Ilustrasi roti sourdough.(shutterstock.com/belkantus)
Buletinmedia.com – Roti sourdough semakin populer di kalangan masyarakat yang menerapkan pola hidup sehat. Roti dengan tekstur kenyal, aroma khas, dan cita rasa sedikit asam ini kini mudah ditemukan, mulai dari toko roti artisan hingga supermarket. Banyak orang memilih sourdough karena dianggap lebih sehat dibandingkan roti putih biasa. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikannya menu sarapan atau camilan harian sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Namun, apakah anggapan tersebut benar? Benarkah roti sourdough memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan roti biasa? Atau justru manfaatnya tidak jauh berbeda?
Sejumlah ahli gizi menjelaskan bahwa sourdough memang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan roti yang dibuat menggunakan ragi instan. Meski demikian, manfaat tersebut tidak berarti membuat sourdough menjadi makanan yang bisa dikonsumsi tanpa batas. Kandungan nutrisi roti ini tetap bergantung pada bahan baku, proses pembuatan, hingga porsi yang dikonsumsi setiap hari.
Apa Itu Roti Sourdough?
Sourdough merupakan jenis roti yang dibuat melalui proses fermentasi alami menggunakan starter, yaitu campuran tepung dan air yang telah difermentasi.
Starter tersebut mengandung ragi liar serta bakteri baik yang tumbuh secara alami. Berbeda dengan roti biasa yang menggunakan ragi instan agar adonan cepat mengembang, sourdough membutuhkan waktu fermentasi lebih lama, bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan jam.
Selama proses fermentasi berlangsung, mikroorganisme di dalam starter memecah pati dan protein yang terdapat pada tepung. Inilah yang membuat roti sourdough memiliki rasa sedikit asam, tekstur lebih padat, sekaligus aroma yang khas.
Proses fermentasi yang panjang juga menjadi alasan mengapa sourdough sering disebut memiliki karakteristik nutrisi yang berbeda dibandingkan roti biasa.
Mengapa Roti Sourdough Dianggap Lebih Sehat?
Popularitas sourdough tidak lepas dari berbagai penelitian yang menunjukkan adanya sejumlah manfaat kesehatan dari proses fermentasi alami.
Salah satu alasan utama adalah fermentasi dapat membantu memecah sebagian senyawa kompleks dalam tepung sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh.
Selain itu, proses tersebut menghasilkan berbagai perubahan yang membuat kandungan nutrisi tertentu menjadi lebih mudah diserap.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak menjadikan sourdough sebagai makanan “ajaib”. Keunggulannya tetap harus dilihat secara menyeluruh bersama pola makan dan gaya hidup seseorang.
- Lebih Mudah Dicerna oleh Sebagian Orang
Fermentasi yang berlangsung selama berjam-jam membantu mengurai sebagian pati dan protein di dalam tepung.
Akibatnya, sebagian orang merasa lebih nyaman setelah mengonsumsi sourdough dibandingkan roti putih biasa.
Beberapa orang yang mengalami perut mudah kembung setelah makan roti juga mengaku dapat mentoleransi sourdough dengan lebih baik.
Meski demikian, respons setiap orang bisa berbeda. Tidak semua orang akan merasakan manfaat pencernaan yang sama setelah mengonsumsi sourdough.
- Membantu Penyerapan Mineral
Keunggulan lain dari fermentasi alami adalah kemampuannya menurunkan kadar asam fitat.
Asam fitat merupakan senyawa alami yang terdapat pada biji-bijian dan dikenal dapat menghambat penyerapan beberapa mineral penting seperti:
- Zat besi
- Seng
- Magnesium
- Kalsium
Selama proses fermentasi, sebagian asam fitat akan terurai sehingga mineral yang terkandung di dalam tepung berpotensi lebih mudah diserap tubuh.
Inilah salah satu alasan mengapa sourdough sering dikaitkan dengan kualitas nutrisi yang lebih baik dibandingkan roti biasa.
- Indeks Glikemik Lebih Rendah
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa sourdough memiliki indeks glikemik (GI) yang lebih rendah dibandingkan roti putih biasa.
Indeks glikemik merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa cepat makanan meningkatkan kadar gula darah.
Semakin rendah nilai GI suatu makanan, maka kenaikan gula darah biasanya berlangsung lebih lambat.
Bagi sebagian orang, terutama yang sedang menjaga kadar gula darah, kondisi ini menjadi salah satu keuntungan.
Namun perlu dipahami bahwa indeks glikemik sourdough juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
- Jenis tepung yang digunakan.
- Lama proses fermentasi.
- Ukuran porsi.
- Kombinasi makanan saat dikonsumsi.
Karena itu, tidak semua sourdough otomatis memiliki indeks glikemik rendah.
Kandungan Gizi Tetap Bergantung pada Bahan Baku
Banyak orang mengira semua sourdough memiliki kandungan nutrisi yang sama. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Nilai gizi sourdough tetap sangat bergantung pada tepung yang digunakan.
Sourdough berbahan tepung gandum utuh (whole wheat) umumnya mengandung:
- Serat lebih tinggi.
- Vitamin B lebih banyak.
- Mineral lebih lengkap.
- Antioksidan alami yang lebih tinggi.
Sebaliknya, jika dibuat menggunakan tepung putih olahan, kandungan serat dan mikronutriennya tentu lebih rendah.
Oleh karena itu, saat membeli sourdough di toko atau supermarket, penting untuk membaca label komposisi produk terlebih dahulu.
Pilih produk yang menggunakan tepung gandum utuh sebagai bahan utama apabila ingin memperoleh manfaat nutrisi yang lebih optimal.
Apakah Sourdough Bebas Gluten?
Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering beredar adalah anggapan bahwa sourdough merupakan roti bebas gluten.
Faktanya, hal tersebut tidak benar.
Sebagian besar sourdough tetap dibuat menggunakan tepung terigu sehingga masih mengandung gluten.
Fermentasi memang mengurangi sebagian protein gluten, tetapi tidak menghilangkannya sepenuhnya.
Karena itu, sourdough tidak dianjurkan untuk:
- Penderita penyakit celiac.
- Orang yang memiliki alergi gandum.
Bagi individu yang sensitif terhadap gluten tetapi tidak didiagnosis menderita penyakit celiac, toleransi terhadap sourdough dapat berbeda-beda.
Jika memiliki kondisi tersebut, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjadikan sourdough sebagai konsumsi rutin.
Apakah Sourdough Cocok untuk Diet?
Banyak orang memilih sourdough saat menjalani program penurunan berat badan.
Alasannya, teksturnya yang lebih padat membuat seseorang merasa kenyang lebih lama.
Selain itu, jika dibuat dari gandum utuh, kandungan seratnya juga lebih tinggi sehingga dapat membantu mengendalikan nafsu makan.
Meski demikian, sourdough tetap merupakan sumber karbohidrat.
Kalori yang terkandung di dalamnya tetap harus diperhitungkan sebagai bagian dari total kebutuhan energi harian.
Mengonsumsi sourdough secara berlebihan tetap berpotensi menyebabkan kelebihan kalori apabila tidak diimbangi aktivitas fisik.
Cara Menikmati Sourdough yang Lebih Sehat
Agar manfaat sourdough lebih optimal, jangan hanya mengandalkannya sebagai satu-satunya sumber nutrisi.
Padukan roti ini dengan berbagai makanan bergizi lainnya.
Beberapa kombinasi yang direkomendasikan antara lain:
- Telur rebus atau telur mata sapi.
- Dada ayam panggang.
- Ikan salmon.
- Alpukat.
- Selai kacang tanpa tambahan gula.
- Greek yogurt.
- Keju rendah lemak.
- Sayuran segar seperti tomat, selada, atau mentimun.
Kombinasi protein, lemak sehat, serat, dan karbohidrat kompleks akan membuat menu menjadi lebih seimbang sekaligus membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.
Perbedaan Roti Sourdough dan Roti Biasa
Secara umum, berikut beberapa perbedaan utama antara sourdough dan roti biasa:
- Proses Pembuatan
- Sourdough menggunakan fermentasi alami.
- Roti biasa menggunakan ragi instan.
- Lama Fermentasi
- Sourdough membutuhkan waktu fermentasi yang jauh lebih panjang.
- Roti biasa dapat selesai dalam waktu beberapa jam.
- Rasa
- Sourdough memiliki rasa sedikit asam.
- Roti biasa cenderung lebih netral.
- Tekstur
- Sourdough lebih kenyal dan padat.
- Roti biasa lebih lembut dan ringan.
- Penyerapan Nutrisi
- Fermentasi sourdough membantu meningkatkan ketersediaan beberapa mineral.
- Roti biasa tidak mengalami proses fermentasi sepanjang sourdough.
Meski memiliki sejumlah keunggulan, keduanya tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi sesuai kebutuhan.
Tidak Semua Produk Bertuliskan “Sourdough” Benar-Benar Fermentasi Alami
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak semua produk berlabel sourdough dibuat melalui fermentasi tradisional.
Beberapa produsen menambahkan perasa asam atau sedikit starter hanya untuk menghasilkan cita rasa khas sourdough, tetapi tetap menggunakan ragi instan sebagai pengembang utama.
Karena itu, jika ingin mendapatkan manfaat fermentasi alami, pilihlah produk yang mencantumkan penggunaan sourdough starter sebagai bahan utama.
Membeli dari toko roti artisan yang memang menggunakan metode fermentasi tradisional juga bisa menjadi pilihan.
Apakah Roti Sourdough Lebih Baik dari Roti Biasa?
Jawabannya bergantung pada kebutuhan masing-masing orang.
Dari sisi proses pembuatan, sourdough memang menawarkan sejumlah keunggulan. Fermentasi alami membantu mengurangi kadar asam fitat, meningkatkan ketersediaan mineral, serta membuat sebagian orang merasa lebih nyaman saat mencernanya. Pada beberapa produk, indeks glikemiknya juga cenderung lebih rendah dibandingkan roti putih biasa.
Namun, manfaat tersebut tidak berlaku untuk semua jenis sourdough. Kandungan gizinya tetap dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan, terutama jenis tepung, serta cara pengolahannya. Sourdough berbahan tepung gandum utuh tentu memiliki nilai gizi yang lebih baik dibandingkan sourdough dari tepung putih olahan.
Pada akhirnya, memilih roti yang sehat tidak cukup hanya melihat nama produknya. Membaca komposisi, memperhatikan kandungan serat, serta mengonsumsinya dalam porsi yang sesuai tetap menjadi kunci utama. Jika dipadukan dengan pola makan seimbang dan gaya hidup aktif, roti sourdough dapat menjadi salah satu pilihan yang baik untuk melengkapi menu harian.
Sumber : www.kompas.com
