Ilustrasi perempuan bahagia dengan menerapkan sikap bodo amat dan nothing to lose/Foto: Freepik/pressfoto
Buletinmedia.com – Sikap bodo amat terkadang memang diperlukan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak mungkin memikirkan semua komentar orang lain, menanggapi setiap masalah, atau menghabiskan energi untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Ada kalanya bersikap cuek justru menjadi pilihan yang sehat. Misalnya, ketika mendapatkan komentar negatif dari orang yang tidak dikenal atau menghadapi persoalan kecil yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan. Dalam kondisi seperti itu, memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dapat membantu seseorang menjaga ketenangan.
Namun, sikap bodo amat juga bisa menjadi persoalan jika dilakukan terlalu sering.
Ketika kalimat “bodo amat” digunakan setiap kali seseorang menghadapi masalah, konflik, kekecewaan, atau emosi yang tidak nyaman, sikap tersebut bisa berubah fungsi. Bukan lagi sekadar cara untuk memilah mana yang perlu diperhatikan dan mana yang tidak, tetapi menjadi kebiasaan untuk menghindari sesuatu yang sebenarnya perlu dihadapi.
Dalam psikologi, ada beberapa konsep yang berkaitan dengan pola tersebut, salah satunya adalah emotional suppression atau penekanan emosi. Ada pula istilah avoidant coping, yaitu cara menghadapi tekanan dengan menghindari atau menjauh dari sumber masalah.
Keduanya tidak sama dengan sekadar bersikap cuek terhadap hal yang memang tidak penting.
Seseorang tetap boleh memilih untuk tidak menanggapi komentar orang lain. Ia juga tidak harus menjelaskan setiap keputusan kepada semua orang. Namun, ketika sikap bodo amat digunakan untuk menekan perasaan sendiri atau menghindari masalah secara terus-menerus, dampaknya dapat mulai terasa.
Bukan hanya pada kondisi psikologis, kebiasaan tersebut juga bisa berpengaruh terhadap hubungan sosial dan cara seseorang berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Tidak Semua Hal Memang Harus Dipikirkan
Sebelum membahas dampak buruk terlalu sering bersikap bodo amat, perlu dipahami bahwa tidak semua bentuk sikap cuek merupakan sesuatu yang negatif.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan untuk memilih mana yang perlu diperhatikan merupakan hal penting.
Seseorang mungkin mendapatkan komentar negatif di media sosial. Jika komentar tersebut tidak memberikan manfaat dan hanya bertujuan menjatuhkan, tidak menanggapinya bisa menjadi pilihan yang masuk akal.
Begitu pula ketika seseorang menghadapi masalah kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan sendirinya. Tidak semua persoalan harus dibawa ke pikiran sepanjang hari.
Kemampuan mengatakan “bodo amat” pada situasi tertentu bahkan dapat membantu seseorang menghemat energi mental.
Masalahnya muncul ketika semua persoalan diperlakukan dengan cara yang sama.
Ketika ada konflik dengan pasangan, seseorang berkata bodo amat. Ketika merasa kecewa kepada teman, ia memilih diam. Ketika sedang mengalami tekanan, ia mengatakan tidak ada masalah. Ketika seseorang menyakiti perasaannya, ia kembali berpura-pura tidak peduli.
Jika pola tersebut terus berulang, ada kemungkinan sikap bodo amat bukan lagi bentuk pengelolaan diri, melainkan cara untuk menghindari sesuatu yang terasa tidak nyaman.
Apa Itu Emotional Suppression?
Dalam psikologi, emotional suppression mengacu pada kecenderungan menekan atau menyembunyikan ekspresi emosi yang sedang dirasakan.
Menekan emosi berbeda dengan mengatur emosi.
Ketika seseorang sedang marah dan memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara, hal tersebut tidak otomatis berarti ia sedang menekan emosinya secara tidak sehat. Justru mengambil jeda dapat menjadi bagian dari pengelolaan emosi.
Persoalan dapat muncul ketika seseorang terus-menerus menyangkal apa yang dirasakannya.
Contohnya, seseorang sebenarnya kecewa, tetapi selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia merasa terluka, tetapi memilih menganggap perasaan tersebut tidak ada. Ia sedang marah, tetapi terus mengatakan bahwa dirinya tidak peduli.
Dalam kondisi seperti itu, emosi tidak benar-benar diproses. Perasaan hanya disimpan atau disembunyikan.
Dari luar, orang tersebut mungkin terlihat tenang dan tidak memiliki masalah. Namun, keadaan di dalam dirinya belum tentu sama.
Inilah salah satu alasan mengapa sikap bodo amat perlu dilihat dari konteksnya.
Cuek terhadap hal yang memang tidak penting tentu berbeda dengan mengabaikan emosi sendiri ketika menghadapi persoalan yang sebenarnya berarti.
- Emosi yang Ditekan Bisa Memengaruhi Hubungan Sosial
Salah satu dampak terlalu sering bersikap bodo amat dapat terlihat dalam hubungan sosial.
Tidak semua emosi memang harus langsung diungkapkan kepada orang lain. Ketika sedang marah, seseorang boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri. Ketika kecewa, ia juga tidak harus langsung berbicara sebelum siap.
Namun, jika kebiasaan menyembunyikan emosi berlangsung terus-menerus tanpa pernah benar-benar memproses perasaan tersebut, hubungan dengan orang lain dapat ikut terpengaruh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion menemukan adanya kaitan antara kecenderungan melakukan emotional suppression dengan sejumlah aspek kesejahteraan sosial yang kurang baik.
Beberapa di antaranya adalah dukungan sosial yang lebih rendah, kepuasan terhadap hubungan sosial yang lebih rendah, serta kualitas hubungan romantis yang lebih buruk.
Hal tersebut masuk akal jika dilihat dari cara seseorang berkomunikasi.
Hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan dalam batas yang wajar. Orang lain perlu mengetahui apa yang sedang kita rasakan agar dapat memahami bagaimana sebaiknya mereka bersikap.
Jika seseorang selalu mengatakan “terserah”, “nggak apa-apa”, atau “bodo amat” ketika sebenarnya ada masalah, orang di sekitarnya mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya sedang terluka.
Akibatnya, masalah yang sebenarnya bisa dibicarakan justru tidak pernah dibahas.
Lambat laun, jarak dalam hubungan dapat muncul tanpa disadari.
- Bisa Membuat Seseorang Semakin Jauh dari Orang Lain
Kebiasaan menekan emosi juga dapat memengaruhi cara seseorang berhubungan dengan lingkungan sosialnya.
Ketika seseorang terbiasa menyimpan semua hal sendiri, orang lain mungkin merasa sulit mendekatinya.
Bukan karena orang tersebut tidak memiliki orang yang peduli, tetapi karena ia tidak memberikan ruang bagi orang lain untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Penelitian mengenai emotional suppression juga mengaitkan kecenderungan tersebut dengan suasana hati yang lebih buruk, kelelahan, harga diri yang lebih rendah, serta tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah.
Orang yang sering menekan emosi juga dapat merasa dirinya kurang diterima oleh orang lain dan memiliki persepsi bahwa orang-orang di sekitarnya semakin menjauh.
Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran yang cukup rumit.
Seseorang merasa orang lain menjauh, kemudian semakin memilih untuk menutup diri. Karena semakin tertutup, orang lain semakin sulit memahami dirinya. Akhirnya, jarak tersebut menjadi semakin besar.
Padahal, bisa jadi persoalan awalnya hanya karena seseorang tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Misalnya, seorang teman melakukan sesuatu yang membuat kecewa. Alih-alih membicarakannya, seseorang memilih mengatakan, “Bodo amat.”
Temannya kemudian menganggap tidak ada masalah.
Beberapa waktu kemudian, orang tersebut masih menyimpan rasa kecewa. Hubungan menjadi lebih dingin, tetapi tidak ada yang mengetahui penyebabnya.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa tidak semua persoalan akan selesai hanya karena tidak dibicarakan.
- Terbiasa Menghindari Masalah
Dampak berikutnya adalah seseorang dapat terbiasa menggunakan penghindaran sebagai cara menghadapi masalah.
Dalam psikologi, pola tersebut antara lain dikenal sebagai avoidant coping.
Secara sederhana, avoidant coping merupakan cara menghadapi tekanan dengan menjauh dari sumber persoalan atau berusaha tidak berhadapan langsung dengan masalah.
Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seseorang sedang mengalami konflik dengan teman. Daripada membicarakannya setelah suasana lebih tenang, ia memilih mengatakan, “Ah, bodo amat.”
Besoknya ia tetap berinteraksi seperti biasa, tetapi masalah tersebut tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Contoh lain terjadi dalam hubungan romantis.
Seseorang merasa kecewa terhadap pasangannya. Ia sebenarnya ingin membicarakan persoalan tersebut, tetapi memilih diam karena tidak ingin terjadi pertengkaran.
Untuk sementara, keadaan mungkin terlihat baik-baik saja.
Namun, rasa kecewa tersebut belum tentu hilang.
Jika kejadian serupa terus terjadi, berbagai emosi yang tidak pernah dibicarakan dapat menumpuk.
Masalah yang awalnya kecil akhirnya dapat berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
- Masalah yang Dihindari Belum Tentu Hilang
Salah satu kesalahpahaman mengenai sikap bodo amat adalah anggapan bahwa mengabaikan masalah sama dengan menyelesaikannya.
Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.
Ketika seseorang memilih tidak memikirkan komentar negatif yang tidak penting, persoalan tersebut memang mungkin tidak perlu diselesaikan.
Namun, jika seseorang sedang menghadapi konflik yang membutuhkan pembicaraan, menghindarinya tidak otomatis membuat konflik tersebut hilang.
Konflik yang tidak dibicarakan tetap bisa menjadi konflik.
Kekecewaan yang tidak diakui juga belum tentu hilang.
Bahkan, dalam beberapa situasi, masalah tersebut bisa muncul kembali ketika ada kejadian lain yang menjadi pemicunya.
Karena itu, penting untuk melihat alasan di balik sikap bodo amat.
Apakah seseorang memang sudah berdamai dengan keadaan?
Atau sebenarnya ia belum siap menghadapi masalah tersebut?
Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi memiliki kondisi yang berbeda.
Orang yang sudah berdamai biasanya tetap mampu mengakui apa yang terjadi dan memahami perasaannya. Sementara orang yang menghindar mungkin mengatakan dirinya tidak peduli, tetapi masih terus memikirkan persoalan tersebut.
- Bisa Membuat Emosi Menumpuk
Emosi tidak selalu hilang hanya karena seseorang memilih untuk tidak membicarakannya.
Rasa kecewa, marah, sedih, takut, atau sakit hati merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Masing-masing emosi membawa informasi mengenai apa yang sedang dialami seseorang.
Ketika emosi tersebut terus ditekan, seseorang mungkin merasa sedang baik-baik saja karena tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Namun, jika masalah yang sama berulang, beban emosional dapat semakin berat.
Misalnya, seseorang berkali-kali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Setiap kali terjadi, ia memilih berkata, “Bodo amat.”
Pada satu kejadian mungkin tidak terasa.
Dua atau tiga kali juga mungkin masih bisa diabaikan.
Tetapi jika terus berlangsung, rasa kesal dapat menumpuk.
Pada akhirnya, ledakan emosi mungkin muncul bukan hanya karena satu kejadian terakhir, tetapi karena akumulasi berbagai pengalaman yang sebelumnya tidak pernah diselesaikan.
Karena itu, mengenali emosi sejak awal dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
- Hubungan dengan Pasangan Bisa Ikut Terganggu
Sikap bodo amat yang dilakukan terlalu sering juga dapat memengaruhi hubungan romantis.
Dalam hubungan, komunikasi menjadi salah satu bagian penting. Pasangan tidak selalu bisa mengetahui apa yang sedang dirasakan tanpa diberi tahu.
Ketika seseorang merasa kecewa tetapi mengatakan tidak ada masalah, pasangannya mungkin menganggap semuanya baik-baik saja.
Masalah kemudian tidak mendapatkan kesempatan untuk diselesaikan.
Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang selalu memilih diam saat terjadi konflik.
Diam sesaat untuk menenangkan diri tentu berbeda dengan mendiamkan pasangan tanpa batas waktu.
Mengambil waktu untuk menenangkan emosi bisa menjadi keputusan yang baik. Tetapi setelah keadaan lebih tenang, persoalan tetap perlu dibicarakan jika memang penting.
Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah memiliki konflik.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang bisa terjadi dalam hubungan apa pun.
Yang lebih penting adalah bagaimana kedua pihak menghadapi perbedaan tersebut.
- Orang Lain Bisa Salah Memahami Sikap Kita
Sikap terlalu cuek juga dapat membuat orang lain salah memahami keadaan.
Seseorang mungkin sebenarnya sedang terluka, tetapi memilih menunjukkan sikap biasa saja.
Orang lain kemudian menganggap dirinya tidak terganggu.
Dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun pekerjaan, kondisi seperti ini dapat menimbulkan salah paham.
Misalnya, seseorang merasa keberatan dengan pembagian pekerjaan, tetapi tidak pernah menyampaikannya. Ia selalu mengatakan, “Bodo amat, yang penting selesai.”
Orang lain akhirnya menganggap pembagian tersebut memang tidak menjadi masalah.
Ketika persoalan yang sama kembali terjadi, rasa kesal semakin besar.
Padahal, jika sejak awal disampaikan dengan cara yang baik, persoalan tersebut mungkin bisa diselesaikan lebih mudah.
Karena itu, kemampuan berkomunikasi menjadi penting.
Mengungkapkan perasaan tidak berarti harus marah atau menyalahkan orang lain.
Seseorang dapat menyampaikan keberatan dengan tenang dan jelas.
- Harga Diri Bisa Ikut Terpengaruh
Kebiasaan menekan emosi juga dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Ketika seseorang terus mengabaikan perasaannya, ia bisa terbiasa menganggap kebutuhan emosionalnya tidak penting.
Setiap kali merasa sedih, ia mengatakan dirinya terlalu sensitif.
Setiap kali kecewa, ia menganggap dirinya berlebihan.
Setiap kali merasa tidak dihargai, ia kembali berkata, “Bodo amat.”
Jika berlangsung terus-menerus, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Padahal, mengenali kebutuhan diri bukan berarti menjadi egois.
Mengetahui kapan harus berkata tidak, kapan harus mengambil jarak, dan kapan perlu membicarakan masalah merupakan bagian dari menjaga diri.
- Sikap Bodo Amat Bisa Berubah Menjadi Kebiasaan
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan.
Seseorang mungkin awalnya menggunakan sikap bodo amat hanya pada situasi tertentu.
Namun, jika cara tersebut terus berhasil membuatnya terhindar dari ketidaknyamanan dalam jangka pendek, ia bisa semakin sering menggunakannya.
Saat ada masalah, menghindar terasa lebih mudah daripada menghadapi.
Saat ada konflik, diam terasa lebih nyaman daripada berbicara.
Saat kecewa, berpura-pura tidak peduli terasa lebih sederhana daripada mengakui rasa sakit.
Lama-kelamaan, penghindaran tersebut dapat menjadi pola.
Seseorang bahkan mungkin tidak menyadari bahwa dirinya selalu menggunakan cara yang sama ketika menghadapi persoalan.
Padahal, tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan mengabaikannya.
Bodo Amat yang Sehat Bukan Berarti Mengabaikan Semua Hal
Sikap bodo amat tetap bisa memiliki sisi positif jika digunakan dengan tepat.
Kuncinya adalah kemampuan membedakan antara hal yang perlu dilepaskan dan hal yang perlu dihadapi.
Komentar orang yang tidak dikenal mungkin tidak perlu dipikirkan berhari-hari.
Kesalahan kecil yang sudah diperbaiki mungkin tidak perlu terus disesali.
Namun, konflik dengan orang yang penting dalam kehidupan, masalah yang terus berulang, atau emosi yang mengganggu keseharian sebaiknya tidak selalu disapu dengan kalimat “bodo amat”.
Dengan kata lain, bodo amat dapat menjadi bentuk penyaringan.
Tidak semua hal harus mendapatkan perhatian yang sama.
Energi mental seseorang terbatas. Karena itu, memilih apa yang penting merupakan bagian dari menjaga keseimbangan.
Tetapi memilih tidak peduli harus berbeda dengan melarikan diri dari persoalan.
Cara Membedakan Bodo Amat dan Menghindari Masalah
Ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat digunakan untuk melihat apakah sikap bodo amat yang dilakukan memang membantu atau justru menjadi bentuk penghindaran.
Pertama, tanyakan kepada diri sendiri apakah persoalan tersebut masih mengganggu pikiran.
Jika seseorang mengatakan tidak peduli tetapi terus memikirkan kejadian tersebut setiap malam, mungkin masalahnya belum benar-benar selesai.
Kedua, perhatikan apakah persoalan yang sama terus berulang.
Jika seseorang selalu menghadapi masalah yang sama dan setiap kali memilih mengabaikannya, mungkin sudah waktunya mencari cara lain.
Ketiga, lihat dampaknya terhadap hubungan.
Jika sikap cuek membuat hubungan dengan pasangan, keluarga, atau teman semakin renggang, persoalan tersebut layak diperhatikan.
Keempat, tanyakan apakah seseorang merasa lebih tenang setelah mengabaikan masalah atau justru semakin terbebani.
Sikap bodo amat yang sehat biasanya membuat seseorang bisa melanjutkan hidup tanpa terus dibayangi persoalan tersebut.
Sebaliknya, penghindaran sering kali hanya memberikan rasa lega sementara.
Mengelola Emosi Tidak Berarti Harus Mengungkapkan Semuanya
Mengelola emosi bukan berarti seseorang harus mengatakan semua yang dirasakan kepada semua orang.
Ada perbedaan antara mengakui emosi dan langsung melampiaskannya.
Ketika sedang marah, seseorang tidak harus langsung mengirim pesan panjang kepada orang yang membuatnya kesal.
Mengambil waktu untuk menenangkan diri justru bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Begitu pula ketika sedang kecewa.
Seseorang dapat memberi dirinya waktu untuk memahami apa yang sebenarnya membuatnya kecewa sebelum memutuskan bagaimana harus bertindak.
Yang penting, proses tersebut tidak berhenti pada mengabaikan perasaan.
Setelah emosi lebih tenang, persoalan dapat dilihat dengan lebih jernih.
Jika perlu dibicarakan, bicarakan.
Jika memang tidak penting, lepaskan.
Perbedaan antara keduanya terletak pada kesadaran dalam memilih, bukan sekadar refleks untuk mengatakan “bodo amat”.
Kapan Harus Berhenti Mengatakan Bodo Amat?
Tidak ada aturan pasti mengenai kapan seseorang harus berhenti bersikap cuek.
Namun, ada beberapa tanda yang dapat menjadi bahan pertimbangan.
Jika masalah yang sama terus muncul, hubungan dengan orang lain mulai terganggu, emosi terasa semakin berat, atau seseorang merasa harus terus berpura-pura baik-baik saja, mungkin sudah waktunya menghadapi persoalan tersebut.
Begitu pula jika sikap bodo amat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Tidak semua konflik harus dimenangkan.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Tetapi ada persoalan yang memang perlu diselesaikan agar kehidupan dapat berjalan lebih baik.
Dalam kondisi tertentu, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Jika beban emosional terasa berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan.
Bodo Amat Boleh, Asalkan Tahu Batasnya
Pada dasarnya, bersikap bodo amat bukan sesuatu yang selalu buruk.
Kemampuan untuk tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain dapat membantu seseorang menjaga ketenangan dan mengurangi energi yang terbuang untuk hal-hal tidak penting.
Namun, sikap tersebut perlu memiliki batas.
Masalah muncul ketika “bodo amat” menjadi jawaban untuk semua keadaan.
Ketika sedang kecewa, bodo amat.
Ketika sedang marah, bodo amat.
Ketika hubungan bermasalah, bodo amat.
Ketika seseorang terus menyakiti diri sendiri dengan memendam perasaan, kembali mengatakan bodo amat.
Jika pola seperti ini berlangsung terus-menerus, yang sebenarnya terjadi mungkin bukan ketenangan, melainkan penghindaran.
Karena itu, penting untuk membedakan antara melepaskan dan menghindari.
Melepaskan berarti menyadari bahwa sesuatu memang tidak perlu lagi dibawa dalam pikiran.
Sementara menghindari berarti menjauh dari persoalan karena belum siap menghadapinya.
Keduanya bisa terlihat sama dari luar, tetapi dampaknya berbeda.
Pada akhirnya, seseorang tidak harus memikirkan semua hal. Tidak semua komentar perlu dijawab dan tidak semua persoalan layak menghabiskan energi.
Tetapi beberapa hal memang membutuhkan perhatian.
Emosi perlu dikenali. Konflik tertentu perlu dibicarakan. Hubungan yang penting perlu dirawat. Dan masalah yang terus berulang tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan berpura-pura tidak peduli.
Sikap bodo amat boleh menjadi cara untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak penting. Namun, jangan sampai kalimat tersebut berubah menjadi kebiasaan untuk mengubur semua hal yang terasa tidak nyaman.
Sebab, terlihat cuek bukan selalu berarti seseorang sudah baik-baik saja.
Terkadang, justru dengan mengakui bahwa ada sesuatu yang mengganggu, seseorang bisa mulai memahami dirinya sendiri dan menentukan langkah yang lebih tepat.
Sumber : www.cnnindonesia.com
