keluarga, anak belajar bahwa ada perilaku yang boleh dilakukan dan ada pula yang tidak.
Anak juga belajar bagaimana meminta sesuatu, berbicara dengan orang lain, menyelesaikan masalah, serta memahami konsekuensi dari tindakan.
Orang tua memiliki peran dalam proses tersebut.
Karena ibu sering menjadi salah satu orang yang paling dekat dengan anak dalam kehidupan sehari-hari, interaksi tersebut dapat berlangsung berulang kali.
Dari rutinitas sederhana seperti makan bersama, merapikan mainan, membaca buku, hingga berbicara mengenai kegiatan sehari-hari, proses pembelajaran dapat terjadi.
Inilah salah satu alasan mengapa Dubai menggunakan istilah Generation Shaper.
Dari Pengasuhan Menjadi Investasi Sosial
Jika dilihat dalam jangka panjang, pengasuhan anak dapat dipahami sebagai bagian dari investasi sosial.
Anak-anak yang tumbuh hari ini akan menjadi pelajar, pekerja, pemimpin, pengusaha, tenaga profesional, maupun anggota masyarakat pada masa depan.
Nilai dan kebiasaan yang mereka dapatkan sejak kecil dapat menjadi salah satu bekal ketika memasuki kehidupan sosial yang lebih luas.
Karena itu, pekerjaan pengasuhan memiliki dampak yang tidak selalu langsung terlihat.
Hasilnya baru dapat terlihat dalam jangka panjang ketika anak tumbuh dewasa.
Dengan memberikan sebutan “pembentuk generasi”, Dubai ingin menempatkan kontribusi tersebut dalam konteks yang lebih luas.
Makna Budaya di Balik Istilah Baru
Dalam budaya masyarakat, penyebutan terhadap sebuah peran dapat memiliki makna tersendiri.
Ketika pemerintah memilih istilah tertentu, istilah tersebut dapat menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Dalam kasus Dubai, Generation Shaper digunakan sebagai ungkapan penghargaan terhadap ibu.
Istilah tersebut menyampaikan gagasan bahwa membesarkan anak bukanlah pekerjaan yang berhenti pada lingkungan rumah.
Dampaknya dapat meluas hingga keluarga, komunitas, dan masyarakat.
Sheikh Hamdan sendiri dalam pesannya memberikan penghormatan kepada para ibu dan menggambarkan mereka sebagai fondasi dari berbagai hal baik.
Dubai Ganti Istilah Ibu Rumah Tangga, Apa Dampaknya?
Dampak paling langsung dari kebijakan tersebut adalah perubahan cara penyebutan dalam komunikasi dan program sosial yang berada di bawah Community Development Authority.
Gulf Today melaporkan bahwa istilah baru tersebut diharapkan tercermin dalam komunikasi resmi dan program sosial otoritas terkait.
Namun, dampak yang lebih luas dari perubahan tersebut berada pada ranah sosial dan budaya.
Pemerintah Dubai ingin mendorong masyarakat melihat pekerjaan pengasuhan sebagai sesuatu yang memiliki nilai.
Istilah tersebut juga menjadi cara untuk mengingatkan bahwa kontribusi seseorang terhadap keluarga tidak selalu harus dihitung berdasarkan pendapatan.
Bukan Sekadar Pergantian Nama
Pada akhirnya, perubahan istilah dari “ibu rumah tangga” menjadi Generation Shaper di Dubai bukan sekadar pergantian nama.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan penghargaan terhadap perempuan yang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk membesarkan anak serta mengurus keluarga.
Melalui istilah “pembentuk generasi”, Dubai ingin menonjolkan peran seorang ibu sebagai sosok yang ikut menentukan bagaimana generasi berikutnya tumbuh.
Anak belajar banyak hal pertama kali dari keluarga. Nilai seperti tanggung jawab, identitas, rasa memiliki, serta cara berinteraksi dengan lingkungan mulai diperkenalkan sejak usia dini.
Karena itu, Sheikh Hamdan menggambarkan ibu sebagai “sekolah pertama” bagi anak. Pelajaran yang diperoleh pada tahap awal kehidupan tersebut dinilai memiliki hubungan dengan terbentuknya masyarakat yang kuat dan kohesif.
Perubahan istilah tersebut juga memperlihatkan bahwa pekerjaan domestik dan pengasuhan dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.
Bagi Dubai, ibu yang fokus mengurus anak bukan sekadar orang yang bekerja di rumah. Mereka juga dianggap memiliki peran dalam membentuk manusia yang nantinya akan menjadi bagian dari masyarakat.
Dengan demikian, Generation Shaper menjadi istilah yang digunakan untuk menekankan kontribusi jangka panjang tersebut.
Perubahan ini mungkin hanya berupa perubahan terminologi, tetapi pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: membesarkan anak dan menjaga keluarga dipandang sebagai bagian dari proses membangun generasi masa depan.
Dan dari sudut pandang itulah Dubai memilih istilah “Generation Shaper” atau “Pembentuk Generasi” sebagai sebutan baru bagi peran yang sebelumnya dikenal sebagai ibu rumah tangga.
Sumber : www.cnnindonesia.com
