Potret AI - Video promosi brand minuman keras merek Newport diduga menggunakan tantangan hafalan Surat Ad-Dhuha viral Sumber : Istimewa
Buletinmedia.com – Festival musik The Sounds Project 2026 menjadi sorotan setelah sebuah video dari booth Newport beredar luas di media sosial. Video tersebut memperlihatkan aktivitas pembagian minuman gratis yang disertai tantangan menyetorkan hafalan surat pendek Al-Qur’an kepada pengunjung.
Aktivitas tersebut kemudian memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang mempertanyakan penggunaan simbol dan materi keagamaan dalam kegiatan promosi minuman beralkohol di tengah festival musik.
Peristiwa itu pun berkembang menjadi perbincangan publik karena dianggap menyentuh persoalan sensitivitas agama. Kritik tidak hanya ditujukan kepada brand yang berada di lokasi, tetapi juga menyoroti pengawasan selama festival berlangsung.
Menanggapi polemik tersebut, manajemen Newport akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada Selasa (11/8/2026).
Dalam pernyataan resminya, Newport meminta maaf kepada umat Muslim, tokoh agama, serta masyarakat Indonesia atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang muncul akibat aktivitas di booth mereka.
Manajemen Newport juga memberikan klarifikasi bahwa tantangan hafalan surat pendek Al-Qur’an tersebut bukan bagian dari program promosi yang mereka rancang.
Menurut pihak Newport, aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi acara.
Video Booth Newport di The Sounds Project Viral
Polemik bermula dari beredarnya video yang memperlihatkan suasana di booth Newport dalam gelaran The Sounds Project.
Dalam video tersebut, pengunjung terlihat mengikuti sebuah tantangan yang berkaitan dengan hafalan surat pendek Al-Qur’an. Sebagai imbalannya, peserta mendapatkan minuman gratis.
Potongan video tersebut kemudian menyebar di berbagai platform media sosial.
Sejumlah warganet menilai aktivitas tersebut tidak tepat karena membawa materi keagamaan ke dalam sebuah kegiatan yang berkaitan dengan promosi minuman beralkohol.
Komentar pun bermunculan.
Sebagian besar kritik mempertanyakan bagaimana aktivitas tersebut bisa berlangsung di area festival tanpa segera dihentikan.
Ada pula yang menilai penggunaan hafalan Al-Qur’an sebagai bagian dari tantangan untuk mendapatkan minuman gratis berpotensi menyinggung umat Islam.
Perdebatan semakin ramai setelah video tersebut mendapatkan banyak perhatian di media sosial.
Di tengah berbagai komentar yang muncul, pihak Newport akhirnya memberikan penjelasan mengenai kejadian tersebut.
Newport Sampaikan Permintaan Maaf
Manajemen Newport menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Permintaan maaf tersebut ditujukan kepada umat Muslim, tokoh agama, serta seluruh masyarakat Indonesia.
Pihak brand menyatakan memahami bahwa kejadian tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan dan kegaduhan.
Newport juga menegaskan bahwa aktivitas yang terlihat dalam video bukan merupakan konsep promosi resmi dari perusahaan.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip detikPop, Newport menjelaskan bahwa aktivitas tersebut tidak pernah dirancang maupun diperintahkan oleh manajemen.
“Newport perlu meluruskan bahwa aktivitas tersebut bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh Newport. Aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi,” ungkap pihak Newport.
Klarifikasi tersebut menjadi bagian penting dari respons perusahaan setelah video kegiatan di booth mereka menjadi viral.
Newport Sebut Aktivitas Muncul Secara Spontan
Menurut pihak Newport, tantangan hafalan Al-Qur’an bukanlah bagian dari strategi pemasaran atau promosi resmi.
Manajemen menyebut aktivitas itu muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi.
Namun, Newport mengakui terdapat kelemahan dalam pengawasan selama kegiatan berlangsung.
Situasi di lapangan disebut tidak dapat dikendalikan dengan baik sehingga seorang pengunjung dapat mengambil alih mikrofon yang sebelumnya digunakan oleh pembawa acara atau MC.
Kondisi tersebut kemudian membuat aktivitas yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat dapat berlangsung di booth Newport.
“Kami menyesal adanya kelemahan dalam pengawasan terhadap pengunjung yang bisa mengambil alih mic dari MC di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi,” terang manajemen Newport.
Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya memberikan klarifikasi mengenai asal-usul aktivitas, tetapi juga mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan.
Newport Akui Ada Kelemahan Pengawasan
Festival musik dengan jumlah pengunjung yang besar tentu membutuhkan pengawasan ketat, terutama di area booth sponsor.
Setiap aktivitas yang berlangsung di area publik dapat dengan cepat direkam dan disebarkan melalui media sosial.
Dalam kasus Newport, penggunaan mikrofon oleh pengunjung menjadi salah satu persoalan yang kemudian disoroti.
Menurut manajemen, pengunjung dapat mengambil alih mikrofon dari MC.
Situasi tersebut kemudian membuat aktivitas di booth keluar dari skenario yang telah ditentukan.
Newport menyatakan menyesalkan kondisi tersebut.
Bagi perusahaan, kejadian ini menjadi evaluasi penting mengenai bagaimana pengawasan terhadap pengunjung harus dilakukan secara lebih ketat.
Terlebih, aktivitas yang melibatkan simbol keagamaan memiliki sensitivitas tersendiri di tengah masyarakat Indonesia.
Personel dan Mitra Newport Ditindak
Setelah insiden tersebut menjadi perhatian publik, manajemen Newport mengatakan telah mengambil tindakan terhadap personel dan mitra yang bertugas selama acara berlangsung.
Selain itu, evaluasi internal secara menyeluruh juga dilakukan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui bagaimana aktivitas di luar konsep promosi dapat berlangsung di area booth.
Manajemen menyatakan tidak ingin kejadian serupa kembali terjadi pada kegiatan berikutnya.
Evaluasi juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki standar operasional perusahaan ketika mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak pengunjung.
“Kejadian ini merupakan peringatan keras sekaligus bahan refleksi mendalam bagi kami untuk segera merumuskan standar operasional secara lebih ketat, dengan menempatkan aspek kehormatan terhadap nilai religi, adat istiadat, serta etika kemasyarakatan sebagai landasan,” tegas Newport.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan menganggap polemik tersebut sebagai persoalan serius.
Newport Tegaskan Komitmen Menghormati Nilai Agama
Dalam klarifikasinya, Newport menegaskan bahwa mereka menghormati nilai agama, adat istiadat, budaya, dan etika yang berlaku di Indonesia.
Perusahaan menyadari bahwa aktivitas promosi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat.
Karena itu, kejadian di The Sounds Project disebut menjadi bahan evaluasi mendalam.
Newport juga berkomitmen memperketat standar operasional.
Tujuannya agar setiap kegiatan promosi yang melibatkan masyarakat dapat berlangsung sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku.
Manajemen menyatakan akan memastikan insiden serupa tidak terulang.
“Manajemen Newport berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di masa mendatang,” lanjut pihak perusahaan.
Promotor The Sounds Project Ikut Mengecam
Sebelum Newport menyampaikan permintaan maaf, pihak promotor The Sounds Project juga telah memberikan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut.
Penyelenggara mengaku kecewa dan mengecam keras aktivitas yang terjadi di booth Newport.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun Instagram resmi The Sounds Project, pihak penyelenggara menjelaskan bahwa mereka membutuhkan waktu untuk memastikan fakta yang terjadi di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan agar pernyataan yang diberikan kepada publik tidak didasarkan pada informasi yang belum terverifikasi.
Setelah melakukan penelusuran, promotor kemudian menyampaikan sikap mereka.
Penyelenggara menegaskan bahwa mereka tidak pernah membenarkan aktivitas yang menjadikan agama sebagai bagian dari tantangan maupun promosi produk.
“Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” tegas pihak The Sounds Project.
Pernyataan tersebut menjadi sikap resmi promotor terhadap kejadian yang berlangsung di area festival.
The Sounds Project Sebut Aksi di Booth Newport di Luar Arahan Penyelenggara
Pihak The Sounds Project juga memberikan penegasan bahwa aktivitas tersebut tidak berada dalam arahan maupun persetujuan penyelenggara.
Menurut promotor, tindakan yang terjadi di booth Newport merupakan aktivitas yang berada di luar kendali tim penyelenggara.
“Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara,” lanjut pihak The Sounds Project.
Promotor juga menyatakan tidak akan menoleransi tindakan yang dinilai menyinggung persoalan agama maupun SARA di area acara.
Pernyataan tersebut berlaku bagi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan festival, termasuk sponsor dan mitra kerja sama.
“Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, menoleransi bentuk penistaan agama atau tindakan yang menyinggung SARA oleh pihak mana pun yang beraktivitas di area acara kami, termasuk sponsor dan mitra kerja sama,” tegas penyelenggara.
Kontroversi Muncul di Tengah Festival Musik
The Sounds Project merupakan salah satu festival musik yang menghadirkan berbagai musisi dan hiburan.
Kehadiran berbagai brand sebagai sponsor maupun mitra membuat area festival tidak hanya diisi panggung musik.
Berbagai booth biasanya menjadi bagian dari pengalaman pengunjung selama berada di lokasi acara.
Di area tersebut, pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas yang disiapkan oleh brand.
Namun, setiap aktivitas yang dilakukan di ruang publik tetap memiliki batasan tertentu.
Ketika sebuah aktivitas menyentuh persoalan agama, budaya, atau kelompok tertentu, sensitivitas masyarakat perlu menjadi perhatian.
Hal tersebut menjadi salah satu persoalan yang muncul dalam kasus Newport.
Penggunaan Hafalan Al-Qur’an Jadi Sorotan
Bagian paling banyak mendapatkan perhatian dari video yang beredar adalah penggunaan hafalan surat pendek Al-Qur’an sebagai bagian dari tantangan.
Bagi sebagian masyarakat, ayat atau surat dalam Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sakral dan berkaitan erat dengan ibadah.
Karena itu, ketika hafalan Al-Qur’an ditempatkan sebagai bagian dari sebuah tantangan untuk memperoleh produk tertentu, muncul kekhawatiran mengenai konteks dan kepantasan aktivitas tersebut.
Kritik publik kemudian tidak hanya membahas soal promosi minuman.
Perhatian juga tertuju pada bagaimana simbol agama digunakan dalam kegiatan komersial.
Terlepas dari siapa yang memulai aktivitas tersebut, video yang beredar telah menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Karena itu, pihak Newport memilih menyampaikan permintaan maaf dan melakukan evaluasi internal.
Pentingnya Pengawasan dalam Aktivitas Brand
Insiden ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan yang melakukan promosi di ruang publik.
Kegiatan yang melibatkan pengunjung dalam jumlah besar membutuhkan pengawasan yang memadai.
MC atau pembawa acara menjadi salah satu bagian penting dalam mengatur jalannya aktivitas di booth.
Ketika pengunjung dapat mengambil alih mikrofon, aktivitas yang berlangsung berpotensi keluar dari konsep awal.
Hal itulah yang menurut Newport terjadi dalam insiden di The Sounds Project.
Perusahaan menyebut aktivitas tersebut bukan bagian dari program yang mereka rancang.
Namun, manajemen tetap mengakui bahwa pengawasan terhadap pengunjung menjadi tanggung jawab yang perlu dievaluasi.
Media Sosial Mempercepat Penyebaran Kontroversi
Peristiwa di booth Newport menjadi semakin besar setelah video aktivitas tersebut tersebar di media sosial.
Satu video yang awalnya hanya direkam oleh pengunjung dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas dalam waktu singkat.
Pengguna media sosial kemudian memberikan komentar berdasarkan apa yang mereka lihat dalam video.
Ada yang mengkritik tindakan tersebut, ada yang mempertanyakan tanggung jawab brand, dan ada pula yang menyoroti penyelenggara festival.
Kondisi seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan maupun penyelenggara acara.
Sebuah aktivitas yang berlangsung hanya beberapa menit dapat menjadi isu besar ketika rekamannya menyebar luas.
Brand Perlu Memahami Sensitivitas Masyarakat
Indonesia memiliki masyarakat dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang beragam.
Dalam menjalankan aktivitas promosi, perusahaan perlu memahami lingkungan tempat kegiatan berlangsung.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika kegiatan menggunakan simbol yang memiliki makna kuat bagi kelompok masyarakat tertentu.
Kegiatan promosi tentu bertujuan menarik perhatian.
Namun, kreativitas dalam membuat promosi tetap perlu mempertimbangkan norma sosial dan nilai yang berlaku.
Kasus Newport menjadi contoh bagaimana sebuah aktivitas yang disebut muncul secara spontan dapat berkembang menjadi kontroversi ketika masuk ke ruang publik.
Permintaan Maaf Newport Jadi Respons atas Kritik Publik
Permintaan maaf yang disampaikan Newport menjadi respons resmi perusahaan terhadap polemik tersebut.
Manajemen tidak hanya menyampaikan permintaan maaf, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi.
Mereka menegaskan bahwa tantangan hafalan Al-Qur’an bukan bagian dari program promosi.
Selain itu, perusahaan mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan dan menyatakan telah mengambil tindakan terhadap personel serta mitra yang bertugas.
Evaluasi internal juga dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memulihkan kepercayaan publik.
The Sounds Project Tegaskan Sikap Penyelenggara
Di sisi lain, The Sounds Project juga mengambil sikap tegas.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa mereka tidak pernah memberikan arahan atau persetujuan terhadap aktivitas yang menjadikan agama sebagai bagian dari tantangan promosi.
Promotor juga menyatakan tidak menoleransi tindakan yang menyinggung SARA di area acara.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa pihak penyelenggara ingin memisahkan kejadian tersebut dari konsep utama festival.
Mereka menegaskan bahwa aktivitas tersebut berada di luar arahan dan persetujuan tim penyelenggara.
Polemik Jadi Evaluasi untuk Festival Berikutnya
Insiden di booth Newport kemungkinan akan menjadi bahan evaluasi bagi berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival.
Bukan hanya brand, tetapi juga promotor, vendor, tenaga keamanan, MC, dan seluruh tim yang bertugas di area booth perlu memiliki prosedur yang jelas.
Pengawasan terhadap aktivitas pengunjung juga perlu diperhatikan.
Hal ini terutama berlaku ketika sebuah booth menggunakan mikrofon terbuka atau melibatkan pengunjung secara langsung.
Setiap kegiatan perlu memiliki batas yang jelas sehingga pengunjung tidak dapat mengambil alih aktivitas dan mengubah konsep yang telah ditentukan.
Pentingnya Standar Operasional yang Lebih Ketat
Newport sendiri telah menyatakan akan merumuskan standar operasional yang lebih ketat.
Standar tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi personel dan mitra ketika menjalankan kegiatan promosi di masa mendatang.
Aspek agama, budaya, adat istiadat, serta etika masyarakat menjadi hal yang disebut akan lebih diperhatikan.
Langkah tersebut penting untuk memastikan kegiatan promosi dapat berlangsung dengan baik tanpa menimbulkan persoalan sosial.
Terlebih ketika acara berlangsung di Indonesia yang memiliki keberagaman budaya dan keyakinan.
Polemik Tidak Lepas dari Tanggung Jawab Brand
Meskipun Newport menyatakan bahwa aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung, perusahaan tetap mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan.
Hal tersebut menjadi salah satu bagian penting dari klarifikasi.
Bagi masyarakat, persoalan tidak hanya mengenai siapa yang memulai tantangan.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana aktivitas tersebut dapat berlangsung di area booth dan mengapa tidak segera dihentikan.
Karena itu, evaluasi internal menjadi langkah yang diperlukan.
Perusahaan perlu memastikan bahwa setiap personel yang bertugas memahami batasan aktivitas dan dapat mengambil tindakan ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai.
Menjaga Batas antara Hiburan dan Sensitivitas Agama
Festival musik pada dasarnya merupakan ruang hiburan.
Pengunjung datang untuk menikmati musik, bertemu teman, dan mengikuti berbagai aktivitas yang disediakan penyelenggara maupun sponsor.
Namun, hiburan tetap memiliki batas.
Ketika aktivitas menyentuh ranah agama, diperlukan kehati-hatian lebih tinggi.
Penggunaan materi keagamaan dalam konteks komersial dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda.
Apa yang dianggap sebagai hiburan oleh sebagian orang bisa saja dianggap tidak pantas oleh orang lain.
Karena itu, sensitivitas terhadap nilai agama perlu diperhitungkan ketika sebuah brand menyusun aktivitas di ruang publik.
Pelajaran dari Insiden The Sounds Project
Kasus Newport di The Sounds Project dapat menjadi pelajaran bagi industri event dan pemasaran.
Brand perlu memastikan seluruh aktivitas di booth berada dalam pengawasan.
Promotor juga perlu memastikan setiap sponsor dan mitra memahami aturan yang berlaku di lokasi acara.
Di sisi lain, pengunjung juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap selama berada di ruang publik.
Ketika sebuah aktivitas melibatkan mikrofon atau fasilitas milik brand, pengunjung tidak semestinya mengambil alih tanpa izin.
Kolaborasi antara penyelenggara, sponsor, petugas, dan pengunjung diperlukan agar festival dapat berlangsung aman dan nyaman.
Newport Berkomitmen Agar Kejadian Tidak Terulang
Setelah menyampaikan permintaan maaf, Newport menegaskan komitmen untuk memperbaiki sistem pengawasan.
Manajemen menyebut insiden tersebut sebagai peringatan keras sekaligus bahan refleksi.
Perusahaan juga menyatakan akan memperketat standar operasional.
Hal tersebut diharapkan dapat mencegah kejadian serupa kembali terjadi dalam kegiatan promosi berikutnya.
Bagi sebuah brand, menjaga reputasi bukan hanya tentang bagaimana membuat kampanye yang menarik, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai nilai dan norma yang berlaku.
Penutup
Polemik mengenai booth Newport di The Sounds Project bermula dari video yang memperlihatkan pembagian minuman gratis dengan tantangan hafalan surat pendek Al-Qur’an.
Video tersebut kemudian viral dan memicu kritik dari warganet. Banyak pihak menilai penggunaan materi keagamaan sebagai bagian dari tantangan promosi minuman beralkohol tidak tepat dan dapat menyinggung sensitivitas umat Islam.
Newport kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada umat Muslim, tokoh agama, dan masyarakat Indonesia.
Manajemen Newport menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan program, konsep promosi, maupun challenge yang dirancang perusahaan. Menurut mereka, aktivitas itu muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi.
Meski demikian, Newport mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan. Pengunjung disebut dapat mengambil alih mikrofon dari MC sehingga aktivitas yang tidak sesuai dengan nilai agama, budaya, adat istiadat, dan etika masyarakat dapat berlangsung.
Newport menyatakan telah mengambil tindakan terhadap personel dan mitra yang bertugas serta melakukan evaluasi internal secara menyeluruh.
Sementara itu, pihak The Sounds Project juga mengecam kejadian tersebut. Promotor menegaskan bahwa aktivitas di booth Newport berada di luar arahan, persetujuan, dan kendali mereka.
Penyelenggara juga menyatakan tidak pernah dan tidak akan membenarkan tindakan yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan atau promosi produk. Mereka menegaskan tidak menoleransi tindakan yang menyinggung SARA di area festival, termasuk yang dilakukan oleh sponsor maupun mitra kerja sama.
Pada akhirnya, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas promosi di ruang publik membutuhkan pengawasan yang ketat. Kreativitas dalam membuat kegiatan promosi tetap harus mempertimbangkan norma agama, budaya, adat istiadat, dan etika masyarakat.
Bagi Newport, polemik ini menjadi evaluasi penting untuk memperbaiki standar operasional. Sementara bagi penyelenggara festival, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap aktivitas sponsor dan pengunjung perlu dilakukan secara lebih ketat.
Permintaan maaf dan evaluasi yang dilakukan menjadi langkah awal untuk memastikan kontroversi serupa tidak kembali terjadi pada kegiatan mendatang
Sumber : www.detik.com
