Perjuangan Sang Ibu, Kaki Patah Sambil Merawat Anak Tanpa Bola Mata (Foto : Darfan)
MAJALENGKA, Buletinmedia.com – Menjadi seorang ibu tentu bukan perkara mudah. Ada banyak tanggung jawab yang harus dijalani, mulai dari merawat anak, memenuhi kebutuhan keluarga, hingga menghadapi berbagai persoalan yang datang dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi Ressa Fitri Anisa (26), perjuangan tersebut terasa jauh lebih berat.
Warga Blok Dukuh Maja, Desa Weragati, Kecamatan Palaasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, itu harus merawat anaknya yang masih berusia 17 bulan dengan kondisi khusus. Sang buah hati, MZA, lahir tanpa bola mata.
Kondisi tersebut membuat Ressa harus memberikan perhatian lebih kepada anaknya. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, ia terus berusaha memenuhi kebutuhan MZA dan berharap anaknya suatu hari nanti mendapatkan kesempatan untuk melihat.
Perjalanan Ressa dalam merawat MZA juga tidak mudah. Setelah melahirkan, ia mengalami kecelakaan yang membuat kakinya patah. Akibatnya, aktivitas Ressa sebagai ibu rumah tangga menjadi terbatas. Hingga kini, ia masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan.
Di satu sisi, Ressa harus berjuang dengan kondisi kakinya. Di sisi lain, ia harus mendampingi anaknya yang membutuhkan perhatian dan pemeriksaan medis.
Kondisi ekonomi keluarga semakin menambah berat perjuangan tersebut. Suami Ressa bekerja sebagai buruh harian lepas di Bogor dengan penghasilan sekitar Rp300 ribu dalam satu minggu. Penghasilan itu harus digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.
Bagi Ressa, kondisi tersebut membuat biaya pengobatan anak menjadi persoalan yang tidak mudah. Jangankan untuk kebutuhan pengobatan, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja terkadang harus mengandalkan bantuan dari keluarga.
Anak Lahir Tanpa Bola Mata
Ressa menceritakan bahwa MZA sejak lahir sudah mengalami kondisi tersebut. MZA sebenarnya lahir sebagai anak kembar. Namun, saudara kembarnya meninggal dunia beberapa menit setelah dilahirkan.
Sementara itu, MZA tetap bertahan hidup dengan kondisi tanpa bola mata.
Kondisi tersebut menjadi ujian besar bagi Ressa dan keluarganya. Sebagai seorang ibu, ia tentu memiliki harapan agar anaknya dapat tumbuh dan menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.
Namun, kondisi MZA membuat Ressa harus lebih memperhatikan kesehatan dan perkembangan anaknya.
Sejak mengetahui kondisi anaknya, Ressa dan keluarga berusaha mencari jalan untuk mendapatkan penanganan medis. Pemeriksaan pun dilakukan untuk mengetahui kondisi mata MZA secara lebih jelas.
Ressa bersama keluarganya telah membawa MZA ke Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung. Pemeriksaan tersebut telah dilakukan sebanyak dua kali.
Dari pemeriksaan itu, Ressa mendapatkan informasi mengenai kemungkinan penanganan terhadap kondisi anaknya.
Menurut Ressa, dokter menyampaikan bahwa MZA masih memiliki harapan untuk dapat melihat apabila nantinya mendapatkan donor mata.
Kabar tersebut menjadi harapan besar bagi Ressa. Meski saat ini anaknya belum dapat melihat, ia tetap berusaha menjaga harapan tersebut.
Namun, tindakan yang berkaitan dengan donor mata tersebut disebut baru memungkinkan ketika MZA berusia sekitar 5 tahun. Kondisi tubuh MZA saat ini dinilai belum cukup kuat untuk menjalani tindakan tersebut.
Artinya, Ressa masih harus menunggu dan terus merawat anaknya hingga waktunya tiba.
Kaki Patah Setelah Melahirkan
Di tengah perjuangannya merawat MZA, Ressa juga harus menghadapi persoalan kesehatan yang dialaminya sendiri.
Tidak lama setelah melahirkan, Ressa mengalami kecelakaan. Pada Februari lalu, ia terjatuh ketika keluar dari kamar mandi.
Kejadian tersebut menyebabkan kaki Ressa mengalami patah. Kakinya kemudian harus dipasangi pen dan hingga kini ia masih menggunakan tongkat untuk membantu berjalan.
Kondisi itu tentu membuat aktivitas sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga menjadi tidak leluasa.
Pergerakan Ressa menjadi terbatas. Untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah maupun mengurus anak, ia harus menyesuaikan dengan kondisi kakinya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat Ressa berhenti merawat MZA.
Ia tetap berusaha menjalankan perannya sebagai seorang ibu. Ketika anak membutuhkan perhatian, Ressa berusaha memberikan yang terbaik meski dirinya sendiri masih dalam kondisi pemulihan.
Kondisi Ressa menjadi semakin berat karena suaminya harus bekerja jauh dari rumah.
Suaminya bekerja sebagai buruh harian lepas di Bogor. Karena sifat pekerjaannya tidak memberikan penghasilan tetap, pendapatan keluarga pun bergantung pada pekerjaan yang diperoleh.
Dalam satu minggu, penghasilan yang dikirim kepada Ressa rata-rata sekitar Rp300 ribu.
Jumlah tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut membuat Ressa harus benar-benar mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi.
Mengandalkan Bantuan dari Ibu
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, kebutuhan makan sehari-hari keluarga Ressa juga tidak sepenuhnya dapat dipenuhi dari penghasilan suaminya.
Ressa mengaku mengandalkan bantuan dari ibunya untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Bantuan tersebut menjadi sangat berarti bagi Ressa dan keluarganya. Sebab, penghasilan suami yang hanya sekitar Rp300 ribu per minggu harus dibagi untuk berbagai keperluan.
Di sisi lain, MZA membutuhkan perhatian khusus. Pemeriksaan medis juga menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipikirkan.
Ressa mengaku kesulitan ketika harus membiayai pengobatan anaknya. Sebagai ibu, ia tentu ingin memberikan penanganan terbaik untuk MZA.
Namun, kondisi keuangan keluarga menjadi salah satu kendala.
Ressa berharap ada pihak yang bersedia membantu keluarganya, khususnya untuk kebutuhan pengobatan MZA.
Harapan itu bukan semata-mata untuk meringankan kebutuhan keluarga, tetapi juga agar MZA mendapatkan kesempatan memperoleh penanganan yang dibutuhkan.
Dua Kali Memeriksakan MZA ke Bandung
Upaya Ressa untuk mencari penanganan bagi anaknya sudah dilakukan. Ia tidak tinggal diam melihat kondisi MZA.
Bersama keluarga, Ressa membawa MZA untuk menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.
Pemeriksaan tersebut dilakukan sebanyak dua kali.
Bagi Ressa, perjalanan dan pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengetahui kondisi mata anaknya.
Dari informasi yang diterimanya, masih ada harapan bagi MZA untuk dapat melihat jika mendapatkan donor mata.
Kabar tersebut menjadi penyemangat bagi Ressa untuk terus merawat anaknya.
Meski demikian, harapan itu tidak bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Menurut keterangan yang diterima Ressa, tindakan tersebut baru memungkinkan ketika MZA berusia sekitar 5 tahun.
Saat ini, kondisi tubuh MZA dinilai belum cukup kuat untuk menjalani tindakan tersebut.
Karena itu, Ressa harus menunggu sembari terus menjaga dan merawat anaknya.
Setiap hari menjadi bagian dari perjuangan panjang tersebut.
Harapan MZA Bisa Melihat
Sebagai seorang ibu, Ressa memiliki satu harapan besar untuk anaknya, yaitu MZA bisa melihat.
Harapan itu terus ia simpan meski kondisi keluarga saat ini masih serba terbatas.
Ressa ingin suatu hari nanti anaknya mendapatkan donor mata sehingga memiliki kesempatan untuk melihat.
Baginya, kesempatan tersebut sangat berarti.
Ressa pun terus berusaha menjalani hari demi hari sambil merawat MZA. Kondisi kakinya yang masih harus menggunakan tongkat tidak membuat tanggung jawabnya sebagai ibu berkurang.
Ia tetap mendampingi anaknya dan berusaha memenuhi kebutuhan MZA semampunya.
Perjuangan tersebut dijalani dengan dukungan keluarga, terutama ibunya yang membantu kebutuhan makan sehari-hari.
Sementara itu, suami Ressa tetap bekerja sebagai buruh harian lepas di Bogor untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Penghasilan yang tidak tetap membuat kondisi ekonomi keluarga menjadi semakin sulit.
Bingung dengan Data Kesejahteraan
Selain persoalan kesehatan anak dan keterbatasan ekonomi, Ressa juga mengaku bingung dengan status data kesejahteraan keluarganya.
Ia mengetahui dirinya masuk dalam desil 8 setelah melakukan pengecekan melalui telepon seluler.
Informasi tersebut membuat Ressa bertanya-tanya karena kondisi ekonomi keluarganya saat ini tergolong sulit.
Dengan penghasilan suami sekitar Rp300 ribu per minggu, kebutuhan keluarga harus diatur sedemikian rupa.
Terlebih, keluarga juga memiliki kebutuhan untuk pemeriksaan dan pengobatan MZA.
Ressa berharap kondisi keluarganya dapat menjadi perhatian sehingga bisa memperoleh bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Menurut Ressa, bantuan tersebut akan sangat berarti bagi keluarganya, terutama untuk memenuhi kebutuhan MZA.
Ressa Berharap Ada Bantuan untuk Pengobatan Anak
Ressa tidak meminta kehidupan mewah. Harapannya sederhana, yakni anaknya bisa mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Ia juga berharap ada orang-orang yang tergerak untuk membantu keluarganya.
Bagi Ressa, bantuan dari orang lain dapat meringankan beban yang selama ini dipikul bersama keluarga.
Terlebih, dirinya sendiri masih dalam kondisi keterbatasan akibat kaki patah dan harus menggunakan tongkat.
Sementara suaminya harus bekerja jauh di Bogor sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu.
Dalam situasi tersebut, kebutuhan keluarga harus tetap berjalan.
MZA juga masih membutuhkan perhatian dan perawatan.
Ressa berharap ada jalan keluar bagi keluarganya agar kebutuhan pengobatan MZA dapat terpenuhi.
Ia ingin terus mengupayakan pemeriksaan dan penanganan medis bagi anaknya, terlebih setelah mendapat informasi bahwa masih ada kemungkinan MZA dapat melihat melalui donor mata.
Perjuangan Seorang Ibu untuk Anaknya
Kisah Ressa menjadi gambaran bagaimana seorang ibu tetap berusaha bertahan ketika dihadapkan pada berbagai persoalan sekaligus.
Di satu sisi, ia harus menghadapi kondisi fisiknya sendiri setelah mengalami patah kaki. Di sisi lain, ia harus merawat anak berusia 17 bulan yang lahir tanpa bola mata.
Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat perjuangan tersebut semakin berat.
Namun, Ressa tetap berusaha menjalani semuanya.
Ia tidak menyerah pada keadaan. Pemeriksaan ke Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung sudah dilakukan sebanyak dua kali. Harapan mengenai donor mata pun menjadi alasan bagi Ressa untuk terus memperjuangkan kesehatan MZA.
Kini, Ressa hanya berharap ada perhatian dan bantuan bagi keluarganya.
Ia berharap MZA dapat memperoleh penanganan yang diperlukan hingga waktunya tiba untuk mendapatkan tindakan medis yang memungkinkan.
Harapan terbesar Ressa tetap sama: melihat anaknya suatu hari nanti bisa melihat dunia.
Di tengah keterbatasan yang ada, Ressa terus merawat MZA dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dengan kondisi kaki yang masih menggunakan tongkat, ia tetap menjalankan perannya sebagai ibu.
Perjuangan tersebut dilakukan setiap hari, dari memenuhi kebutuhan anak, menjaga MZA, hingga memikirkan biaya pemeriksaan dan pengobatan.
Sementara itu, suaminya tetap berusaha mencari nafkah sebagai buruh harian lepas di Bogor.
Pendapatan sekitar Rp300 ribu per minggu tentu harus dibagi untuk berbagai kebutuhan. Karena itu, dukungan keluarga dan bantuan dari pihak lain sangat diharapkan.
Ressa berharap kisah keluarganya mendapat perhatian sehingga ada jalan bagi MZA untuk memperoleh bantuan pengobatan.
Ia juga berharap status data kesejahteraan keluarganya dapat mendapat perhatian sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Bagi Ressa, bantuan sekecil apa pun akan sangat berarti.
Terutama karena perjuangan merawat MZA masih panjang.
MZA masih berusia 17 bulan. Masih banyak tahapan yang harus dilalui hingga usianya mencapai sekitar 5 tahun, ketika tindakan yang berkaitan dengan donor mata disebut memungkinkan dilakukan.
Selama menunggu waktu tersebut, Ressa akan terus merawat anaknya.
Keterbatasan fisik, kondisi ekonomi, dan jarak dengan tempat suami bekerja tidak membuatnya berhenti berharap.
Ia hanya ingin anaknya memiliki kesempatan untuk mendapatkan penanganan terbaik.
“Jadi memang dari lahir sudah cacat. Tadinya kembar, cuma yang satunya dalam beberapa menit setelah lahir meninggal. Terus yang lainnya lahir dengan kondisi cacat tanpa adanya bola mata. Suami sendiri bekerja sebagai buruh harian lepas yang berpenghasilan hanya Rp300 ribu per minggu. Kita sangat kesulitan untuk biaya pengobatan anak, apalagi untuk kebutuhan keluarga. Kita berharap adanya bantuan dari orang dermawan agar membantu pengobatan anak kami,” ujar Ressa.
Kini, harapan itu masih terus dijaga.
Ressa berharap perjuangannya dalam merawat MZA mendapat perhatian. Ia ingin memastikan anaknya tetap mendapatkan perawatan dan pemeriksaan yang diperlukan.
Di tengah keterbatasan, Ressa memilih untuk terus berusaha.
Sebagai seorang ibu, ia ingin memberikan kesempatan terbaik bagi anaknya.
Harapan untuk melihat MZA suatu hari nanti bisa melihat menjadi kekuatan bagi Ressa untuk menjalani hari-harinya.
Dengan tongkat di tangan dan kondisi ekonomi yang terbatas, Ressa tetap berjuang mendampingi anaknya.
Perjalanan itu masih panjang, tetapi Ressa berharap suatu saat nanti ada jalan keluar bagi keluarganya dan MZA dapat memperoleh kesempatan untuk melihat.
