Ilustrasi keracunan (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Anak-anak di SDN Sukoharjo, Jawa Tengah, mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) yang disediakan di sekolah, akibat kesalahan dalam pengelolaan ayam. Sebanyak 40 siswa yang mengonsumsi ayam krispi mengalami gejala mual dan muntah. Menanggapi kejadian tersebut, petugas segera menarik seluruh hidangan ayam dan menggantinya dengan telur rebus, guna mencegah keracunan lebih lanjut. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa keracunan tersebut disebabkan oleh kesalahan saat marinasi ayam, yang menyebabkan ayam tidak dimasak dengan sempurna dan menimbulkan efek samping pada siswa.
Menu makan bergizi gratis tersebut tiba di sekolah pada pukul 09.00 WIB dan terdiri dari nasi putih, ayam tepung, sayur cah wortel tahu, buah naga, dan susu. Beberapa siswa mulai merasakan gejala mual, pusing, hingga muntah setelah menyantap hidangan tersebut. Sekitar 200 siswa menerima makan bergizi tersebut, dan sebanyak 10 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 melaporkan gejala keracunan tersebut. Beberapa dari mereka bahkan mencium bau basi pada ayam tepung yang disajikan, yang menandakan bahwa ayam tersebut tidak dalam kondisi baik untuk dikonsumsi.
Pihak sekolah segera menarik sisa makanan yang ada dan melaporkan kejadian tersebut kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Puskesmas Sukoharjo Kota untuk penanganan lebih lanjut. Kepala Puskesmas Sukoharjo Kota, Kunari Mahanani, mengonfirmasi bahwa ayam yang disajikan memang tidak matang sempurna, seperti yang juga diakui oleh Kodim 0726 Sukoharjo, yang bertanggung jawab dalam pengelolaan SPPG. Meskipun demikian, kondisi para siswa yang mengalami gejala keracunan tersebut tidak memerlukan perawatan lanjutan di rumah sakit. Mereka hanya diberikan obat-obatan untuk meredakan gejala ringan dan sudah mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis dari petugas puskesmas.
Kepala Kantor Komunikasi Presiden (PCO), Hasan Nasbi, mengatakan bahwa insiden ini akan menjadi bahan evaluasi bagi Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tahap penyiapan dan distribusi makanan bergizi gratis. Ia menegaskan bahwa kejadian seperti ini menunjukkan pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap kualitas dan kehigienisan makanan yang diberikan kepada siswa. Ke depannya, BGN diminta untuk memastikan bahwa SOP dalam proses penyiapan MBG harus lebih diperhatikan dan dilaksanakan dengan sangat cermat untuk menghindari kejadian serupa di masa yang akan datang.
Hasan juga mengungkapkan bahwa sekolah memiliki kewajiban untuk melaporkan setiap kejadian yang tidak diinginkan terkait MBG kepada Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) dan Puskesmas setempat, agar dapat segera dilakukan tindakan pencegahan dan perbaikan. Selain itu, ia menekankan bahwa meskipun para siswa yang keracunan sudah mendapatkan penanganan medis dan kondisi mereka membaik, insiden ini tetap menjadi pelajaran penting bagi semua pihak yang terlibat dalam program MBG untuk selalu memastikan bahwa prosedur dalam penyiapan dan distribusi makanan dijalankan dengan benar demi menjaga keselamatan siswa.
Dengan kejadian ini, diharapkan agar lebih banyak perhatian diberikan pada pengelolaan makanan bergizi gratis yang diberikan kepada anak-anak di sekolah, guna mencegah keracunan yang dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan mereka.
