Ilustrasi SPBU di Australia (Foto: Doc. SBS)
Buletinmedia.com – Fenomena panic buying kembali mencuat di Australia setelah beredarnya video viral yang memperlihatkan warga memborong bahan bakar minyak (BBM) menggunakan jeriken. Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap potensi krisis energi yang melanda negara tersebut.
Video yang ramai diperbincangkan di media sosial itu direkam di kawasan Gold Coast. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang pengendara mobil mengisi BBM ke sejumlah jeriken dalam jumlah besar hingga memenuhi bagasi kendaraannya. Aksi ini langsung menarik perhatian publik, terutama karena dilakukan saat isu kelangkaan energi tengah menjadi sorotan.
Rekaman tersebut diambil oleh kreator konten Willem Ungermann, yang dikenal dengan nama Willem Powerfish. Dalam video itu, Ungermann tampak terkejut melihat tindakan pengendara tersebut yang terus mengisi bahan bakar tanpa henti.
“Tidak mungkin, ini keterlaluan. Hei, kamu masih menyisakan untuk saya tidak?” teriak Ungermann dari kejauhan.
Namun, pengendara tersebut tidak memberikan respons dan tetap melanjutkan pengisian BBM ke dalam jeriken yang dibawanya. Aksi itu pun memicu reaksi lanjutan dari perekam video yang mempertanyakan tindakan tersebut.
“Jangan ambil semua BBM-nya. Bagaimana dengan saya? Dia tidak menyisakan apa pun,” ujarnya.
Video tersebut dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu diskusi publik mengenai kondisi pasokan energi di Australia. Banyak warganet yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kepanikan berlebihan, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai langkah antisipatif di tengah ketidakpastian.
Fenomena ini mencerminkan kembali perilaku panic buying yang pernah terjadi di berbagai negara saat menghadapi krisis, termasuk pada masa pandemi. Dalam konteks Australia saat ini, aksi pembelian BBM secara berlebihan dipicu oleh kekhawatiran terhadap ketersediaan energi di masa mendatang.
Meski pemerintah Australia telah berulang kali menyatakan bahwa pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman, kekhawatiran masyarakat tetap meningkat. Ketidakpastian situasi global, ditambah dengan lonjakan harga energi, membuat sebagian warga memilih untuk menyimpan cadangan BBM.
Pengamat dari UNSW Business School menilai bahwa panic buying yang terjadi saat ini lebih didorong oleh persepsi dan ketidakpastian daripada kekurangan pasokan yang nyata. Profesor Nitika Garg menjelaskan bahwa perilaku tersebut muncul sebagai respons terhadap situasi yang tidak jelas.
Menurutnya, masyarakat cenderung mengambil langkah defensif ketika tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi yang sedang terjadi. Dalam situasi seperti ini, tindakan mengamankan kebutuhan menjadi pilihan yang dianggap paling aman.
Ia juga menambahkan bahwa perilaku panic buying dapat menyebar dengan cepat. Ketika seseorang melihat orang lain melakukan pembelian dalam jumlah besar, hal tersebut dapat memicu reaksi berantai di masyarakat.
“Ada rasa takut kehabisan. Ketika melihat orang lain melakukan hal yang sama, orang akan berpikir bahwa itu adalah langkah yang perlu diikuti,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh ekonom UNSW, Timothy Neal. Ia menilai bahwa panic buying bisa dianggap rasional dalam kondisi tertentu, terutama jika masyarakat percaya bahwa orang lain juga akan melakukan hal yang sama.
Menurutnya, bahkan tanpa kepanikan pribadi, perilaku konsumsi orang lain dapat menciptakan efek domino yang berujung pada kelangkaan. Dalam kondisi seperti ini, keputusan individu untuk membeli lebih banyak justru memperparah situasi secara keseluruhan.
Selain faktor psikologis, lonjakan harga BBM juga menjadi pemicu utama meningkatnya pembelian dalam jumlah besar. Di beberapa kota besar seperti Sydney dan Melbourne, harga bahan bakar dilaporkan mendekati 3 dolar Australia per liter dan berpotensi terus naik hingga menyentuh 4 dolar Australia.
Kenaikan harga ini membuat masyarakat berpikir untuk membeli BBM lebih banyak sebelum harga semakin tinggi. Dalam logika ekonomi, tindakan ini dianggap sebagai upaya untuk menghemat pengeluaran di masa depan, meskipun berisiko menimbulkan kelangkaan dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, laporan menyebutkan bahwa lebih dari 500 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Australia mengalami kehabisan setidaknya satu jenis BBM. Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat dan mempercepat terjadinya panic buying.
Pemerintah Australia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membeli bahan bakar sesuai kebutuhan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas distribusi dan mencegah gangguan yang lebih luas.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dijadwalkan menggelar rapat darurat kabinet nasional guna membahas langkah lanjutan dalam menghadapi situasi ini. Beberapa opsi yang tengah dipertimbangkan antara lain penghematan energi melalui program berbagi kendaraan (carpooling), penerapan kerja dari rumah, hingga pemberian diskon transportasi publik.
Namun, hingga saat ini pemerintah belum mengambil langkah pembatasan distribusi BBM. Fokus utama masih pada menjaga ketersediaan pasokan dan memastikan distribusi berjalan lancar.
Di sisi lain, sejumlah pihak dari kalangan oposisi mendesak pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan pembatasan guna mencegah situasi semakin memburuk. Mereka menilai bahwa langkah preventif perlu diambil sebelum panic buying meluas dan menyebabkan krisis yang lebih serius.
Politisi Barnaby Joyce menyatakan bahwa perencanaan yang matang jauh lebih penting dibandingkan reaksi panik yang justru memperkeruh keadaan.
“Perencanaan jauh lebih baik daripada kepanikan. Sementara yang terjadi saat ini justru mengarah ke kepanikan,” ujarnya.
Fenomena viral warga Australia yang memborong BBM menggunakan jeriken ini menjadi gambaran nyata bagaimana persepsi dan ketidakpastian dapat memengaruhi perilaku masyarakat. Dalam situasi seperti ini, keseimbangan antara informasi yang jelas, kebijakan pemerintah, dan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mencegah krisis yang lebih besar.
Jika tidak ditangani dengan baik, panic buying bukan hanya berdampak pada ketersediaan barang, tetapi juga dapat memicu efek domino yang memperburuk kondisi ekonomi dan sosial secara keseluruhan.
Sumber : www.cnnindonesia.com
